Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Lady Walakandou

When you are the owner of your smile, No one can make you cry. @ladywalakandou

Kesehatan itu Mahal…

OPINI | 24 May 2013 | 14:04 Dibaca: 280   Komentar: 0   0

Kesehatan itu mahal harganya. Saat kita memilikinya, jagalah baik-baik. Harga onderdil motor aja mahal, apalagi onderdil manusia. Bila kita protes terhadap tarif dokter, obat dan rumah sakit yang tinggi, kenapa kita tidak mulai dengan kesadaran akan kesehatan yang tinggi. Bukan dengan menyia-nyiakan ke-mudaan kita dengan hal-hal yang tidak baik untuk kesehatan. Mulailah dengan memahami tubuh kita sendiri. Kenalilah tubuh kita, apa yang tubuh kita butuhkan. Jangan hanya ingin nyamannya saja, giliran sakit, mengeluh ini itu mahal. Contoh kecil saja, rajin sikat gigi. Tau nggak berapa harga implant gigi bila kita tidak menjaga gigi kita baik2?

Kesadaran akan kesehatan yang kurang tentu saja akan berdampak buruk bagi kesehatan kita. Misalnya saja masalah klasik tentang merokok. Di bandara Soetta, minggu yang lalu, saya mengikuti symposium di Medan yang mengharuskan saya transit cukup lama, karena tidak ada pesawat langsung Manado-Medan. Sungguh miris melihat kesadaran kesehatan masyarakat di Negara kita ini. Bandara Soetta yang hingar bingar itu dipenuhi asap rokok dan orang2 yang tergeletak di lantai, dengan asyiknya merokok, bahkan di depan tanda dilarang merokok. Saya sempat berpikir, mungkin dinas kesehatan setempat perlu kali ya mengadakan semacam penyuluhan disini. Setidaknya bila anda merokok, merokoklah untuk diri anda sendiri. Jangan menebar racun itu ke semua orang di sekeliling anda. Dan yang lebih parah lagi, orang yang merokok seenaknya itu, bila di tegur, marah!

Pengalaman lain dari ruang praktek, seorang anak berusia 10 bulan, ketika di tanya riwayat imunisasi, ibunya berkata tidak pernah sekalipun di imunisasi. Saya sampai ternganga.. memang sih saya pernah baca tentang maraknya aksi anti imunisasi dengan segala sanggahan yang kelihatannya benar berdasarkan bukti2 ilmiah dari para penggerak anti imunisasi itu. Tapi sampai ada yang bisa terpengaruh begitu, saya agak kurang paham. Ketika saya tanya, usia 10 bulan, imunisasi apa saja yang seharusnya di terima bayi tersebut, orang tuanya tidak bisa jawab. Ini salah satu bukti dari ketidaktahuan tentang kesehatan. Idealnya, bila kita bisa memilih ya atau tidak, kita sudah harus paham betul apa pilihan kita. Saya pun menjelaskan secara perlahan beberapa tahapan imunisasi. Sebagai contoh, bayi pada saat lahir memerlukan 2 jenis imunisasi, yaitu hepatitis B dan Polio, tahukah ibu manfaat dari kedua imunisasi itu? Ibunya jawab untuk terhindar dari penyakit hepatitis B dan Polio, diam-diam saya tersenyum dalam hati. Ternyata dia tau. Sayapun bertanya lagi, taukah ibu bagaimana penyakit hepatitis B  dan polio itu dan bahayanya?  Ibu itupun terdiam. Dia tidak tau. Dan diapun tidak tau bagaimana dia membiarkan bayinya tidak terlindungi dari berbagai macam penyakit yang seharusnya bisa dilindungi dengan imunisasi. Syukurlah ketika saya jelaskan,  dan setelah saya memberi waktu ibu itu untuk berpikir, sekitar 1 minggu kemudian dia kembali lagi dan menyatakan bersedia anaknya di imunisasi.

Mungkin ada rasa kurang paham dan rasa curiga kepada para dokter, karena begitu banyaknya media yang memberitakan dokter yang mata duitan, atau yang lebih ekstrim lagi, cerita dari mulut ke mulut anak si A habis imunisasi jadinya autis, anak si B habis imunisasi kejang-kejang.. Dan kenyataan di masyarakat, kita memang biasanya lebih percaya ‘masyarakat’ daripada tenaga professional yang sudah dilatih untuk itu. Kalau ragu dengan dokter A, pergilah ke dokter B, kalau dokter B juga tidak bisa memuaskan rasa ingin tahu anda, carilah dokter C. Hubungan dokter pasien adalah hubungan berdasarkan kepercayaan, dan bukan hubungan duit.

Kesehatan itu mahal, maka ketika kesehatan kita terganggu, carilah dokter yang anda percaya, dan tanyalah kepadanya hal-hal penting untuk kesehatan anda, dan juga tentang hal-hal medis lain yang anda ingin ketahui yang mungkin sedang menjadi issue di masyarakat, dengarkan penjelasan dokter sebaik-baiknya! Jadi, jika ada bisikan kurang jelas dari lingkungan anda, anda sudah tidak akan terpengaruh lagi.

Dokter juga manusia. Manusia punya bermacam-macam kepribadian. Ada yang kepribadiannya hangat, mudah bicara dan komunikasi, ada juga yang kaku dan agak sukar di ajak komunikasi. Ada yang tidak mau dibantah, selalu merasa benar sendiri, tapi ada juga yang mau di ajak berdiskusi. Carilah yang mana yang cocok dengan anda. jangan mencari dokter berdasarkan jumlah pasien.. hehehe.. Pasien banyak, pasti dokternya bagus. Emangnya rumah makan? Semua dokter bagus kok, masalahnya, cocok nggak dengan anda? Cocok disini dalam artian, bisakah anda mempercayakan kesehatan anda atau kesehatan anak anda kepada dokter tersebut atau tidak. Bila tidak, cari terus sampai anda menemukan yang tepat menurut anda. Pacaran aja kita bisa putus nyambung kan yah? Hehehe.. Satu hal yang pasti, apapun kepribadian dokter yang anda jumpai, bagaimanapun sikapnya terhadap ‘duit’, semua dokter menginginkan dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasiennya.

Kesehatan itu mahal, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia di muka bumi ini. Seperti kata pepatah, daripada mengutuk kegelapan, nyalakanlah lilin. Eh, nyambung ga yaa? Hehehe.. maksudnya, daripada marah2 soal mahalnya biaya berobat, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dengan menjaga kesehatan kita, termasuk menjaga lingkungan kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 4 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 8 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: