Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Titin Murtakhamah

Merayakan kehidupan dengan riang gembira

Permainan Dokter-dokteran, Berbahayakah?

HL | 23 May 2013 | 13:48 Dibaca: 2208   Komentar: 28   9

1369304772538491897

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Permainan dokter-dokteran adalah salah satu jenis permainan yang seringkali dilakukan anak-anak antara usia 3 sampai 5 tahun. Permainan ini dilakukan dengan cara salah satu menjadi dokter, yang lain menjadi pasiennya. Lalu dokter akan memeriksa pasiennya dengan membuka pakaiannya dan memeriksa bagian-bagian tubuhnya yang sakit. Persis seperti halnya yang dilakukan oleh dokter beneran.Terkadang, anak-anak baik laki-laki maupun perempuan saling memperlihatkan alat kelaminnnya, menunjukkan perbedaannya dan saling berkeras bahwa dirinya adalah laki-laki atau perempuan. Kakak dan adik yang umurnya tidak berbeda jauh juga sering melakukan ini.

Saat menemukan mereka melakukan itu semua, seringkali kita panik dan berteriak-teriak agar mereka segera menghentikan permainan tersebut. Beberapa dari kita, mungkin juga masih ingat bagaimana orangtua kita berteriak, “Apa yang kamu lakukan?” sambil memukul, mencubit, menakut-nakuti, mengancam atau bahkan menghukum dengan berbagai cara. Sedetik kemudian kita telah dipisahkan dari teman bermain kita, lalu kita menangis tanpa tahu apa kesalahan kita. Kita hanya mendengar orangtua kita berkata, “Nggak boleh main seperti itu. Awas, kalau nanti diulangi lagi, kami akan menghukummu!”. Lalu yang tertinggal dalam ingatan kita hanyalah kita tidak boleh memainkan permainan itu karena nanti orangtua akan menghukum. Anehnya, kita tetap saja memainkan permainan itu dengan sembunyi-sembunyi agar orangtua tidak tahu.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak sebaya, sesama jenis baik laki-laki, perempuan maupun berbeda jenis kelamin, baik antar teman maupun saudara kandung. Permainan ini adalah bagian dari rasa penasaran anak dengan tubuhnya maupun tubuh anak yang lain yang sebaya sehingga mereka mengeksplorasi bagian tubuhnya termasuk alat kelaminnya dengan cara demikian. Bukan hal yang aneh juga jika kakak beradik memainkan permainan ini karena ekplorasi tubuh dengan saudara kandung bukanlah masalah bagi anak. Anak-anak belum mengenal inses dan belum belajar tentang hal-hal tabu. Permainan seperti ini antar saudara kandung dianggap karena anak-anak dalam satu keluarga mudah mengakses satu sama lain. Permainan ini di kalangan anak-anak tergolong permainan yang normal. Menurut beberapa terapis seksual, permainan semacam ini tidak akan membuat seorang anak menjadi pecinta lain jenis atau sesama jenis. Hal ini tidak terbukti mempengaruhi orientasi seksual di kemudian hari (Amy G. Miron, 2006).

Yang perlu diwaspadai adalah jika permainan ini dimainkan oleh anak-anak yang tidak sebaya. Kemungkinan anak-anak yang lebih besar akan lebih tertarik dengan bagian seksnya dan melakukan percobaan-percobaan seksual kepada anak yang lebih kecil. Saat seorang anak mengadukan kepada Anda bahwa temannya memasukkan suatu benda semisal jari atau penis ke dalam lubang di tubuhnya misalnya mulut atau vagina, Anda perlu tenang terlebih dulu. Ajak bicara anak dan minta dia untuk menceritakan apa yang terjadi dan berbicaralah kepada konselor-konselor yang terlatih dalam pendampingan anak korban kekerasan seksual atau bawa ke dokter untuk pemeriksaan medis dan untuk mendapatkan panduan seperti apa yang dapat dilakukan kemudian.

Jika kebetulan mendapati anak-anak kita sedang bermain dokter-dokteran atau rumah-rumahan, rasanya tak perlu bersikap berlebihan. Justru ini adalah saat yang baik untuk mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang mereka lakukan, penanaman nilai-nilai dan pandangan kita. Misalnya, ungkapkan saja pada mereka, “ Wah, siapa nih yang jadi dokter? Dokternya lagi ngapain tuh! Dokter, kenapa baju pasiennya dibuka ya?” atau “Pasiennya lagi sakit apa ya? Pasiennya ada yang mendampingi nggak tuh?Dimana ibu/ayahnya? Waduh, kasihan sekali, tuh sampai meringis kesakitan!”. Nilai-nilai dan pandangan kita dapat diselipkan lewat kata-kata misalnya, “Dokter, periksa pasiennya hati-hati ya, sepertinya pasiennya lebih suka kalau dokter tidak membuka pakaiannya atau menekan terlalu keras bagian-bagian tubuhnya atau memasukkan sesuatu ke dalam lubang-lubang tubuh pasien, misalnya hidung, telinga, pusar atau vaginanya.” Kita juga bisa menyelipkan pesan kepada pasien, misalnya, “ Pasien, kalau dokter tidak hati-hati atau berusaha membuka bajumu atau memasukkan sesuatu ke dalam hidung, mulut, kuping, anus atau vaginamu, kamu bilang saja tidak boleh ya, soalnya itu bisa membuatmu sakit beneran”.

Tetapi tidak dipungkiri, bahwa tidak setiap saat anak-anak kita bermain dalam pengawasan  24 jam. Sehingga akan lebih baik kalau kita menyelipkan pesan-pesan tersebut di antara waktu mandi mereka atau ketika mereka menceritakan apa yang mereka mainkan seharian tadi. Kita bisa mengatakan, “Wah, siapa yang tadi jadi dokter, siapa pasiennya? Trus dokternya ngapain saja tadi?”. Jika kita bertanya dengan santai, biasanya anak-anak pun akan lebih suka menjawabnya bahkan mungkin bercerita panjang lebar tentang permainannya. Disinilah kita bisa berkata, “Menurut adik, siapa yang boleh memegang-megang tubuh kita? Kalau temanmu memegang vagina/penismu boleh nggak ya? Kenapa? Kalau ada yang memaksa memegangnya apa yang akan kamu lakukan?” Ajak anak untuk berdiskusi sambil menanamkan rasa percaya diri mereka, sikap tegas dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Dengan demikian, permainan dokter-dokteran bukan sesuatu yang perlu dicemaskan selagi kita masih bisa mengamati dan memastikan tidak terjadi hal-hal yang tidak semestinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 8 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: