Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

T Eva Christine Rindu Mahaganti

Memimpikan Indonesia benar-benar merdeka. Suka menuangkan semua mimpi, harap,kecemasan,keprihatinan dan gagasan dalam tulisan. Percaya bahwa selengkapnya

Pria Lain di Hati Istrinya Itu adalah Ayahnya Sendiri

OPINI | 01 June 2011 | 18:21 Dibaca: 55893   Komentar: 5   2

Ini tentang kisah nyata. Seorang perempuan menulis tentang penderitaannya di sebuah majalah. Ia mengisahkan bahwa ia terlibat cinta segitiga antara dirinya, suaminya dan mertuanya. Hubungan terlarang dan tidak pantas itu sebenarnya tidak ingin dijalaninya, kalau saja ayah mertuanya tidak memaksanya untuk melakukan hubungan itu padanya. Awalnya ia menolak, namun karena ia menemukan apa yang dicarinya selama ini, ia pun terperosok lebih dalam.

Ia baru beberapa bulan menikah dengan suaminya. Karena suaminya anak tunggal dan ayahnya sendirian tinggal di rumah besar itu, maka mereka memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya. Di rumah itu, selama suaminya bekerja, ia tinggal berdua saja dengan ayah mertuanya. Suatu hari ketika ia sedang beres-beres di kamar ayah mertuanya, mertuanya masuk ke kamar itu dan merayunya. Ayah mertua itu memeluknya dan mencumbunya habis-habisan, sekalipun ia sudah berusaha menolak dengan halus. Namun karena ia menemukan sensasi yang berbeda bersama ayah mertuanya dan akhirnya merasakan orgasme, ia menikmatinya dan ketagihan. Beda sekali saat dengan suaminya yang monoton dan tidak tahu cara membangkitkan gairah seksual perempuan. Bersama suaminya ia tidak pernah orgasme. Karena itu ia begitu menikmati hubungan seks dengan ayah mertuanya, bahkan sering menagih ayah mertuanya itu untuk melakukannya.

Hubungan terlarang itu terus saja terjadi. Walau dinikmati secara biologis, namun tetap menimbulkan rasa bersalah yang tiada henti. Ia sendiri menuliskan betapa ia tersiksa, ketika di meja makan harus berhadapan bertiga dengan suaminya dan mertuanya. Setengah mati ia berusaha bersikap biasa saja dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa di depan suaminya. Apa jadinya kalau suaminya sampai tahu bahwa ia berselingkuh dengan ayahnya sendiri? Begitulah dosa itu. Nikmat dilakukan, namun fatal akibatnya. Beruntung hanya menimbulkan perasaan bersalah. Kalau sampai hamil, apa tidak repot dan pusing?

Hubungan perselingkuhan antara mertua dengan menantu ini, ternyata bukan peristiwa yang amat sangat langka terjadi. Saya pernah menonton Reality Show yang menceritakan tentang perselingkuhan mertua perempuan dengan suami. Hanya bedanya, ia akhirnya tahu melalui sikap mamanya yang berlebihan terhadap suaminya. Apalagi ada orang yang memergoki mereka berduaan naik motor dengan mesranya. Dimana moral, etika dan nurani sang ayah dan ibu itu saat meniduri menantu mereka sendiri?

Rumah mertua ternyata bisa menjadi tempat yang paling tidak aman bagi rumah tangga juga. Bukan hanya dari sisi perdamaian dunia saja, namun dari sisi lain juga. Tempat perselingkuhan yang paling aman dengan pasangan yang tidak terduga juga yaitu mertua sendiri. Pasti tidak ada yang menduga, bahwa mertua tega ‘memakan’ menantunya sendiri. Namun dua kisah perselingkuhan itu membuktikan bahwa tidak baik meninggalkan ayah atau ibu yang sedang sendiri dan kesepian, dengan suami atau istri. Kalau suami atau istri tidak menjaga jarak dengan mertua-mertua yang kesepian dan haus belaian itu. Apalagi tidak ada orang lain di rumah itu, selain mereka berdua. Kesempatan untuk jatuh terbuka dengan lebar, saat mereka tidak menutupnya.

Suami istri harus tegas menyikapi tingkah dan pola mertua yang mulai aneh, seperti memandang dengan aneh, liar dan tersenyum dengan genit. Kalau mereka mendekat dan merayu, segera jauhi dan katakan dengan tegas bahwa anda adalah suami atau istri dari anaknya. Apakah ia tega mengkhianati anaknya sendiri? Kalau tidak berhasil juga, segera lari ke kamar dan mengunci diri di sana, sampai suami atau istri pulang. Atau kalau perlu keluar dari rumah sekalian.

Saya yakin, pasti tidak mudah untuk menceritakan tentang godaan mertua kepada suami atau istri. Bisa jadi mereka tidak percaya dan marah. Bukannya mendapat solusi, malah mendapat masalah. Karena itu, sampaikan saja keinginan anda untuk pindah dengan alasan lain yang lebih masuk akal. Kalau suami atau istri keberatan, sekali-kali rekam perbuatan mertua melalui handphone. Setelah mendapatkan cukup bukti, sampaikan alasan anda yang sebenarnya, bahwa perbuatan orang tuanyalah yang membuat anda tidak betah. Saya yakin suami atau istri pasti akan langsung menyetujui permintaan anda.

Selain itu, kalau anda merasa tidak puas dengan kehidupan seks yang anda berdua jalani, mengapa tidak terbuka saja? Mengapa harus takut dan malu untuk mengatakannya? Bukankah seks itu diciptakan untuk memuaskan kebutuhkan kedua belah pihak? Jadi sampaikan saja dengan jelas, terbuka dan dalam suasana yang lebih rileks, apa yang anda inginkan. Bukankah terbuka jauh lebih baik daripada memendamnya? Daripada jadi jerawat, mending terbuka sajalah. (Eva)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

Siswa Korea Tertarik “Sambal” Indonesia …

Ony Jamhari | | 02 October 2014 | 09:39

Belajar Mandiri dari Pola Didik Orangtua di …

Weedy Koshino | | 02 October 2014 | 09:53

Obat Galau Jurusan Kuliah …

Bening Tirta Muhamm... | | 02 October 2014 | 09:54

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 2 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 3 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: