Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Yus Efendi

Menulis adalah syair hati yang menyembuhkan. Follow juga @yusefendy

Determinan Penyakit

REP | 30 April 2013 | 01:21 Dibaca: 3132   Komentar: 0   0

A. Determinan Intrinsik Penyakit

Determinan Faktor Intrinsik pada Penyakit erat hubungan dengan Segitiga Epidemiologi yang dikemukakan oleh Gordon dan La Richt (1950) dalam Timreck (2004), yang menyebutkan bahwa timbul atu tidaknya penyakit pada organisme dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu host, agent dan environment. Gordon dan La Richt mengemukakan bahwa :

a. Penyakit timbul karena ketidakseimbangan antara agent (penyebab) dan host (organisme hidup)

b. Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik agent dan host (baik individu maupun kelompok)

c. Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut akan berhubungan langsung pada keadaan alami pada lingkungan (lingkungan sosial, fisik, ekonomi dan biologis

1. Determinan agen

Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis. kadang-kadang, untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak diketahui seperti penyakit ulkus peptiku, coronaryheart diseases, dan lain-lain. Menurut Bustan (2006), Agen penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu:

1. Agen Biologis

Virus, bakteri, fungi, riketsia, protozoa, dan metazoan.

2. Agen Nutrisi

Protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.

3. Agen Fisik

Panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan.

4. Agen Kimiawi

Dapat bersifat endogenous seperti asidosis, diabetes (hiperglikimia), uremia, dan eksogenous seperti zat kimia, allergen, gas, debu, dan lain-lain.

5. Agen Mekanis

Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.

1.1 Agen

Proses Perjalanan suatu penyakit bermula dari adanya gangguan keseimbangan antara agen penyakit, host dan lingkungan, sehingga menimbulkan gejala penyakit. Agen penyakit merupakan faktor awal proses terjadinya penyakit, sehingga faktor agen penyakit ini merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari, agar setiap organisme dapat melakukan pencegahan lebih awal terhadap timbulnya suatu penyakit.

Menurut Rajab (2009), menyebutkan bahwa ukuran yang menunjukkan kemampuan agen penyakit untuk mempengaruhi riwayat alamiah penyakit sebagai berikut: (1) infektivitas, (2) patogenesitas, dan (3) virulensi.

1. Infektivitas : kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan terjadinya infeksi. Dihitung dari jumlah individu yang terinfeksi dibagi dengan jumlah individu yang terpapar.

2. Patogenesitas : kemampuan agen penyakit untuk menyebabkan penyakit klinis. Dihitung dari jumlah kasus klinis dibagi dengan jumlah individu yang terinfeksi.

3. Virulensi : kemampuan penyakit untuk menyebabkan kematian. Indikator ini menunjukkan kemampuan agen infeksi menyebabkan keparahan (severety) penyakit. Dihitung dari jumlah kasus yang mati dibagi dengan jumlah kasus klinis

1.2. Hubungan antara infeksi dengan penyakit

Menurut Bustan (2006), mengemukan bahwa Infeksi dan penyakit mempunyai hubungan satu sama lain disebut juga sebuah proses interaksi. Proses terjadinya penyakit disebabkan adanya interaksi antara agen yang merupakan faktor penyebab penyakit, manusia sebagai penjamu atau lebih dikenal dengan Host, dan faktor lingkungan yang mendukung proses interaksi.

Selanjutnya Bustan (2007), mengemukan bahwa Proses interaksi ini dapat terjadi secara individu atau kelompok, karena adanya mikroorganisme yang kontak baik secara langsung maupn tidak secara langsung dengan manusia sebagai penjamu yang rentan, daya tahan tubuh yang rendah dan lingkungan yang tidak sehat yang menyebabkan sakit pada host.

Pada sebuah penelitian tentang kesehatan anak, Mubarak, dkk (1995) mengemukakan bahwa, Infeksi mempunyai konstribusi terhadap defisiensi energi, protein dan zat gizi lainnya karena menurunnya nafsu makan sehingga asupan makan menjadi berkurang. Kebutuhan energi pada saat infeksi bisa mencapai dua kali dari kebutuhan normal karena meningkatnya kebutuhan metabolisme basal.

Dalam riwayat alamiah penyakit infeksi, proses terjadinya infeksi, penyakit klinis, maupun kematian dari suatu penyakit tergantung dari berbagai determinan, baik intrinsik maupun ekstrinsik, yang mempengaruhi penjamu maupun agen kausal. Tergantung tingkat kerentanan (atau imunitas), individu sebagai penjamu yang terpapar oleh agen kausal dapat tetap sehat, atau mengalami infeksi (jika penyakit infeksi) dan mengalami perubahan patologi yang ireversibel.

Dalam epidemiologi penyakit infeksi, individu yang terpapar belum tentu terinfeksi. Hanya jika agen kausal penyakit infeksi terpapar pada individu lalu memasuki tubuh dan sel (cell entry), lalu melakukan multiplikasi dan maturasi, dan menimbulkan perubahan patologis yang dapat dideteksi secara laboratoris atau terwujud secara klinis, maka individu tersebut dikatakan mengalami infeksi.

1.3. Metode Transmisi/Penularan Agen Penyakit

Ketiga faktor ( Host, Agen dan Lingkungan ) terus menerus dalam keadaan berinteraksi satu sama lain. Bila interaksi seimbang terciptalah keadaan sehat, bila terjadi gangguan kesimbangan, muncul penyakit.

Menurut Chandra (2009), mengemukakan bahwa masuknya agent (bibit penyakit) yang dapat menimbulkan penyakit pada host disebabkan oleh agent melalui beberapa macam jalur penularan, sebagai berikut :

1. Inhalasi :

Yaitu masuknya agent dengan perantaraan udara (air borne transmission). Misalnya, terhirup zat-zat kimia berupa gas, uap, debu, mineral, partikel (golongan a-biotik) atau berupa kontak dengan penderita TB (golongan biotik).

2. Ditelan :

Yaitu masuknya agent melalui saluran pencernaan dengan cara memakan atau tertelan. Misalnya minuman keras, obat-obatan, keracunan logam berat.

3. Melalui Kulit :

Yaitu masuknya agent melalui kontak langsung dengan kulit. Misalnya keracunan oleh bahan kosmetika tumbuh-tumbuhan dan binatang.

2. Determinan Host

Menurut Rajab (2009), dijelaskan bahwa faktor pejamu (host) adalah semua faktor yang terdapat pada manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu perjalanan penyakit. Host erat hubungannya dengan manusia sebagai makhluk biologis dan manusia makhluk sosial sehingga manusia dalam hidupnya mempunyai dua keadaan dalam timbulnya suatu penyakit yaitu manusia kemungkinan terpajan dan kemungkinan rentan/resisten.

Faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam proses kejadian penyakit pada pejamu (host) adalah sebagai berikut :

1. Faktor Keturunan. Ada beberapa penyakit keturunan yang dapat ditularkan dari kedua orang tua (misalnya penyakit asma dan diabetes mellitus).

2. Mekanisme Kekebalan Tubuh/Imunitas. Daya tahan tubuh seseorang tidaklah sama, namun faktor imunitas sangat berperan dalam proses terjadinya penyakit. Imunitas dibagi dalam beberapa kategori, yaitu : Imunitas alamiah, Imunitas didapat dan Kekebalan kelompok.

3. Usia

4. Jenis Kelamin

5. Ras

6. Sosial ekonomi

7. Status Perkawinan

8. Penyakit Terdahulu

9. Nutrisi.

B. Determinan Ekstrinsik Penyakit

Determinan Faktor Ekstrinsik pada Penyakit adalah faktor ketiga atau semua faktor luar dari suatu individu yang dapat berupa lingkungan fisik, biologik dan sosial sebagai penunjang terjadinya penyakit. Faktor ini disebut juga faktor ekstrinsik.

1. Iklim

Penularan beberapa penyakit menular sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Menurut Brisbois, dkk (2010), menyebutkan bahwa Parasit dan vektor penyakit sangat peka terhadap faktor iklim, khususnya suhu, curah hujan, kelembaban, permukaan air, dan angin.2 Begitu juga dalam hal distribusi dan kelimpahan dari organisme vektor dan host intermediate. Penyakit yang tersebar melalui vektor (vector borne disease) seperti malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) perlu diwaspadai karena penularan penyakit seperti ini akan makin meningkat dengan perubahan iklim. Di banyak negara tropis penyakit ini merupakan penyebab kematian utama.

Iklim dapat berpengaruh terhadap pola penyakit infeksi karena agen penyakit baik virus, bakteri atau parasit, dan vekor bersifat sensitif terhadap suhu, kelembaban, dan kondisi lingkungan ambien lainnya. Selain itu, WHO juga menyatakan bahwa penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti DBD berhubungan dengan kondisi cuaca yang hangat. (Sitorus, 2003)

2. Tanah

Tanah adalah merupakan lingkungan biologis semua makluk hidup yang berada disekitar manusia yaitu flora dan fauna, termasuk juga manusia. Misalnya, wilayah dengan flora yang berbeda akan mempunyai pola penyakit yang berbeda. Faktor ini adalah faktor yang baik untuk tumbuh dan berkembangnya bakteri dan virus sebagai penyebab sakit.

