
Menulis itu lebih dari sekedar menyenangkan, karena juga mendorong keinginan membaca. Cara yang paling konvensional adalah menulis yang benar benar kita ketahui, tetapi menulis untuk sesuatu yang tidak seluruhnya kita ketahui juga bisa menjadi asyik, karena segera mengetahui dari pembaca kita, betapa bodoh dan dangkalnya kita dan ahirnya mendorong untuk lebih tahu. Saya menyenangi perjalanan jauh, olah raga, fotografi, nanam sayur dan mendorong kiat hidup sehat.
Dibaca: 710
Komentar: 25
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
Tulisan ini adalah pesanan dari Rosiy, teman kita kompasianer yang lagi pulang kampoeng dari negeri Kiwi sono. Untuk menyambut kedatangan sang perantau ini, maka dua perjaka tingtong Bung Roy dan saya dengan sangat terpaksa menyerahkan diri kepada nonya yang satu ini. Pasalnya dia sangat kesengsem dengan Bung Roy dan menyimpan “dendam rindu” pada saya….
Bung Roy [yang bukan Marthen..] ini sudah lama tidak kelihatan kelebatnya, juga ndak nulis lagi. Bung Roy kemana saja?? Saya kirim pesan berkali kali di profilenya dan sama sekali ndak berbalas. Ternyata Bung Roy sedang tapa brata, mules melihat dunia persilatan Kompasiana. Dia tidak tega melihat silang sikut, sumpah serapah, gossip gocap yang berkelebat dihampir semua artikel dan katanya sampai luber dilanjutkan di facebook, sms dan twitter. Amboy…. ngeri nian, sebegitu nya kah?? Saya ndak pernah tahu yang ginian karena membatasi diri di sudut saya saja.
Yang dia juga paling pegel katanya adalah melihat corner saya di “kesehatan”. Apa pasal nih Bung Roy… kata saya? Hampir separuhnya berbau Sex…… Saya ndak ngerti deh, barang sekecil gitu dibahas dan dikupas seperti bawang Bombay, dari bawang yang sebesar Bombay, kalau diomongin dan dikupas terus, lama lama menjadi bawang Brebes…… Ahh… Bung Roy, jangan nyindir gua dong Roy…. Gua masa’ bawang Brebes? Gua masih bisa pedes lho. Setelah saya cek, fitnah dari Bung Roy ternyata benar juga. Dari jumlah judul sebenarnya hanya 10% yang berbau sex tadi, tetapi dari jumlah klik, dia hampir 30% lho.
Kalau diperhatikan, memang kalau anda menulis dengan judul yang menyerempet soal sex, dan ndak perlu dengan judul diseram seramkan kan [malah ada yang menulis soal penyakit kelamin], maka argo baca anda minimal melebihi 100 kliks dan rata2 200 kliks. Ini merupakan obat manjur untuk ego anda bahwa anda telah berhasil membuat tulisan [sex] yang laris dibaca orang. Profil pembacanya saya kurang tahu dan tidak bisa tau, sebab bisa saja pembacanya kebanyakan yang sekedar iseng ngisi waktu dikantor atau takut ketinggalan berita tentang trik sex yang lagi fashion… hohoho. Dengan populernya topik ini di Kompasiana, tidak jarang beberapa artikel yang baik dan serius diberi judul yang nyerempet Sex, hanya agar para pembaca mampir di lapak tadi. Saya hampir berani tarohan bahwa artikel ini juga dalam seminggu akan melewati angka 100, walaupun artikel ini tidak ada opo opo ne, malah termasuk rodo rodo sontoloyo.
Si Rosiy Kiwi ikut angotan [karena saya panas2 in…]. Iya tuh… nggak ngerti apa maunya, semua ingin terlihat jadi ahli sexology katanya.
Bung Omri…. Tulis dong juga mengenai Sex, begitu perintah neng Rosiy. Tapi yang berbobot dong, biar orang tau bagaimana seharusnya tulisan sex itu harus dibuat, begitulah perintah lanjutannya. Lha, neng… aku itu ndak pernah nulis sex, ngelakuin aja udah jarang [Roy manggut manggut… dan kelihatan ikut prihatin kasihan ke saya]. Tapi nanti ta’ cari wangsit dulu deh…. Apa pergi ngedugem atau baca Trubus dulu nyari ilham [apa hubungannya dengan Trubus ya….]. Apakah menulis mengenai Aids atau cervical cancer sudah termasuk Sex? Tanya saya minta keringanan… Nggak bisa, itu mah urusan sakit penyakit, kudis and borok. Mesti pure sex, sex and sex… Busyet deh, modar gua…. [Roy pura pura sibuk, tapi ndak mau sumbang ide….. ]. Baru kali ini saya dapat orderan nulis yang rudet dan bikin pusing kepala. Mungkin lebih baik disuruh bikin thesis untuk dokter spesialis deh, lebih jelas urusannya, karena hanya perlu mengumpulin seratus kata bahasa latin dan setelah dicampur 500 kata Indonesia dan 200 kata Inggris, langsung deh jadi thesis untuk dokter spesialis khusus ginjal sebelah kiri. Tapi yang ini memang benar sulit dan saya terpaksa memberi apresiasi besar kepada para penulis urusan sex di jagad ini. Ndak gampang lho ternyata.
Kenapa sih Sex masih merupakan topik yang “digemari” untuk dibaca? Begitu pertanyaannya.
Ternyata jawabnya adalah anda akan mendapatkan stimulasi yang nyaman dari zat endorphin yang terjadi akibat kegiatan ini, sama halnya bila anda melakukan olahraga, bercinta, memakan bumbu yang keras atau juga mengonsumsi narkotik tertentu……. Wow…….. Kalau begitu perlu dong.. begitu komentar anda… Wah, gua nggak comment deh.
Jadi kalau kita memang merasa perlu untuk mendapatkan stimulasi ini maka kita perlu menganjurkan agar lapak Sex di Kompasiana diperluas untuk dapat menampung pernak pernik Sex ini. Perlu ada sub-section yang lebih terinci untuk ini. Diantaranya adalah “Trik baru didalam bercinta” yang mengulas gaya posisi mulai dari Kamasutra, Kamanosayang dan KamaRmandi; “Alat2 pembantu, Obat dan Ramuan Cinta”, yang berisi artikel alat2 bantu mulai dari zaman Mesir hingga new Bronx, mulai dari bubuk kuda laut hingga ludah pinguin; section “Terapi sex” yang secara tuntas mengulas mulai dari Mak Erot hingga Pak Jenggot; “Photos” yang menayangkan mulai dari yang glamour, fine-art, nudes hingga sex aerobic poses dan tak lupa tentunya “Sex Jokes” untuk orang orang seperti saya yang senang ngomongin tetapi tak kuasa lagi berbuat…………. Tentunya anda masih dapat menambah new section untuk blog kita, hingga lengkaplah seluruhnya tidak kurang dari 12 section khusus untuk Sex sex and sex.
Selamat mengusulkan kepada Bung Admin kita.
Rosiy…. Ternyata beta tak sanggup menuliskannya……. [Selamat liburan..]