Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Hamil Di Luar Nikah?, Menikahlah.

OPINI | 12 November 2011 | 07:39 Dibaca: 717   Komentar: 21   8

13210838061755946501

Image: Google

Sepasang muda-mudi muncul di ruang periksa dengan senyum malu yang dipaksakan dan gelisah. Si gadis berumur 22 tahun menunduk dan menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangannya. Saya hanya bisa melihat mulutnya yang bergerak ketika menjawab pertanyaanku. Pemuda 29 tahun yang menemaninya masuk, segera beranjak keluar setelah memberitahu bahwa gadis yang bersamanya mengalami telat haid.

Setelah bertanya-tanya dan memeriksakan urine si gadis, maka jelas dua garis merah terang terhias pada test pack. Tidak diragukan lagi si gadis telad haid karena hamil. Dihitung dari haid terakhirnya maka diperkirakan kehamilan sigadis adalah 6 minggu. Sigadis menangis dan menempelkan wajahnya di meja. Ia berteriak lirih ” bang, abang…”.

Si abang jagoan dengan muka bersemu dan deg-degan masuk kembali ke dalam ruangan dan ia tahu kalau tangisan sigadis adalah pasti karena perbuatannya. Lalu pemuda itu menghampiri meja dan berkata ” hamil ya dokter?”.

Saya mengangguk dan memperlihatkan hasil test urin padanya. Dari kantong tasnya ia pun mengeluarkan plastik yang berisi obat tepatnya kulit obatnya saja. Saya menerima kulit obat itu, obat untuk merangsang pembukaan artinya mereka telah mencoba menggugurkan janin itu.

” Obatnya dari mana?”.

” Ada dua macam dokter saya beli dari internet”.

” Dari internet? berapa harganya?”.

” Rp.500.000″ ujar pemuda itu.

Dalam keheningan itu saya tahu mereka pasti mengalami pergolakan amat sangat mengenai kehamilan gadis itu. Apalagi setelah membuang uang Rp.500.000 namun tak ada reaksi apa-apa. Sigadis mengaku ia masih ingin kerja di perusahaan tempatnya bekerja namun di sana tidak memperbolehkan wanita hamil bekerja dan ada kontrak bersedia tidak hamil selama bekerja. Mereka membujuk agar kehamilan itu digugurkan dan mengutarakan berbagai permasalah mereka.

Kompleks sekali, keduanya adalah sama-sama anak bungsu. Pemuda anak bungsu dan hanya memiliki saudara laki-laki satu orang. Gadis itu juga anak bungsu, mempunyai dua orang saudara laki-laki ( dia anak perempuan satu-satunya). Semenjak mereka menjalin hubungan kedua pihak keluarga sama-sama tidak pernah setuju…masalahnya adalah karena perbedaan suku dan keyakinan. Bahkan ibu sipemuda sedang dalam kondisi kurang baik sekarang, sakit kencing manis dan penyakit degeneratif lainnya. Ibu pemuda ini telah beberapa kali ingin menjodohkan anak bungsunya dengan beberapa anak gadis temannya, namun tak ada satupun yang berkenan di hati si pemuda ini. Si gadis begitu menyayangi ayahnya, dan merasakan teramat sulit untuk membuat ayahnya kecewa dan teramat sulit pula untuk menyakiti dan membuat ayahnya setuju apalagi mengingat kalau waktunya singkat (sebentar lagi perutnya akan membuncit dan diketahui banyak orang).

” Lalu kalau tahu begitu kompleks permasalahannya, kenapa kalian terus saja melangkah tapi sekarang ingin menggugurkan anak yang sudah terlanjur ada?”.

” Semua karena siabang bu dokter ” kata ┬ásigadis menudingkan jarinya sambil menangis dan menggigit bibirnya.

Sigadis bercerita bahwa semua karena siabang yang egois, setelah putus kerja takut ditinggalin sang gadis dan melakukan hal di luar batas dan kemudian si gadis hamil. Kehamilan sudah 6 minggu, sugesti positif diberikan, ditambah mengingatkan pada mereka tentang kekuatan cinta diantara keduanya yang dari semula memang sudah ditentang pihak keluarga. Keduanya tampak belum siap, dan sama-sama masih takut untuk menghadapi keluarganya masing-masing.

” Jangan coba-coba membuangnya, di luar sana sangat banyak orang mendambakan anak namun tak kunjung dapat. Berobat ke sana- sini menghabiskan banyak uang bahkan sampai mencoba bayi tabung untuk mendapat buah hati. Jangan pernah melakukan itu…jangan sampai menyesal di kemudian hari. Ketika dicoba dikeluarkan dan ternyata gak berhasil dan gak bersih maka ada resiko perdarahan, infeksi dan macam-macam. Kalau sudah begitu harus dikuret, dan kuret itu sakit…setelah dikuret ada sebagian orang malah gak akan pernah lagi bisa hamil. Apakah sudah siap menerima berbagai resiko seperti itu?”.

“Kalau memang atas dasar cinta yah sekaranglah waktunya membuktikan cinta itu, apalagi usia memang sudah cukup matang. Tak akan ada orang tua yang tega melihat anaknya menderita, walaupun sakit orang tua akan mencoba menerimanya meskipun sulit. Cobalah berbicara dari hati ke hati, jumpailah orang tua gadis ini ke kampungnya kalau kamu benar-benar gentle. Katakan pada orang tuamu bahwa kamu sudah siap dan serius, cari waktu yang paling tepat untuk mengatakannya”.

Hanya sebatas itulah cara saya menolongnya, di samping memberikan asam folat buat dikonsumsi si gadis. Tidak ada beri obat yang lebih canggih, pusing yang dikeluhkan oleh si gadis bisa karena pengaruh kehamilannya dan juga oleh beban pikirannya, obatnya ya menikah (kedengarannya simple)….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 7 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: