Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Akbar Fahmi

Bercita-cita menulis buku

Permen Nikotin Untuk Langsing, Bisakah?

REP | 22 May 2013 | 10:11 Dibaca: 327   Komentar: 0   1

Berhenti merokok adalah bentuk siksaan yang berat bagi para perokok berat. Saya beberapa kali memiliki teman yang berkonsultasi ingin berhenti merokok dan sebagian dari mereka merasakan tubuhnya menjadi sangat tidak nyaman saat tahap-tahap awal berusaha stop rokok. Memang memutus kebiasaan merokok secara tiba-tiba adalah langkah yang sangat tidak bersahabat untuk tubuh, karena tubuh sudah terbiasa menerima nikotin dalam kadar besar yang menstimulasi sistem sarafnya. Ketika tiba-tiba tubuh tidak mendapatkan nikotin sama sekali, yang terjadi sistem saraf akan terkejut dan timbullah gejala putus nikotin (nicotine withdrawl).

Awalnya saya menyarankan untuk mencoba mengurangi konsumsi rokok secara bertahap. Jika awalnya terbiasa merokok 5 batang sehari, saya sarankan untuk mengurangi jadi 4 batang sehari selama seminggu, kemudian 3 batang selama seminggu dan seterusnya hingga teman saya bisa berhenti merokok sepenuhnya. Namun ternyata teman saya ini kurang disiplin sehingga pola terapi seperti ini gagal total. Selama sebulan dia tidak kunjung bisa mengurangi konsumsi rokoknya.

Suatu hari kawan saya ini kembali berkonsultasi. Kali ini dia menanyakan tentang e-Cigarrete dan Permen Nikotin. Dia menanyakan, mana yang lebih baik untuk terapi berhenti merokok. Akhirnya saya pun belajar lagi, ternyata saya menemukan fakta bahwa dua-duanya masih belum terbukti secara ilmiah berhasil untuk terapi berhenti merokok. Namun beberapa pengalaman pribadi yand ditulis di beberapa blog menceritkan tentang keberhasilan permen nikotin. Saya juga mendapati fakta bahwa permen nikotin memiliki efek samping penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.  Efek samping tersebut dapat terjadi karena nikotin yang terkandung dalam permen nikotin mampu mengaktifkan saraf di otak yang mengirimkan sinyal bahwa perut sudah kenyang. Penelitian yang dilakukan di Universitas Yale tersebut juga membuka perspektif baru pengembangan obat antikegemukan berbasis nikotin.

Dari hasil pertapaan saya yang dipandu oleh mbah google, saya pun merekomendasikan permen nikotin untuk kawan saya ini. Sejauh ini, selama 3 bulan terapi teman saya masih belum curhat lagi. Saya hanya mengasumsikan bahwa tidak ada efek samping yang berarti pada terapinya.

Out of topic, saya lantas berfikir bahwa sepertinya permen nikotin ini akan dapat menjadi solusi bagi para petani tembakau yang terhimpit ancaman RUU Tembakau. Permen nikotin dapat menjadi diversitas produk alternatif bagi tembakau di Indonesia, selain rokok. Harga permen nikotin ini juga tidak murah, yakni sekitar 500 ribu rupiah untuk 160 mg permen nikotin. Harga itu jauh lebih mahal dari rokok yang harganya hanya berkisar puluhan ribu rupiah saja. Semoga nasib petani tembakau Indonesia akan lebih bik di masa yang akan datang. Amien.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: