Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Dr Andri,spkj,fapm (psikiater)

Saya adalah seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter dan Psikiater dari selengkapnya

Bisakah Lepas dari Alprazolam? Pasti Bisa!

OPINI | 26 April 2013 | 11:35 Dibaca: 1657   Komentar: 3   3

Oleh : dr.Andri,SpKJ (Psikiater)

Malam ini saya kembali memeriksa pasien yang berkonsultasi masalah kesulitan melepaskan Alprazolam yang dia konsumsi sampai lebih dari 8-10 miligram perhari setelah 3 bulan tidak bertemu. Pasien ini sudah pernah kontrol dua kali sebelumnya dan diberikan pedoman untuk melepaskan alprazolam yang dia makan sehari-hari tersebut dengan dosis yang sangat besar.
Selama 3 bulan ini ternyata karena alasan rumah yang cukup jauh (pasien tinggal di Bogor sedangkan saya praktek di Tangerang) pasien meminta bantuan temannya yang dokter umum untuk membantu mengawasi makan obat sesuai pedoman yang diberikan sekaligus membantu meresepkan obat-obat yang sesuai dengan pedoman tersebut. Pasien berhasil menurunkan dosis alprazolam dari 8 miligram ke dosis terakhir saat diperiksa tadi yaitu 1 miligram per hari.
Pasien mengatakan hal tersebut tentunya bukan tanpa masalah. Pasien merasakan sendiri rasanya tidak nyaman dan cemas karena berusaha menurunkan alprazolam yang awalnya dipakai sangat tinggi dan lambat laun harus diturunkan. Penggunaan antidepresan untuk mengurangi kecemasan tidak terlalu berhasil pada awal program tetapi kemudian berhasil setelah beberapa minggu. Pada artikel ini akan saya bahas sedikit tentang tahapan program tersebut secara umum. Secara khusus program tahapan penurunan alprazolam ini sangat individual tergantung pasien. Artikel ini bukan untuk sebagai pedoman yang dilakukan sendiri pasien tetapi sebagai motivasi bahwa dengan cara yang benar, masalah ketergantungan alprazolam bisa diatasi. Agar lebih mampu diharapkan pasien berkonsultasi dengan psikiater.

Mengapa Sampai Memakai Alprazolam?

Banyak alasan yang diungkapkan pasien ketika ditanya mengapa sampai memakai alprazolam. Gangguan tidur, kecemasan, gangguan psikosomatik adalah beberapa hal yang sering dikatakan sebagai awal permulaan pemakaian obat ini. Alprazolamnya pun diberikan pertama kali oleh dokter yang memang dikira pasien adalah orang yang paling memahami pengobatan. Walaupun banyak juga pasien yang coba-coba sendiri atas saran teman, apalagi sebelum tahun 2009 ketika alprazolam masih bebas dibeli di mana saja tanpa resep.
Sayangnya kadang kala penggunaan alprazolam ini ternyata melebihi apa yang disarankan. Banyak hal ini diawali karena ketidakpahaman pasien sendiri akan obat yang dimakan dan juga karena ada beberapa pasien yang memang sengaja menggunakannya dalam jumlah yang tidak disarankan dokter karena merasa menambah dosis obat alprazolam tidak akan bermasalah. Padahal alprazolam mempunyai potensi yang tinggi untuk bertambahnya dosis saat penggunaan (toleransi), ketergantungan (dependensi) dan kesulitan lepas karena efek putus zat-nya yang hebat (withdrawal).
Banyak pula dokter yang tidak terlalu memahami penggunaan obat ini. Pengetahuan yang minim memang dimaklumi karena sebenarnya indikasi alprazolam adalah untuk gangguan cemas panik dan pasien dengan kondisi seperti ini ada baiknya memang ditangani oleh psikiater alias dokter jiwa yang memahami benar aspek-aspek obat alprazolam ini. Pada kenyataan di praktek, banyak penggunaan alprazolam lebih pada ingin efek menenangkannya.

Bagaimana menghilangkan penggunaan Alprazolam

Alasan memakai alprazolam pada banyak kasus adalah untuk menenangkan. Kondisi psikosomatik seperti gangguan maag atau kecemasan sehingga membuat tidak bisa tidur juga banyak diresepkan obat ini. Sebenarnya jika dipakainya hanya dalam waktu singkat atau hanya sesekali saja pasien bisa menggunakan obat alprazolam ini dengan pengawasan dokter yang memahami. Seperti saya pernah katakan dalam banyak artikel saya tentang obat, obat-obat itu seperti pisau, bisa berguna sekali juga bisa membahayakan jika tidak paham menggunakannya.
Pada pasien yang sudah telanjur memakai obat ini dalam dosis besar maka ada baiknya pasien menyadari harus berhenti. Motivasi juga harus disadari oleh pasien. Pasien juga harus memahami bahwa proses penurunan dosis ini akan tidak nyaman karena alprazolam akan diturunkan dan digantikan perannya secara perlahan oleh antidepresan. Tentunya motivasi untuk bisa mempertahankan pengobatan pada program yang sudah dirancang khusus untuk pasien.
Waktu penurunan dosis alprazolam dirancang setiap minggu atau dua minggu tergantung kondisi pasien. Intinya proses itu harus terus dilakukan dengan pengawasan dokter yang memahami. Naik turun kondisi adalah hal yang biasa dan hal tersebut jangan membuat motivasi pasien jatuh.

Dengan disiplin yang baik, motivasi yang kuat, pengawasan dokter dan program yang baik akan membuat masalah lepas dari alprazolam bisa dilakukan dengan baik dan sukses oleh pasien. Semoga artikel ini bisa membantu. Salam Sehat Jiwa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 8 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 9 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 10 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 11 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: