Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Adie Sachs

I'm Smart and Handsome and Happy and Succesfull… AMIN. #Warning: zoom-in PP dapat membuat anda selengkapnya

Remaja, Jagalah Ke’malu’anmu hingga Waktunya

REP | 02 May 2013 | 01:12 Dibaca: 924   Komentar: 1   2

13674316861024894732

Photo: Wordpress.com

Menyukai seseorang yang tidak mungkin didapatkan, mungkin adalah suatu kesia-siaan.

Akan sangat menyakitkan, walau sekeras apapun usaha yang dilakukan, hasilnya adalah suatu kekecewaan.

Seperti cinta anak puber yang menggebu terhadap seseorang yang baru dikenalnya, ketika masa sekolah atau ketika ia sedang bersemangat mengisi buku hariannya.

Sebutlah ia cinta pertama, sekilas memandang dan dunia seolah penuh warna hanya untuk dirinya dan si dia. Yah… si dia, nama yang mudah diingat ketika kelak ia melanjutkan usianya. Sebab seluruh perhatian kala cinta itu masih berstatus monyet. Saat ia tidak punya waktu memikirkan orang lain selainnya, kecuali mungkin buku pelajaran tebal dengan tugas rumah yang perlu uang fotokopi untuk makan sang guru.

Akan tetapi benarkah ada cinta yang tidak mungkin didapatkan?

Pertanyaan seperti itu di jaman emansipasi ini bukan untuk perempuan, tapi justru untuk lelaki. Sebab kita para laki atau mengaku lelaki, terkadang sanggup memikul sebantal batu kali, tapi tidak sanggup menahan cinta monyet.

Remaja, begitu bahasa sosialnya, sanggup berperang dijalanan (tawuran - red) berhadapan dengan orang yang mungkin tidak pernah bermasalah dengan kita, tapi keteteran ketika bertatap muka dengan si gadis berambut aneh itu…

Perasaan tidak berdaya dihadapan si dia yang membuat lutut kita gemetaran itu adalah hal yang normal, tapi apa yang diketahui seorang remaja jika rasa gemetaran di lututnya menjalar ke bagian lain darinya?

Jadi, mencintai seseorang yang tidak mungkin kita dapatkan bukanlah sebuah kegagalan mendapatkan cinta. Bukan pula karena cinta tidak harus memiliki, sebab kegagala terbesar seorang anak remaja adalah ketika ia tidak sanggup menahan rasa cintanya sampai ia melukai makna cinta itu.

Anda tahu maksud saya?

Cinta menunggu waktu yang tepat untuk saling dimiliki, tidak usa terburu buru untuk mendapatkannya sebab waktu menjalani cinta yang ditolak, cinta yang tidak sepadan, cinta yang tidak berbalas atau cinta yang bak gayung bersambut adalah sensasi cinta yang terindah.

Cinta tidak untuk mereka yang sedang terburu buru…

Suatu hari, seorang teman ketika masih remaja tanggung memberitahuku, sesuatu yang jarang ia lakukan. Jika dilihat dari caranya mengatakan, yang dia lakukan bukanlah sebuah pemberitahuan, melainkan semacam penyesalan atau keputus-asaan.

Ia mengatakan:

“Maafkanlah aku yang berada dalam keadaan dimana seseorang tidak mampu bergabung dalam kehidupan yang sama dengan orang-orang pada umumnya. Bahkan, aku tak sanggup menjadi bagian terkecil saja dari kalian…

Ibarat debu, aku seolah setitik tak terlihat yang memisahkan diri dan terpisah dari debu lain yang mungkin juga tak terlihat.

Aku begitu terasing dan tak sebelah mata pun akan terpandang sebab begitu rendah dan tak layak.

Maafkanlah keadaanku!!!”

====

Aku menyesalinya sebagai pengakuan, ia tidak menamatkan sekolahnya, tidak mendapatkan ijazahnya, tidak mendapat simpati dari para tetangganya. Sebab apa yang dilakukannya bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Karena ia harus mempertanggungjawabkan kelakuannya, di usia yang semuda itu, ia harus dewasa sebelum waktunya. Mencoba menghidupi orang yang katanya ia cintai, tapi tidak bersabar menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkannya.

Mereka memang saling mencintai, tapi apakah mereka mempercayai cinta mereka sehingga harus mempermalukan diri di usia muda mereka yang masih seumur jagung? Apakah mereka tidak mempercayai waktu bahwa hidup masih cukup lama untuk mendapatkan sang pujaan hati?

Semua cita cita yang ia bangun, ia ceritakan kepada sahabatnya sebelum ini, harus terhambat. Ia harus mengurangi keceriaan masa remaja sebab harus menjadi seorang AYAH, dimana teman teman lain masih bersenang senang dengan bahasa gaul yang ringan dan renyah.

Cinta remaja, cinta monyet adakah ia harus bercinta?, jika ia belum bisa menghidupi diri sendiri, maka cinta seperti itu tidaklah lebih beradab dari monyet.

Teman remajaku yang masih ceria, cinta sejatimu saat ini adalah cita citamu. Raihlah itu..

Ada banyak perjalanan yang menyenangkan untuk ditempuh, jelajahilah sebelum kau terikat tanpa jerat…

;

;

=SachsTM=

*) Tulisan ini terinpirasi dari keprihatinan meningkatnya kehamilan usia dini, dan semakin banyaknya teman teman yang menjadi “ayah” ketika mereka masih harus atau belum mengikuti UN.

Juga terinspirasi dari pengalaman sahabat penulis yang saat ini merindukan teman temannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 8 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 9 jam lalu

Jokowi Dorong Gubernur Blusukan Pantau Stok …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Laporkan Diklat Kepelautan yang Melakukan …

Daniel Ferdinand | 9 jam lalu

Bau Apek Hilang dengan Kispray 3 in 1 …

Fadlun Arifin | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: