Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Ari Aeco

Seorang istri, ibu dan pekerja full time. Seorang blogger yang baru belajar http://ari-ira.blogspot.com selengkapnya

Sayangi Jantungmu

OPINI | 22 January 2014 | 09:29 Dibaca: 48   Komentar: 4   0

Jogja,24 Desember 2013

kutuliskan ini untuk mengingatkanku akan kebesaran-MU

Kumulai dengan tatapan mata sayu yang dulu itu dipenuhi binar-binar kebahagiaan. Tidak pernah kutemui semuram dan selayu itu. Ada apa gerangan yang membuat manusia ini terlihat jauh dari senyuman, yang dulu sering ditebarkan ketika didepan rumah.

3 hari yang lalu sebelum akhirnya engkau harus tidur dengan infus dipasang di bagian tubuhmu. Waktu itu engkau bilang bahwa dada itu terasa nyeri dan panas. Engkau merasa tidak nyaman dan cepat lelah, engkau meminta tangan wanita itu untuk mengurut bagian perut dan dadamu. 3 hari yang lalu aku masih melihat engkau dengan sediki dan sedikit senyuman.

Namun saat itu tiba, 24 januari 2013 saat aku dan keluarga akan menikmati liburan. Akhirnya kami menyusulmu di tempat tidur yang bisa didorong kapanpun jika diperlukan. Engkau tergolek dan hanya terdiam, engkau hanya menggeleng dan terpejam. Saat semua harus kuurus untuk meminta tanda tangan dikertas yang penuh dengan tulisan (yang aku sendiri tidak paham seluruh isinya), yang aku tau hanya “aku harus tanda tangan segera”.

Kami disampingmu, memegang tangan dan terus berdzikir, bermunajat kepada sang Khalik. Seketika aku melihat perutmu tidak kembang-kempis, dan engkau terdiam, kulihat bola matamu yang berwarna abu2 itu menghilang keatas dan hampir menjadi putih, nafasmu berbunyi “kerrrr,,kerrrr”. Ya ALLAH aku langsung berlari untuk meminta bantuan paramedis. Nadimu menghilang, nafasmu sepertinya sudah tidak mampu lagi.

ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR,

Semua bertindak cepat, semua mengambil posisi masing2, kami hanya bisa berdoa dan menahan air mata untuk tidak teriak. Hatiku sudah hampir habis, haruskah hanya sampai di tanggal 24 Desember 2013 ini aku selesai mengabdi kepadamu? Tidak, tolong RABB-ku ,,, aku masih ingin mencium tangan dan pipinya setiap aku berkunjung, aku masih ingin memotong kuku2nya, aku masih ingin membelikan susu, roti dan buah2an kesukaannya. Wahai Pemilik jiwa2 kami, berikan umur yang panjang dan barokah untuknya, agar kami bisa bersendagurau lagi dengannya, agar anak kami bisa bermain lagi bersamanya.

15 menit itu berlangsung dengan dentuman keras di dada ku,, engkau ,, engkau,, engkau,,ALhamdulillah,, ya RABB masih memberikan umur yang panjang untuk bapak kami. Bapak kembali bernafas, bapak kami kembali dengan nada batuknya,, ALLAHUAKBAR .. Maha besar engkau ya ALLAH…

Sungguh mukjizat dan kebesaran ALLAH yang luar biasa, nikmatKU manakah yang engkau dustakan?

Segera setelah bapak melewati koma nya, penindakan dilakukan yaitu memasang ring. Aku tidak tau menahu tentang proses itu. Menurut cerita dari kakak2-ku yang menunggu prosesnya, seperti ada kamera kecil yang masuk kedalam organ tubuh yang bernama Jantung, untuk melihat sumbatan2 yang ada didalam jantung bapak. Waktu menunggu yang cukup lama untuk menuju penanganan ini. Alhamdulillah berjalan dengan lancara dan baik.

Ya ALLAH mudahkanlah para dokter untuk menganalisa dan menangani bapak dengan benar dan tepat.

Bapak yang berusia 75tahun, sudah sangat diberi 15 tahun bonus umur dari sang Pencipta. Perjuangan tidak hanya berhenti sampai disini, setelah proses pemasangan selesai maka bapak dipindahkan di ICCU. Pertama pemasangan kateter (semacam selang yang dimasukkan ke kandung kemih, yang membuat air seni langsung tersalur ke plastik pembuangan), dan hasilnya bapak merasa kesakitan ketika mau buang air kecil. Kami tak tega melihat perihnya yang tergambar dari rautan wajah usia 75tahun itu, mau tak mau kami harus tegar dan memberikan dorongan untuk selalu bersabar.

Langkah berikutnya adalah pemasangan alat pacu jantung yang tidak permanen. Alat ini seperti ada pengukurnya yang dipasang lewat pembuluh darah, kemudian bisa di setting untuk iramanya. Iya, bapak tidak bisa membuat sendiri irama jantungnya. Selanjutnya dokter meminta tanda tangan lagi untuk pemberian obat yang bernama “Heparing”. Ini adalah obat untuk melancarkan peredaran darah, sehingga mempersempit kemungkinan adanya penyumbatan lain di jantung, tapi nantipun setiap tindakan medis ada resikonya. Kemungkinan akan adanya mimisan, keluar darah lewat feses/air kencing, gusi berdarah, dan yang paling parah tapi kemungkinan kecil sekali yaitu perdarahan diotak. Ya ALLAH apalagi ini, dengan mengucap Bismillah akhirnya kami putuskan untuk menyetujuinya.

Alhamdulillah setelah proses pemberian heparing ini, bapak tidak mengalami resikonya. Pemberian heparing ini, akan berdampak 5 hari kedepan baru tetap harus stay di ICCU. Sudah selesai? ya, belum. Malam berikutnya bapak yang kesakitan dan sepertinya sudah ling-lung, berhasil mencabut alat nya. Dan hasilnya bapak kembali sesak nafas, kemudian darah berceceran di kasur dan tangan. ALLAHUAKBAR,,, berikanlah kesembuhan kepada bapak kami. Akhirnya dokter memanggil kami yang sedang menunggu diluar untuk penandatanganan pemasangan alat pacu jantung lagi.

Melihat bapak yang kaki dan tangannya diikat tali2 itu semakin tidak tega. Pak,, maafkan kami, kami tidak bisa berbuat apa2 kecuali hanya berdoa dan mengikuti saran dokter.

Dan ini sudah hari ke 6 bapak berada di ICCU, dan kembali lagi keluarga kami dipanggil. Dokter menyarankan untuk pemasangan PPM (Permanent Pace Maker), Subhanallah apalagi itu. Dengan sabar dokter menjelaskan kepada kami, ibarat lampu, bapak itu lampunya merek bagus tetapi listriknya tidak ada, nah untuk membuat listrik itu ada dan lampu tetap menyala ya dipasang alat itu. Baiklah,, kami ikut yang terbaik untuk kesembuhan bapak kami.

13903561381270135453 13903562191016717232

Pemasangan PPM

Keputusan dari dokter ahli adalah besok paginya, setelah menunggu hingga sore tiba. Saya kembali lagi bertanya tentang proses pemasangan PPM itu, alhamdulillah ketika alat paju jantung sementaranya dicopot ternyatan irama bapak bisa melakukannya sendiri. ALLAHUAKBAR..

Semakin hari semakin baik, tapi observasi masih terus dilakukan. 3 hari kedepan, 3 hari lagi kedepan dan akhirnya 3hari lagi kedepan karena feses bapak hitam. Secara logika maka benar kalau BAB bapak susah, karena selama hampir 2 minggu di ICCU belum pernah BAB. Selanjutnya dan selanjutnya kami lagi,,lagi harus menunggu untuk OBSERVASI.

Sekali lagi dan berkali-kali kami harus menyampaikan ke bapak, bahwa kepulangan akan tertunda lagi. Raut kepasarahan sudah terlihat jelas, “ya sudah terserah mau berapa lama di rumah sakit”. Duh Gusti..kuatkan kami dan bapak kami.

Kemudian kami mengambil keputusan untuk membawa bapak pulang, kami sampaikan ke dokter bahwa “Bapak kami ingin segera pulang, agar penyembuhannya dirumah. Karena kami sudah 17 hari di ICCU, hampir 3 minggu bapak kami di ICCU. Sebenarnya dari dokter jantung sudah mengatakan boleh pulang, tapi kenapa masih observasi terus. Bapak kami kan sakit jantung, kenapa jadi ada beberapa dokter lain yang turun tangan. Sepertinya bapak kami dijadikan bahan observasi oleh dokter2 muda yang sedang praktek.”jelas kami kepada petugas

Alhamdulillah ,,, 1 hari setelahnya bapak kami boleh pulang. Selanjutnya kami mengurus administrasi kepulangan. 6 hari yang lalu sebelum kepulangan, kami menanyakan biaya yang akan kami tanggung. Dengan hati penuh tanya, kami menunggu petugas kasir memberikan keputusan. “Mbak, total keseluruhan 52jt, ditanggung ASKES 13jtsekian, jadi kekurangan sekitar 38.195.000rb.”Petugas kasir menjelaskan kepada kami.

Seketika kami harus berputar otak untuk mempersiapkan dana yang sangat jauh dari jangkauan kami. Berdiskusi dengan bertanya2 kepada pasien lain yang memiliki masalah yang sama dengan jaminan ASKES. Kesimpulan, paling tidak kita harus membayar 10% dari biaya yang ada(ini jika kesimpulan kami tidak salah). Persiapan dimulai saling mengumpulkan lembar demi lembar.

Jum’at, 10 Januari 2014, hari yang penuh berkah. Telepon berdering saat saya dan suami sedang pelatihan di Hotel Grand Tjokro. Bapak sudah boleh pulang dan sudah urus administrasi, alhamdulillah habisnya cuma 300rb dan obatnya 500br.

ALLAHUAKBAR..ALLAHUAKBAR..ALLAHUAKBAR,, betapa nikmat-MU ya ALLAH kau berikan kembali nafas2 itu dan kami hanya mengeluarkan biaya yang tidak banyak. Nikmat TUHAN mu manakah yang engkau dustakan?

Kesehatan sangat penting penting penting sekali, apalagi biayanya yang tidak sedikit. Kami tidak bisa berfikir panjang, jika bapak kami bukan pensiunan yang memiliki ASKES, terus kami mau membayar dengan seperti apa?.

Sayangi jantungmu, sayangi kehidupanmu, ingatlah selalu sang Penciptamu, segeralah bersyukur atas nikmat kesehatan yang sekarang ada di dirimu.

Pelajaran besar bagi kami, untuk memiliki asuransi kesehatan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di hari tua nanti. Jadi persiapkan hari tuamu mulai dari SEKARANG.

Penuh cinta dari Jogja :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: