Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Emirza Nur Wicaksono

Fakultas Kedokteran UNISSULA 2010.

Kenapa Sih Mr. P Tidak Bisa “Berdiri” Sempurna?

OPINI | 09 May 2013 | 17:50 Dibaca: 1753   Komentar: 0   0

Keadaan dimana Mr.P tidak bisa berdiri sempurna kita sebut sebagai disfungsi ereksi. Dengan kata lain, ketidakmampuan secara konsisten untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi sedemikian rupa sehingga mencapai aktivitas seksual yang memuaskan saat berhubungan seksual.

Ereksi timbul dikarenakan adanya rangsangan yang berasal dari rangsangan psikologik (fantasi, bayangan erotik), olfaktorik (bau-bauan) dan rangsangan sentuh atau rabaan. Reflek ereksi dapat dibangkitkan oleh sinyal aferen dari ujung saraf sensoris pada glans penis yang dimediasi pada lokasi setinggi medula spinalis. Rangsangan tersebut akan melalui jalur kortiko-talamikus, limbik maupun talamo-retikularis dan sebaliknya kemudian akan diteruskan ke susunan saraf ototnom (parasimpatis) akan menyebabkan vasodilatasi korpus kavernosa penis. Rangasangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menyebar melalui saraf pudendus melalui pleksus sakralis dari medula spinalis untuk membantu rangsangan aksi seksual dalam mengirim sinyal ke medula spinalis dan berfungsi untuk meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari struktur interna. Dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan sekret yang menyebabkan keinginan seksual dengan merangsang kandung kemih dan mukosa uretra.Setelah aktivitas seksual terjadi, saraf simpatis akan membantu terjadinya ejakulasi.  Dari gambaran tersebut dapat disimpulkan bahwa proses ereksi menyangkut berbagai fungsi diantaranya saraf, vascular, hormonal, psikologik dan kimiawi.

Disfungsi ereksi  secara umum dibedakan menjadi impotensia coendi (ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual), impotensia erigendi (tidak mampu ber-ereksi) dan impotensia generandi (tidak mampu menghasilkan keturunan). Sedangkan menurut penyebabnya, Disfungsi ereksi dibagi menjadi karena organik dan karena psikologis. Yang Organik dia bisa terjadi karena penyempitan pembuluh darah penis yang berakibat jaringan penis kekurangan nutrisi darah, operasi daerah rektum, kekakuan pembuluh darah penis, maupun terganggunya impuls ereksi misal karena adanya lesi lobus temporalis diotak akibat trauma atau stroke. Sedangkan yang Psikogenik biasanya yang disebabkan oleh kecemasan, depresi, rasa bersalah, masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam hubungan seksual. Obat-obatan terutama obat antihipertensi ( Reserpin, ß blocker, guanethidin dan metildopa), alkohol, simetidin, antipsikotik, antidepresan, lithium, hipnotik sedatif, dan hormon-hormon seperti estrogen dan progesteron, juga berperan dalam disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi dapat diketahui secara dini, pertama biasanya orang tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang minimal 3 bulan, kedua penis tidak ereksi secara konsisten atau ereksi hanya sesaat.

Untuk pencegahan dari disfungsi ereksi, pertama sering-seringlah datang ke dokter untuk check up untuk mengetahui apakah ada penyakit sistemik atau tidak dan segera diobati kalau ada, kedua obat-obat yang saya sebutkan tadi diatas yang bisa mencetuskan disfungsi ereksi pemakaiannya agar tidak sembarangan dan dikonsultasikan dengan dokter, ketiga tidak sembarang minum obat kuat dan apabila perlu obat kuat konsultasikan ke tenaga medis, keempat jalani gaya hidup sehat bebas stress, kelima cobalah variasi saat hubungan seksual misalnya dengan mencoba beberapa macam teknik foreplay atau pemanasan sebelum berhubungan. Semoga bermanfaat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 2 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 12 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 12 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

UU di Jadikan Pajangan …

Nurma Syaidah | 7 jam lalu

Tetap Semangat Saat Melakukan Perjalanan …

Vikram - | 7 jam lalu

Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, Pedagang Asong di …

Imam Muhayat | 7 jam lalu

Libatkan KPK Strategi Jokowi Tolak Titipan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Aku dan Siswaku …

Triniel Hapsari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: