Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Ajinatha

Kaum Proletar buruh para Kapitalis yang kebetulan saja hobby menulis..

Dengan Sex, Akhiri Perang Dingin

OPINI | 31 May 2011 | 06:21 Dibaca: 881   Komentar: 14   3

Hidup serumah dengan status suami istri tapi seringkali bisa tidak bertegur sapa, inilah yang dikatakan “Perang Dingin.” Sehingga kehidupan rumah tangga menjadi begitu tidak nyaman, begini salah begitupun salah. Banyak penyebabnya hal ini bisa terjadi, bisa karena salah faham, karena faktor cemburu dan juga karena kurang perhatian dan sex.

Ketika persoalan perhatian berkuarang, maka bisa menimbulkan kesalah fahaman, yang satu mencurigai yang lainnya dengan menganggap sudah ada pasangan lain, kalau sudah begini akan menurunkan hasrat sexual. Dengan demikian perang dinginpun semakin memanas, bisa-bisa perang mulutpun terjadi. Kalau sudah begini maka suasana rumah tanggapun semakin runyam.

Adakalanya perang dingin ini disebabkan kurangnya komunikasi, ini bisa jadi karena kesibukan kerja dan beban perkerjaan. Sehingga menjadi beban pemikiran, salah satu pasangan kurang memahami hal ini karena kurangnya komunikasi. Kalau suami lebih sibuk dari istri, maka tuntuntan perhatian cenderung datang dari istri, tapi karena istri tidak ingin mengkomunikasikannya, maka inilah pemicu terjadinya perang dingin.

Perhatian ini juga biasanya disertai dengan kebutuhan seksual, suami yang terlalu sibuk cenderung mengabaikan hal ini. Sebetulnya bisa saja bukanlah sebuah kesengajaan, tapi kadang kala difahami secara salah oleh sang istri, yang pada akhirnya membuahkan kecurigaan. Pada kenyataan lain bisa saja kecurigaan ini sangat beralasan, karena memang tidak semua laki-laki tidak memiliki keisengan dengan perempuan lain.

Yang sudah-sudah, cara yang paling efektif untuk menyelesaikan perang dingin seperti tersebut diatas adalah sex, menuntaskannya dengan berhuhubungan seksual. Sebagai kepala rumah tangga cukup bijaksana kalau suami mau mengambil inisiatif untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu, karena perempuan biasanya cenderung menunggu dalam kondisi yang seperti itu. Kalau sudah dapat lampu hijau dari istri maka perang yang panas itu bisa dimulai, demi mengakhiri perang dingin.

Demikianlah pengalaman yang bisa saya bagi, bagaimana dengan Anda dalam menyelesaikan Perang Dingin seperti diatas?

Jakarta, 31 Mei 2011

Salam Kompasiana-Salam berbagi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 4 jam lalu

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazerâ„¢ | 11 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 12 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: