Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

T Eva Christine Rindu Mahaganti

Memimpikan Indonesia benar-benar merdeka. Suka menuangkan semua mimpi, harap,kecemasan,keprihatinan dan gagasan dalam tulisan. Percaya bahwa selengkapnya

Mengukur Keperjakaan Seorang Laki-laki Itu Tidak Sulit Kok!

OPINI | 15 May 2011 | 03:55 Dibaca: 9998   Komentar: 13   3

Seorang teman saya yang mantan polisi, bercerita bahwa untuk masuk akademi kepolisian, ia dan teman-temannya harus menjalani serangkaian tes untuk memastikan bahwa mereka layak untuk diterima belajar di sana. Salah satu tesnya adalah tes keperawanan dan keperjakaan.

Saya yang saat itu masih lugu-lugunya tentu saja heran. Setahu saya, mengetahui keperawanan seorang perempuan itu mudah, karena memang banyak literaturnya. Namun mengetahui perjaka atau tidaknya seorang laki-laki, bagaimana caranya? Menurut teman saya, dokter hanya memegang alat kelaminnya dan memastikan bahwa ia masih perjaka. Saya bengong. Sesimpel itukah?

Akhirnya saya tahu bagaimana membedakan seorang laki-laki yang masih perjaka dengan yang tidak. Caranya adalah saat malam pertama, ia tidak tampak lihai saat melakukannya. Masih kaku dan kikuk melakukannya. Yang kedua dan yang paling menentukan bahwa seorang laki-laki itu benar-benar perjaka adalah bukan pada lututnya, yang katanya kopong. Itu mitos. Yang benar adalah apakah alat kelamin laki-laki itu halus atau tidak. Laki-laki yang sering melakukan seks, maka kulit pada alat kelaminnya akan terasa halus. Sangat halus malah.

Jadi siapa bilang bahwa keperjakaan seorang laki-laki itu tidak bisa diukur. Mudah sekali caranya. Hanya mungkin, mengungkapkannya masih dianggap sebagai hal yang tabu. Dari segi keadilan jender, jelas minimnya literatur tentang menguji keperjakaan laki-laki yang minim, dibandingkan dengan tulisan tentang keperawanan perempuan, sangat tidak adil. Semua orang tahu bahwa ukuran perawan atau tidaknya seorang perempuan adalah dari selaput dara, sedangkan untuk laki-laki, tidak ada informasi yang jelas seperti membongkar ketidakperawanan perempuan. Apalagi ada usulan melakukan tes keperawanan terhadap siswi di sekolah untuk mengetahui moral siswinya.

Saya bingung, heran dan geleng-geleng kepala ketika ide itu bisa lahir dari kepala seorang pejabat negara. Apa maksudnya? Mengapa pula hanya perempuannya saja? Memangnya perempuan bisa tidak perawan sendirian? Bukankah laki-laki yang menyebabkan mereka jadi kehilangan keperawanan? Kalau perempuan dites, laki-lakinya terlebih lagi dong! Tetapi apa gunanya ya? Apakah tes itu efektif untuk meningkatkan prestasi siswa atau malah mempermalukan mereka? (Eva)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: