Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Moh Makhrus

https://www.facebook.com/moh.makhrus/photos

Mengatasi Seks Bebas Anak SD

REP | 10 August 2013 | 20:16 Dibaca: 1479   Komentar: 14   3

Sangat mencengangkan, setelah kita  membaca hasil penelitian di Suara Merdeka pada tanggal 3 April 2012, perihal sex bebas yang dilakukan anak- anak SD. Dalam penelitian yang dilakukan oleh pengasuh Ponpes At-Tauhid Parakan, Temanggung, salah satu kota kecil Jawa Tengah,  dan sekaligus sebagai wilayah obyek penelitian. Hasilnya sangat bombastis, selain pelajar SD yang mencapai angka 7,5 % telah melakukan sex bebas, yaitu SMP 65 %, dan SMA 80 %. Wouw.

Sebelumnya juga pernah diberitakan, hasil penelitian perilaku sex di luar nikah oleh para pelajar SLTP sampai Perguruan Tinggi. Tapi populasi penelitiannya di kota- kota besar, seperti Jogjakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Medan maupun Makassar dan sejumlah kota besar lainnya di Indonesia.

Parakan adalah kota kecamatan, ada di kabupaten Temanggung, masuk dalam wilayah karesidenan Kedu. Wilayah yang berhawa sejuk, karena ada di dataran tinggi, dan di wilayah itu juga ada 2 pondok pesantren yang cukup besar, cukup berpengaruh di masyarakat, yaitu Ponpes At- Tauhid dan Ponpes Bambu Runcing. Ponpes yang terakhir ini, selain mengajarkan ilmu- ilmu agama, juga mengajarkan ilmu kekanuragaan. Tidak hanya para santri yang menekuni ilmu kanuragan, tapi juga masyarakat di luar Pesantren.

Cukup menggelitik memang, dan nyaris tidak percaya, Parakan yang selama ini merupakan kota kecil yang dikenal sangat “geimenscaft” performa penduduknya. Sangat patuh terhadap kekharismatikan seorang kyai dan pranata- pranata agama. Dengan adanya hasil penelitian tersebut, maka persepsi masyarakat meretas dan tercabik. Tidak lagi sebagai kota yang tentram, guyub, dan relegius, tapi mendadak menjadi kota yang berwajah “metropolis”, temperamental, materialis, hedonis dan menjauhi pranata- pranata agama, yang selama ini mereka pegang erat.

Bumikan Ajaran Agama

Islam merupakan agama yang sangat kaffah, artinya semua lini kehidupan diatur dalam agama tersebut. Sejak dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Dari kehidupan pribadi sampai menyangkut masalah kehidupan publik. Bahkan dari masalah kehidupan anak sampai dewasa. Tapi hal itu semua menurut Gus Dur,  belum membumi.

Tentu saja kalau pranata- pranata tersebut terinstitusionalisasi, maka kehidupan pribadi seseorang maupun masyarakat akan tertata dengan apik, harmonis tanpa adanya centang perenang dalam mengarungi samudra kehidupannya.

Misalkan dalam agama dianjurkan, pada waktu ibu hamil, dari usia kehamilan 3 bulan, 7 bulan, sampai pada menjelang melahirkan adanya anjuran untuk melakukan ritual yang pada substansinya melakukan interaksi baik secara vertikal [pendekatan diri pada Tuhan], maupun menjalin interaksi sesama manusia [bersedekah]. Bahkan selama kehamilan, sang ibu diperintahkan untuk membaca Alqur’an. Surah Yusuf agar supaya jika bayinya nanti laki- laki, bertawasulan biar menyerupai baik fisik maupun nonfisik dengan nabi Yusuf. Membaca surah Maryam, jika bayinya nanti perempuan biar menyerupai kecantikan maupun kesolihannya seperti Maryam.

Pada waktu anak lahir, pihak keluarga [terutama ayah] melafalkan adzan yang didekatkan pada telinga kanan sang bayi dan iqomah pada telinga kiri bayi. Pranata ini dilakukan, sebelum telinga bayi mendengar sesuatu, sudah dilandasi terlebih dahulu oleh nama Tuhan. Secara filosofis, melafalkan adzan dan iqomah ini nantinya sebagai filter dan mampu memilah milah suara yang perlu dipegangi dalam hidup dan yang perlu dibuang jauh.

Pranata Ini menurut penulis sangat krusial, karena kepribadian seseorang itu terkonstruksi dari hasil pendengaran seseorang. Pemahaman segala aspek kehidupan ini juga merupakan hasil akumulasi  dari upaya mendengar berbagai pengetahuan kehidupan. Secara agamis, hal itu juga sebagai penuntun dalam hal bertindak bagi anak itu sendiri.

Anak beranjak usia sampai 4 tahun, dimasukkan dalam lembaga pendidikan “TPQ” [Taman Pendidikan Qur’an]. Lembaga ini nantinya akan mendidik dan mengupayakan anak menjadi mahir dalam membaca huruf arab. Umumnya anak yang belajar di TPQ ini akan pintar mengaji Alqur’an pada usia 9 tahun. Ini tentu saja sebagai modal awal si anak akan terbentengi dari berbagai perilaku deviasi, penyimpangan terhadap berbagai norma kehidupan.

Dalam kurikulumnya, TPQ tidak hanya mengajarkan cara cepat untuk membaca huruf Alqur’an saja. Melainkan juga pembelajaran cara atau tehnik- tehnik solat yang benar. Kebanyakan anak usia 8 tahun banyak yang sudah melaksanakan solat. Hal ini tentu saja, selain membahagiakan kedua orang tua, juga sangat efektif untuk membimbing dan membentengi perilaku anak. Karena dalam lembaga ini juga diajarkan ahlak atau etika, yang mana sangat krusial pula dalam membimbing anak dalam  bersopan santun.

Oleh karena itu perlu adanya kebijakan dari pemerintah, agar supaya lulusan SD harus mampu membaca huruf Alqur’an dengan bukti memiliki sertifikat dari TPQ. Kalau hal itu bisa diwujudkan, kedepan tentu saja secara makro lembaga pendidikan kita tidak hanya menciptakan manusia pinter saja tapi juga “bener”. Bener tidak hanya dari pandangan norma profan, buatan masyarakat, tapi norma transedental, atau agama.

Sehingga secara pasti, masyarakat kita akan tercipta adanya suatu generasi yang Qur’ani, yang nantinya akan bermuara pada terciptanya masyarakat sebagaimana yang menjadi idaman kita semua, yaitu Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghofur. Tatanan masyarakat yang sangat “madani”. Dan terhindar dari lose generation. Semoga.

Drs. Moh. Makhrus

Guru SMA NU 03 Muallimin Weleri, Kendal.

Tags: sex bebas

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Guru: Kunjungan SMA Darul Ulum 2, …

Ony Jamhari | | 29 November 2014 | 07:51

Justru Boy Sadikin-lah yang Pertama Kali …

Daniel H.t. | | 29 November 2014 | 00:12

Saatnya Regenerasi, Semoga PSSI Tak Lagi …

Rizal Marajo | | 28 November 2014 | 23:28

Gara-gara Tidak Punya “Kartu …

Adjat R. Sudradjat | | 28 November 2014 | 18:40

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 3 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangan Tekan Ahok Lagi… …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Orang Besar …

Jonson Sipayung | 9 jam lalu

Lakon Kursi …

Aditya Idris | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa - Cara Baru Meningkatkan …

Ghumi | 9 jam lalu

Tafsir Papua untuk Yansen …

Yusran Darmawan | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: