
PeGiat EDUMEDIART [ Edukasi, Media, Art ] antar institusi.
Dibaca: 712
Komentar: 6
2 dari 3 Kompasianer menilai menarik
.
TIDAK berlebihan bila tetap kupikirkan jalan keluar bagi perempuan-perempuan bermasalah. Tak banyak memang, hanya beberapa saja perempuan yang kusanjung, kuusap, kulaknat, kudamprat, kuladangi, atau kulupakan paksa. Mereka merasakan keganasan kemarau desa, cuaca galau metrokota, meracau sehabis ditinggal keluarga, atau sekedar curhat tentang pekerjaan buruh harian merana.
Seingatku, keluhan dan airmata, karena salah mereka. Mengapa tak hirau pada tuntutan kemanusian, ataukah malas berlatih memahami kepatuhan diri, enggan pedulikan selaku pemegang mandat keperempuanan.
Aku tak berkehendak mengadili perempuan. Belum berhak, kecuali kepada anak perempuan, murid perempuan, perempuan-perempuan yang pernah berhadapan muka denganku dan pernah kuamini doa dalam gelisahnya. Aku tau diri, mengapa mereka perlu kuberi pengertian, mendidiknya penuh cinta-kasih-sayang. Mungkin, aku terlalu berlebihan berharap agar para perawan menjaga kilau surga sendiri-sendiri.
*
Baru saja kusaksikan kisah kecil, perangai seorang lelaki di desa terpencil jauh dari perbatasan kecamatan kota. Tak berdaya. Ia nyaris menjadi pesuruh bagi bini barunya. Kegalakan sang bini berhasil mengerutkan otot lengan, otot kaki, dan otot kelakian. Ia sering curhat ke sesama buruh tani tentang kasih istri pertama. Sejak ditinggal mati, lelaki itu juga merasa kehilangan nyali. Hidup hambar. Untung ada janda muda bersemangat baja yang minta ia kawini. Dalam rumah-tangga yang baru, memang ada perbaikan gizi dan timbunan uang tabungan. Tapi, semua dihaki oleh sang bini. Lelaki itu hanya menuruti apa saja kemauan perempuannya. Pasti ada pemicu yang menggeliat perlahan semenjak dulu sebelum ia melepas keperjakaan dalam impian mendayung bahtera rumah-tangga.
Aku yang masih suka mengakali perempuan, tak bisa menerima kepasrahan model lelaki kusam itu. Dan, bininya mulai suka bicara denganku. Tentang bisnis, anak-anak, dan tetangga usil mereka. Betapa gigih usaha perempuan ini. Sejak usia perawan ia bekerja keras tanpa sekolah tinggi-tinggi. Jika perlu ia lampaui sendiri perjalanan antar kota demi mendapat keuntungan usaha. Sepetak tanah cukup luas bakal ia tebas, dalam beberapa bulan harus lunas pembayarannya. Rumah tampil agak mewah dibanding tetangga sekampung. Semua tamu yang datang harus menemui sang bini. Sementara si suami, biarlah menunggu warung kecil miliknya di pojok desa, hingga larut malam. Kalau perlu tidur pun lesehan di dalam warung.
Suatu saat kukatakan kepada perempuan itu, "Lihatlah lelakimu dalam-dalam dan ciutkan mulutmu yang terlalu menganga di hadapan tetangga." Ini terpaksa kutonjokkan karena ia berkali-kali meminta saran, apa yang harus ia lakukan agar bisa menghadapi gerusan kehidupan. Apa balasnya? "Apa salah aku, koq para tetangga iri dengki selalu?!" Ia mesti menangis, nampak ia lebih suka meluapkan perasaan kesal daripada sudi mendengar maksud kata-kataku.
Bila ada waktu, si lelaki sering kuajak menghela gelak-tawa. Keadaan pun ikut tertawa. Hampir tiga tahun lelaki itu hanya teringat akan "itu" ketika buang air kecil dan beberapa kali ketika mau bersenggama. Aku suka menggoda, "Ah, masak orang kawin koq amat jarang bersenggama ...?" "Betul tuan, aku nggak bohong. Itu pun jika ia minta!" Ia meyakinkanku. Terkadang ia sendiri tak tau bagaimana bersikap riang manakala perlu sejenak melepas desakan martabat. "Tapi aku selalu mencintai istri dan anak-anak tiriku," jawabnya terbata-bata, lalu tergesa ia menyesuaikan diri terhadap suasana gelisah yang kucoba cairkan sejadi-jadinya.
Enak-enak kunikmati secangkir kopi tubruk buatan orang dusun, sebuah suasana sore kala itu jadi buncah. "Pak, kamu itu bagaimana sih, tuli apa, dipanggil-panggil nggak mau datang?! Ini, segera antar ke rumah pak lurah!" Bentak sang bini. "Iya, bu ... saya berangkat ...." Komunikasi macam apa ini? Dasar lelaki selilit lubang gagah perempuan.
.
.
… next edited article
.
.
tags : pemburu kelamin
prev | next