3. Peran Manusia

Tahap ini digambarkan sebagai interaksi manusia dengan lingkungan, dimana suatu keadaan terpengaruhnya manusia secara langsung oleh lingkungannya dan terjadi pada saat pra-patogenesis (Periode sebelum manusia sakit terdapat interaksi antara faktor-faktor host, agent dan environment yang berlangsung terus menerus) suatu penyakit, misalnya udara dingin, hujan dan kebiasaan membuat/menyediakan makanan. Akibatnya faktor tersebut akan mempengaruhi agen penyakit, host dan lingkungan secara serentak, sehingga akan mempengaruhi agen penyakit untuk masuk ke dalam tubuh manusia, misalnya pencemaran air sumur oleh kotoran manusia yang akan menyebabkan muntaber (Rajab, 2009).

C. GAMBARAN KEJADIAN PENYAKIT PADA POPULASI

Perkembangan alamiah suatu penyakit penting artinya untuk menggambarkan perjalanan suatu penyakit, terutama yang berkaitan dengan perkembangan penyakit yang berhubungan dengan keadaan waktu, tempat, dan orang. Maka akan dapat dilakukan berbagai upaya untuk mencegah atau menghentikan perjalanan penyakit tersebut.

Semua individu yang berisiko terhadap penyakit/kejadian yang diteliti di dalam suatu kelompok yang diteliti. Contohnya untuk mengukur kejadian penyakit mastitis, population at risk adalah sapi betina produktif, sedangkan sapi jantan, pedet dan sapi betina yang tidak produktif tidak termasuk ke dalamnya karena tidak berisiko terkena mastitis.

Dengan mengetahui faktor – faktor resiko yang dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi, maka dapat direncanakan program pengembangan pemberantasan penyakit dan usaha–usaha penaggulangan masalah kesehatan secara keseluruhan.

1. Diagnosis Penyakit

Dewasa ini berkembang berbagai macam gangguan kesehatan atau penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Misalnya saja penyakit menular. Penyakit menular dapat saja menjadi kejadian luar biasa atau wabah dalam suatu masyarakat di suatu daerah karena banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran atau penularan suatu penyakit sehingga menjadi suatu kejadian luar biasa. Adanya kejadian luar biasa menjadikan banyak dinas kesehatan di berbagai daerah kewalahan dalam menghadapi hal ini. Oleh sebab itu diadakanlah suatu penyelidikan dan pengumpulan data dengan berbagai tujuan yang dapat diperoleh dan dapat menyelesaikan fenomena yang dihadapi.

Diagnosis penyakit dilakukan untuk mendeteksi suatu penyakit, untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang penyakit yang ada di masyarakat, agar masyarakat dapat segera diobati dan tidak menjadi kronis apalagi menular (Chandra, 2009)

Pengetahuan tentang diagnosis penyakit tersebut pada sebuah populasi berguna untuk menciptakan lingkungan fisik, sosial, ekonomi, kultural, politik, yang dapat meningkatkah status kesehatan dan kesejahteraan populasi secara keseluruhan.

2. Distribusi kejadian penyakit pada waktu dan daerah tertentu

Distribusi penyakit adalah penyebaran penyakit pada sebuah populasi atau daerah tertentu. Distribusi penyebaran penyakit ini harus dianalisa secara seksama tentang siapa yang terjangkit, kapan terjadinya dan dimana terjadinya penyakit tersebut (Rajab, 2009).

Selanjutnya, Rajab, 2009 menggambarkan bahwa seseorang dapat sakit atau terjangkit suatu penyakit sengaja atau tidak sengaja mengadakan penyakit. Proses ini melalui tahapan. Dalam proses ini terdapat enam komponen yang dapat menimbulkan terjadinya penyakit, yaitu :

  1. Penyebab penyakit. Bibit penyakit yang dapat menyebabkan penyakit disebut patogen.
  2. Reservoar dari agen penyebab adalah habitat normal tempat agen penyakit hidup, tumbuh dan berkembang biak.
  3. Cara keluarnya penyebab penyakit dari penjamu (melalui saluran nafas, saluran kemih, pencernaan, kulit dan transplansental)
  4. Cara penularan agen ke pejamu baru melalui metode kontak langsung dan droplet (tetes ludah) dan metode tidak langsung, yaitu melalui perantara (seperti nyamuk).
  5. Tempat masuk ke dalam pejamu umum sama antara tempat masuk dan keluarnya.
  6. Kerentanan/kepekaan pejamu. Faktor imunitas, faktor ketahanan tubuh, malnutrisi, dan sistem imunologi.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 10 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 11 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: