Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Eijiro Edison

Division of Cardiovascular Medicine Jichi Medical University Tochigi-Japan

Jayalah Dokter Indonesia

HL | 21 May 2013 | 08:00 Dibaca: 50852   Komentar: 62   16

13691065261996619168

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Kalau dipikir-pikir, entah sejak kapan masyarakat menganggap dokter = kaya, dokter = makmur seperti kebanyakan yang didoktrin kepada kami sebelum memilih jurusan ini ketika akan tamat bangku sekolah di SMA. Bahwa jadi dokter itu pasti senang, jadi dokter itu kaya.  Sehingga jika ada sedikit saja pembicaraan yang mengarah kepada tuntutan dokter tentang kesejahteraan dan katakanlah uang saku/gaji perbulannya yang sangat tidak memadai untuk resiko dan beban kerja yang dihadapi dokter, masyarakat dan media tanpa ampun langsung mencemooh dengan kejam, menganggap seakan dokter mata duitan dan  tidak tulus mengabdi.

nah, mari kita bicara terbuka sekarang…

kita ambil contoh yang paling mudah, dokter PNS. Dokter termasuk pegawai golongan 3B, gaji pokok Rp 2.2 juta plus tunjangan fungsional Rp 300ribu, total Rp 2.6 juta tanpa tunjangan lain yang seharusnya berkaitan dengan resiko profesi. Dokter disama-ratakan dengan PNS bidang lain, yang tidak harus siap sedia 24jam tanpa kecuali, diluar jam kerja karena bisa sewaktu-waktu dipanggil lagi karena ada pasien gawat atau bencana alam ataupun visum, tidak harus masuk piket kerja saat hari raya, tidak terpapar berbagai penyakit mulai dari yang ringan semisal flu sampai yang terberat seperti hepatitis B ataupun HIV. Juga tidak perlu kuatir membawa penyakit2 tersebut ke rumah dalam jangkauan keluarga tercinta, tidak perlu stres karena tiap saat harus terancam resiko malpraktek yang minimal tuntutannya hingga Rp 500juta. Dengan gaji RP 2.6 juta/bulan, mau lunas kapaaan??

tidak ada tunjangan khusus untuk resiko berbagai macam penyakit, tidak ada asuransi khusus untuk dokter, tidak ada sertifikasi, tidak ada remunerasi.  Jangan heran kalau anda semua lihat jika ke puskesmas, lebih banyak “bu dokter” daripada “pak dokter”. Saat tuntutan hidup begitu tinggi, sulit sekali bagi “pak dokter” yang notabene penanggungjawab keluarga untuk tetap “mengabdi” sedangkan ada anak istri yang perlu dicukupi kebutuhannya, ada pendidikan anak yang perlu dipikirkan juga. Mungkin “pak dokter” lebih memilih untuk bekerja di swasta atau meneruskan pendidikannya di jenjang spesialis. Padahal kenyataan pilihan spesialis tersebut pun belum pasti menjadi jalan keluar yang lebih mudah.

dokter mau kerja di swasta?? Sayang sekali, pilihan ini pun tidak selalu bersahabat. Uang duduk di klinik 24 jam rata-rata Rp 100ribu/24 jam, jasmed (jasa medis) Rp 1000/pasien. Tapi jangan dikira yang namanya “uang duduk”, itu berarti kita duduk-duduk saja di klinik sambil ngemil pisang goreng. OOOO tidaak… 24 jam itu betul-betul kerja dan tindakan. Kerja dan tindakan.  Kalau dipikir-pikir jasa medis Rp 1000/pasien, mending jaga parkiran motor di depan klinik. Itupun cuma perlu ada saat yang punya motor datang lagi untuk ngambil motornya, plus modal sebuah peluit. Tidak perlu modal belajar “sepanjang hayat”, tidak perlu ada rasa dihantui bayangan tuduhan malpraktek oleh masyarakat dan media  yang terkadang sok tahu tapi tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa patofisiologi yang terjadi.

Kerja di rumah sakit swasta, terbentur dengan tidak adanya jaminan kesehatan, rata-rata hanya mengontrak dokter tanpa diasuransikan kesehatan, jadi dokter yang terpapar begitu banyak penyakit dan beban kerja yang tinggi harus selalu menjaga kesehatannya. Kalau lagi sial  kena penyakit, ya itu derita ditanggung sendiri, ujung-ujungnya bangkrut karena duit tidak cukup bahkan untuk mengobati diri sendiri.  DKK, Dokter klinik ke klinik, “ngamen”, akhirnya seperti itulah nasib dokter di sector swasta.

Sekolah lagi?? Hahaha, jalan begitu panjaaaang dalam pendidikan dokter umum, 6 tahun lamanya digembleng, toh hasil nya bahkan lebih rendah dibandingkan sopir bus transjakarta. Sabar kalian bilang?? Tidak usah gunakan kata sabar dan mengabdi kepada kami. Kata-kata itu sudah begitu setia menjadi bagian dari kehidupan dokter dan paramedis. Kalau tidak, sudah sedari dulu kami “mogok”. Begitu tidak adilnya pemenuhan kesejahteraan bagi kami para dokter dan paramedis. Bahkan ditambah lagi dengan pejabat pemerintah dan anggota DPR yang terhormat yang semena-mena mencemooh kerja keras dan kerja bakti kami, ditambah lagi pemberitaan media yang jelas-jelas lebih senang menjual berita negative tentang dokter-paramedis dibanding sebegitu banyak positif nya. Buruh tidak digaji dibilang perbudakan, dokter tidak digaji itu pengabdian. Pernahkah ada yang tahu banyak dokter yang PTT didaerah terpencil, rela bekerja tanpa digaji. Ada satu cerita, teman sejawat saya yang PTT di daerah pedalaman. Walaupun hari sudah malam dini hari, tetap memenuhi panggilan keluarga pasien, yang memaksa si dokter untuk melihat keluarganya yang sakit. Setiba di rumah tujuan, si sakit yang dimaksud tadi hanyalah gatal2 dan menurut hemat keluarga pasien, itu adalah penyakit yang harus diobati saat itu juga. Dalam perjalan pulang, sang dokter mengalami kecelakaan patah tungkai bawah, karena mengendarai motor dalam keadaan hujan dan jalan yang licin dan berlumpur (mengingat tempat tugas di daerah pedalaman dan belum begitu banyak akses jalan yang bagus). Dan karena tidak ada biaya, terpaksa memutuskan rawatan dirumah. Pernahkan media memberitakan hal demikian?? Pernahkah masyarakat membaca hal yang demikian?? Masyarakat pun seolah dibutakan oleh janji-janji manis para pemimpin yang seolah-olah menggratiskan biaya kesehatan, padahal nyatanya anggaran kesehatan tidak pernah dinaikkan. Akibatnya dokter-paramedis-manajemen puskesmas dan rumah sakit yang selalu dijadikan kambing hitam.

dokter internship hanya digaji Rp 1.2 juta / bulan. Mereka disebar diberbagai penjuru negeri hanya dengan uang hidup Rp 1.2 juta yang pembayarannya dirapel per tiga bulan tanpa uang kost-uang makan-uang transport. Semua dipukul rata 1.2 juta per orang tanpa melihat dimana dia ditugaskan. Tanpa melihat gimana beban ekonomi di tempat dokter internship ditugaskan. Miris rasanya saat mendengar ada dokter internship yang harus kerja part time di swalayan 24 jam ind*mar*t menjadi kasir. Astagfirullah, ini bukan pengabdian.. sungguh… Ketika saya menceritakan ini ke sensei di Jepang, mereka terkejut dan balik bertanya, kalau memang begitu, bagaimana caranya si dokter tadi bisa fokus untuk kesembuhan pasien?? Bagaimana caranya si dokter bisa full menunaikan kewajibannya, memberikan pelayan maksimal untuk pasien??

Jadi spesialis??
pernah tahu jasa medis untuk seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk operasi SC (Sectio cesarea) dengan resiko 2 nyawa, ibu dan anak?? Hanya Rp 80 ribu per operasi.  Sama seperti biaya masang kaca spion di bengkel mobil. How come?? Yang ditangani ini manusia, bukan mobil. Belum operasi lain semisal laparotomy Rp 100ribu, tonsilektomi Rp 10 ribu. Itu semua sampai kapanpun gak akan pernah bisa membayar kalau suatu saat terkena tudingan malpraktek.

jadi kawan, mohon jangan cemooh kami jika ada dokter-dokter yang terpaksa turun di jalan demi memperjuangkan ketidakadilan ini. Dokter bukanlah dewa, bukan juga makhluk suci. Dokter hanyalah manusia biasa yang memiliki dapur yang harus terus mengepul , memiliki anak istri yang harus dinafkahi, memiliki cita-cita untuk memberi pendidikan yang baik dan layak untuk anak-anaknya. Banyak masyarakat yang bilang dokter Indonesia tidak piawai, tidak peka, tidak mau mendengar keluh kesah pasien. Tidak seperti dokter di negeri tetangga yang begitu baik dan mau mendengar. Apakah masyarakat tahu, disaat yang bersamaan, si dokter sedang pusing memikirkan bagaimana mencari tambahan nafkah di tempat lain,harus memikirkan nafkah anak istrinya dirumah, harus bisa menjamin pendidikan anaknya. Dokter dinegeri tetangga tidak perlu memikirkan tetek-bengek seperti itu, karena semua sudah ditanggung negara. Dan akhirnya mereka bisa full dalam melayani pasien, mendengarkan keluh kesah pasien.

Tidak bisa dipungkiri juga ada beberapa TS dokter yang bisa anda lihat berkebalikan dengan fakta-fakta yang ada, tapi itu semua hanyalah puncak gunung es. Yap, jauh lebih banyak lagi TS dokter yang hidupnya betul-betul “MENGABDI”.

kami sadar, inilah profesi yang telah kami pilih. Harapan kami supaya para petinggi negeri ini, yang duduk di kursi terhormat sana, bisa memikirkan nasib dan kesejahtraan para dokter Indonesia. Bukan demi hidup materialistis, tapi demi hidup yang layak. Sehingga bisa full memberikan pelayanan terbaik yang kami bisa untuk masyarakat.

Eijiro Sugiyama Edison MD

Division of Cardiovascular Medicine
Jichi Medical University Tochigi Japan

Dokter Internship RSUD Pariaman
Dokter Internship puskesmas Naras
Pariaman- 2010

FK Unand  2004

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: