Back to Kompasiana
Artikel

Seksologi

Maman A Rahman

Lahir di Subang. Belajar Filsafat dan Mistisisme di IAIN Jakarta dan Mengkaji Islam dan Psikologi selengkapnya

Darah Malam Pertama

OPINI | 22 October 2010 | 23:00 via Mobile Web Dibaca: 1210   Komentar: 10   1

Malam pertama, malam sejuta cerita. Demikian kalau boleh saya melukiskan. Setiap orang yang pernah menikah mempunyai berbagai cerita tentang malam pertamanya. Dari yang “sukses” maupun yang membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk memperoleh kenikmatan bersama.

Salah satu cerita malam pertama yang sering kita dengar adalah cerita tentang “darah perawan”. Ada pasangan yang menjumpai darah di malam pertamanya. Ada pula yang tidak menemukan setetes darah pun di seprainya.

Sikap masing-masing orang pun beragam dalam menyikapi darah malam pertama. Sebagian orang berpendapat bahwa darah malam pertama adalah sebagai sebuah tanda keperawanan seorang perempuan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa adanya darah yang menetes pada malam pertama bukan menjadi salah satu pertanda perawan atau tidaknya seorang perempuan.

Bagi kelompok pertama yang berpandangan bahwa keperawanan ditandai dengan keluarnya darah di malam pertama akan mencurigai pasangan atau istrinya telah berhubungan dengan lelaki lain sebelum dengan dirinya. Keperawanan diyakininya sebagai sesuatu “kesucian perempuan”. Tidak jarang kelompok yang mempunyai pandanga ini akan mempersoalkan tidak adanya darah yang keluar dari seorang perempuan pada malam pertamanya.

Sedangkan bagi kelompok yang kedua yang tidak mempersoalkan ada tidaknya darah pada malam pertama, mereka tidak memperdulikan ada atau tidaknya darah yang keluar dari pasangannya. Mereka berpendaat, pertama, keluarnya darah pada malam pertama pasangan pengantin baru bisa terjadi, bisa juga tidak. Karena hal ini bisa terjadi karena selaput dara itu begitu tipis sehingga bisa jadi sudah sobek sejak kecil karena naik sepeda, jatuh atau karena hal lainnya.

Kedua, Keperawanan seorang perempuan bukan segalanya. Meskipun demikian kelompok ini setuju bahwa setiap orang harus menjaga kehormatan dirinya. Tidak hanya perempuan tetapi juga para lelaki. Kualitas seseorang, perempuan maupun laki-laki tidak hanya dilihat dari sisi sesksualitasnya saja tetapi dilihat dari sisi kemanusiaan secara keseluruhan, yang mempunyai kepribadian yang sangat komplek.

Ketiga, mitos keperawanan yang dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang “luar biasa” disikapi dengan sesuatu yang “wajar” dan setara antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki menuntut keperawanan seorang perempuan. Perempuan juga bisa menuntut keperjakaan seorang laki-laki. Memang kalau ukuranya pisik seperti perempuan dengan masih utuhnya selaput dara. Sedangkan keperjakaan lelaki akan sulit untuk mengukurnya .

Karena ukuran pisik seperti di atas tidak bisa menandai ukuran yang setara antara perempuan dan laki-laki maka sesungguhnya kita membutuhkan satu ukuran yang setara untuk melihat “keperawanan” atau “keperjakaan” seseorang.

Mungkin yang perlu dipentingkan dalam menjalin hubungan perempuan dan lelaki adalah perasaan cinta yang tulus yang masing-masing pribadi berhasrat untuk memberi tanpa harap menerima dan memberikan kepercayaan kepada pasangan masing-masing. Dengan demikian, mereka telah menjadi perawan dan perjaka pada malam pertamanya tanpa memperdulikan adanya darah atau tidak. Wassalam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 10 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 8 jam lalu

Kuliner Vietnam Kala Itu… …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: