Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Akbar Fahmi

Bercita-cita menulis buku

Permen Nikotin Untuk Langsing, Bisakah?

REP | 22 May 2013 | 10:11 Dibaca: 316   Komentar: 0   1

Berhenti merokok adalah bentuk siksaan yang berat bagi para perokok berat. Saya beberapa kali memiliki teman yang berkonsultasi ingin berhenti merokok dan sebagian dari mereka merasakan tubuhnya menjadi sangat tidak nyaman saat tahap-tahap awal berusaha stop rokok. Memang memutus kebiasaan merokok secara tiba-tiba adalah langkah yang sangat tidak bersahabat untuk tubuh, karena tubuh sudah terbiasa menerima nikotin dalam kadar besar yang menstimulasi sistem sarafnya. Ketika tiba-tiba tubuh tidak mendapatkan nikotin sama sekali, yang terjadi sistem saraf akan terkejut dan timbullah gejala putus nikotin (nicotine withdrawl).

Awalnya saya menyarankan untuk mencoba mengurangi konsumsi rokok secara bertahap. Jika awalnya terbiasa merokok 5 batang sehari, saya sarankan untuk mengurangi jadi 4 batang sehari selama seminggu, kemudian 3 batang selama seminggu dan seterusnya hingga teman saya bisa berhenti merokok sepenuhnya. Namun ternyata teman saya ini kurang disiplin sehingga pola terapi seperti ini gagal total. Selama sebulan dia tidak kunjung bisa mengurangi konsumsi rokoknya.

Suatu hari kawan saya ini kembali berkonsultasi. Kali ini dia menanyakan tentang e-Cigarrete dan Permen Nikotin. Dia menanyakan, mana yang lebih baik untuk terapi berhenti merokok. Akhirnya saya pun belajar lagi, ternyata saya menemukan fakta bahwa dua-duanya masih belum terbukti secara ilmiah berhasil untuk terapi berhenti merokok. Namun beberapa pengalaman pribadi yand ditulis di beberapa blog menceritkan tentang keberhasilan permen nikotin. Saya juga mendapati fakta bahwa permen nikotin memiliki efek samping penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.  Efek samping tersebut dapat terjadi karena nikotin yang terkandung dalam permen nikotin mampu mengaktifkan saraf di otak yang mengirimkan sinyal bahwa perut sudah kenyang. Penelitian yang dilakukan di Universitas Yale tersebut juga membuka perspektif baru pengembangan obat antikegemukan berbasis nikotin.

Dari hasil pertapaan saya yang dipandu oleh mbah google, saya pun merekomendasikan permen nikotin untuk kawan saya ini. Sejauh ini, selama 3 bulan terapi teman saya masih belum curhat lagi. Saya hanya mengasumsikan bahwa tidak ada efek samping yang berarti pada terapinya.

Out of topic, saya lantas berfikir bahwa sepertinya permen nikotin ini akan dapat menjadi solusi bagi para petani tembakau yang terhimpit ancaman RUU Tembakau. Permen nikotin dapat menjadi diversitas produk alternatif bagi tembakau di Indonesia, selain rokok. Harga permen nikotin ini juga tidak murah, yakni sekitar 500 ribu rupiah untuk 160 mg permen nikotin. Harga itu jauh lebih mahal dari rokok yang harganya hanya berkisar puluhan ribu rupiah saja. Semoga nasib petani tembakau Indonesia akan lebih bik di masa yang akan datang. Amien.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: