Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Yustie Amelia

ibu rumah tangga yang nyambi jadi pelayan masyarakat di puskesmas

“Tentang Dipaksa, Memaksa, dan Pulang Paksa” (cerita di balik tembok Rumah Sakit)

REP | 14 June 2013 | 16:49 Dibaca: 80   Komentar: 1   0

Kata orang, “orang miskin dilarang sakit”

Kata orang lagi,” pelayanan di rumah sakit pemerintah payah..”

Kata orang lagi, “dokter dan perawat di Indonesia galak galak..”

Hmm… nyaris pasrah setengah masa bodo saya dengan semua perkataan orang itu, walaupun dari dalam hati saya yang paling pojok, pengen teriak kalo semua kata kata mereka itu nggak bener. Tapi, nggak ada gunanya juga lah teriak, toh berita kaya gini nggak seksi buat dimuat di media apapun. Cukup saja dengan bekerja, biar Allah yang jadi sebaik baik penilai.

Tapi, ternyata, tak semudah itu keikhlasan ini mau diam di hati. Jika kemudian harus berhadapan dengan banyak cerita.

————————————————————————————————————————————————

Suatu siang, datang seorang ibu hamil 9 bulan lebih yang mengatakan sudah tidak merasakan gerakan bayi sejak dua hari sebelumnya. Ternyata benar, janin tersebut kini sudah tak bernyawa alias IUFD. USut punya usut, rekam medik berbicara kalau kehamilan ibu tersebut sudah dianjurkan untuk diterminasi seminggu yang lalu atas indikasi kekurangan cairan ketuban (oligohidramnion). Tapi ibu tersebut menolak, dan jelas terbaca tandatangan suaminya disana.

Terang saja sang ibu menangis histeris ketika diberitahu calon anak pertamanya sudah tak bernyawa. Keluarganya kelimpungan menangani histeria ibu tersebut. Hingga ada salah seorang keluarganya datang menghampiri saya menanyakan penyebab kematian sang calon bayi. Ketika dijelaskan kemungkinan alasannya dan bahwa ibu tersebut menolak dirawat seminggu yang lalu, dia pun berkata,

“Kenapa nggak dokter paksa pasiennya?? Kan dokter lebih pinter, pasien nggak tahu apapa. Coba kalau dokter paksa seminggu yang lalu, mungkin nggak begini kejadiannya..!!!”

Nadanya yang tinggi meski dengan volume yang tak begitu keras terasa mendarat i pipi saya bagaikan tamparan kayu bakar panas..

Panas…!

Tapi saya tak sanggup meladeni kalimatnya selanjutnya, saya pamit mundur untuk kemudian pembicaraan tersebut dilanjutkan oleh rekan rekan bidan jaga pada saat itu..

—————————————————————————————————————————————-

Hari lain, seorang anak usia sekitar 2 tahun, datang dengan sesak dan demam. Ketika dibaringkan tampak sekali otot otot pernapasannya seperti terpaksa untuk bekerja keras. Saya perhatikan jarum panjang bergerak mengelilingi satu putaran, ternyata frekuensi napasnya lebih dari 60 kali per menit. Stetoskop yang menempel di dinding dadanya menyampaikan irama yang tidak indah ke telinga saya. Jelas sekali terdengar bunyi mengi dan sedikit rhonki.

Singkat cerita, saya sampaikan ke kedua orangtuanya bahwa anak ini perlu dirawat. Mereka berdua pun langsung terdiam. Setelah beberapa menit meminta ‘timeout’ untuk berunding di luar, mereka kembali dengan keputusan untuk membawa anaknya pulang.

Lha…????

Ketika ditanya alasannya klasik, “Nggak punya uang”

Saya jelaskan ulang kondisi dan prognosa jika anaknya tak dirawat sambil meminta bapaknya untuk segera pergi ke petugas administrasi mencari informasi tentang biaya dan kemungkinan keringanan. Tapi bapaknya tak kunjung bergerak.Akhirnya dengan nada dasar naik kurang lebih seperempat oktaf, saya berkata “ Pak, anak bapak perlu dirawat. Uang bisa dicari, kalo nyawa nggak. Minimal bapak usaha dulu jalan naik satu lantai ke administrasi,nanya!. Kalo adm bilang nggak bisa, baru boleh bilang nggak sanggup. Ini usaha aja belum, masak mau anaknya dibawa pulang.”

Mungkin dengan kalimat saya yang agak keras ditelinga rerata orang Sunda, bapak tersebut tetap keukeuh membawa anaknya pulang. Apa boleh buat, kita minta beliau tandatangan hitam di atas putih. Resep pun saya berikan setidaknya agar anak tersebut tetap mendapat pengobatan.

Tak tahu angin siapa yang berbisikatau mungkin agak gentar beliau setelah membaca form penyataan pulang paksa tersebut, sekitar 15 menit berselang setelah itu, singkat cerita mereka kembali dan kemudian menyatakan persetujuan untuk dirawat.

Tak banyak bicara lagi saya berkata, “Ya sudah…mangga” sambil meminta tolong ke rekan perawat untuk menyiapkan peralatan.

Ternyata cerita tak berakhir sampai disitu. Kurang lebih 3 hari berselang saya mendapat informasi bahwa anak tersebut membaik keadaannya, dan boleh pulang. Tapi, ceritanya ternyata berbumbu tak sedap, perawat ruangan mengisahkan ketidakkooperatifan keluarga terkait urusan administrasi. Sampai sampai bapak tersebut sering mengucapkan, “Saya juga tadinya nggak mau anak saya dirawat. Tapi dipaksa sama dokter yang di IGD. Tuh ternyata anak saya nggak papa kan. “ Perawat ruangan yang melihat tandatangan pulang paksanya pun ikut bertanya tanya, “ini pasien udah tandatangan pulang paksa kenapa dirawat. Harusnya udah aja nggak usah dipaksa.”

“Lha….??? Siapa yang maksa…???Yang dulu nggak dipaksa, minta dipaksa. Yang sekarang, nggak dipaksa, bilangnya dipaksa” lagi lagi saya hanya menghela napas dan “mengomel” seperlunya untuk sekedar melepas beban (maap ya untuk yg sedikit kecipratan omelan saya, hehe). Sabar, sabar.. yang penting anaknya sekarang sudah sembuh dan sudah pulang, gumam saya mendamaikan hati.

_____________________________________________________________________________________________

Tak lama setelah episode ujian keikhlasan pagi itu, siangnya datang bayi usia 3 bulan karena sesak, lengkap dengan napas cuping hidung beserta retraksi semua otot pernapasannya. Tak usah ditanya bagaimana stetoskop saya menyampaikan apa yang dia dengar. Singkat cerita , bayi ini kita diagnosa kerja sebagai tersangka aspirasi penumonia. Setelah suction secukupnya dan pemberian Oksigen, mulai tampak sedikit perbaikan. Cuping hidungny tak lagi nampak aktif, tersisa retraksi yang masih cukup berat namun mulai terdengar suara tangisnya.

Bertanyalah ibu dari bayi tersebut, “gimana dok, anak saya sudah boleh dibawa pulang..?ada anak saya satu lagi di rumah nggak ada yang jaga “

“LHo….? Mulailah saya berkicau panjang lebar kalau kondisi anaknya berat, bahkan kemungkinan untuk perlu bantuan alat napasnya besar. Juga karena keterbatasan alat, kemungkinan anak ini perlu dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.

Ibu itu terdiam beberapa saat, kemudian berkata, “dok, kalau dirujuk saya nggak sanggup. Saya nggak punya biaya Tolong ditolong disini saja. Kalau tidak, anaknya saya bawa pulang saja..”

Enggan berdebat lama lama urusan kesanggupan biaya, segera saya meminta tolong perawat untuk segera menyiapkan cairan intravena beserta antibiotik yang dibutuhkan. “Mangga, urusan dirujuk atau tidak, kita lihat nanti, yang penting sekarang saya minta persetujuan ibu untuk menginfus anaknya”

“Biayanya dok..?”

“BIaya nanti bisa diurus ke administrasi” jawab saya pendek.

Selanjutnya, saya serahkan urusan pasien tersebut ke tim jaga berikutnya. Singkat cerita pasien tersebut menunjukkan perbaikan sore harinya. Karena rumah sakit rujukan penuh, akhirnya dokter jaga berikutnya memutuskan untuk melanjutkan observasi di ruang anak walaupun harus membuat tim d ruangan harus bekerja lebih keras. Kabarnya keesokan paginya kondisi bayi tersebut stabil.

Penasaran, siang hari berikutnya, saya telpon lagi ke ruang anak, “Teh, gimana kondisi bayi yang aspirasi penumonia kmarin..?”

“Oh… udah pulang dok.”

“Lho..kok Bisa..?

“Pulang paksa dok”

Lhaaaaa……????????????

_________________________________________________________________________________________________

Fuihhhhhh…..

ndak abis pikir saya..

jadi sebenernya harusnya saya gimana si? informed consent jelas, setelah akhirnya ada yang meninggal, tetep disalahin kenapa nggak maksa.

Pernah bertekad jangan sampai ada pasien yang tak tertangani karena urusan biaya, tapi, ga bagus juga efeknya.

yang satu tetep sebel sama saya karena merasa anaknya dipaksa dirawat padahal “baik baik” saja. Yang satu lagi, tetep ujung ujungnya pulang paksa, meski udah dibela belain kita tolongin allout dengan apa yang kita punya.

Jadi.. sepertinya memang bener orang miskin dilarang sakit.

Tak kunjung lulus saya memahami apa yang ada di alam pikiran mereka. Hingga ancaman kematian pun tak mempan untuk membuat mereka bertindak rasional. Hingga usaha kita menolong pun seakan tak ada artinya dalam mengurai kesulitan hidup mereka.

Ya Allah.. kapan “pe-er pe-er” seperti ini akan terselesaikan….?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 8 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 11 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: