Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Andreas Prasadja

Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , selengkapnya

Kebiasaan Mendengkur Sebabkan Tertidur Saat Mengendara

REP | 15 April 2013 | 09:05 Dibaca: 183   Komentar: 0   0

Anda mendengkur? Hati-hati, penelitian dari the University Hospital di Leeds, Inggris, menyatakan bahwa pendengkur yang menderita sleep apnea, kemungkinan besar tertidur saat mengendara, dibandingkan dengan orang sehat.

Sleep Apnea

Sleep apnea adalah salah satu penyakit tidur yang paling banyak diderita, paling berbahaya dan paling diabaikan. Sebabnya mudah saja, mendengkur dianggap wajar. Padahal penderitanya ada dimana-mana, di sekeliling kita, atau bahkan diri kita sendiri menderita penyakit ini.

Sleep apnea memiliki dua gejala utama, mendengkur dan kantuk berlebihan atau disebut juga dengan istilah hipersomnia. Penderitanya memiliki saluran nafas yang melemas dan menyempit saat tidur. Akibatnya aliran udara tak dapat lewat walau gerakan nafas terus berusaha menarik. Karena sesak seolah tercekik, pendengkur terbangun sejenak untuk mengambil nafas tanpa tersadar. Ini terjadi berulang kali sepanjang malam, tak heran jika penderitanya bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Penelitian

Dalam penelitian ini, sebanyak 133 penderita sleep apnea yang tidak dirawat dan 89 orang sehat diminta untuk menempuh 90 km dengan menggunakan simulator mengendara. Dinilai juga bagaimana mereka menyelesaikan jarak yang ditempuh dan bagaimana mereka merespons kecelakaan atau kondisi hampir mengalami kecelakaan.

Hasilnya, para pengemudi yang mendengkur dan menderita sleep apnea, kemungkinan besar gagal melalui test ini. Sebanyak 24% penderita sleep apnea yang belum dirawat gagal melalui test tersebut, dibanding yang sehat hanya 12%. Para pendengkur dengan sleep apnea ini tak dapat menyelesaikan test, tak dapat mengikuti instruksi selama test dan mengalami kecelakaan!

Selanjutnya sebanyak 118 penderita sleep apnea yang tak dirawat dan 69 orang sehat diminta untuk mengisi survey tentang pengalaman mereka berkendara sehari-hari dan selama menjalani test simulator. Hasilnya lebih dari sepertiga (35%) mengaku terantuk-antuk tertidur selama berkendara. Para peneliti mencatat sebanyak 38% pendengkur gagal menjalani test ini. Dibanding pada yang sehat hanya 11% yang tertidur. Para peneliti mencatat bahwa tak ada satu pun orang sehat yang gagal dalam test ini.

Walau pada kelompok yang sehat ada juga yang gagal menjalani test, tetapi penyebabnya bukanlah tertidur. 13 penderita sleep apnea tertidur dan keluar dari jalan sama sekali. Sementara sebanyak 5 orang, mengendara di luar jalur sebanyak 5% dari total test. Padahal jelas mereka diminta untuk terus berada di jalurnya.

Mengendara Dengan Kantuk

Mengendara dalam kondisi mengantuk sama bahayanya dengan berkendara sambil mabuk.

Berkendara dalam kondisi mengantuk dapat dianggap tak bertanggung jawab, karena mengemudi dalam kondisi tak layak. Jangankan tertidur, mengantuk saja sudah dianggap berbahaya, karena telah terjadi penurunan kemampuan konsentrasi, kewaspadaan dan refleks untuk menghindar.

The American Automobile Association menyatakan bahwa satu dari enam kecelakaan yang sebabkan kematian dan satu dari delapan kecelakaan yang akibatkan korbannya harus dirawat di rumah sakit, disebabkan oleh kantuk!

Para peneliti di Amerika menduga ada 70 juta penduduk yang menderita gangguan tidur. Akibat dari gangguan tidur adalah mengantuk. Resiko utama dari mengantuk adalah keselamatan di jalan.

Survei National Sleep Foundation di tahun 2012 cukup mengejutkan. Para pekerja transportasi ternyata mengaku mengantuk saat bekerja dan terganggu performanya sebagai akibat dari kantuk. Persisnya ada 26% operator kereta dan 23% pilot yang mengaku mengantuk, dibanding hanya 17% pekerja non transportasi.

Mendengkur dan Mengendara

Penelitian tadi hanya mempertegas sesuatu yang sudah lama diketahui. Bahkan peraturan di Inggris Raya dengan jelas memasukkan penderita sleep apnea sebagai kelompok pengendara yang beresiko.

Driver and Vehicle Licensing Agency (DVLA) pemerintah Inggris, menyatakan bahwa penderita sleep apnea diwajibkan untuk melaporkan dirinya. Kemungkinan besar penderita sleep apnea harus menyerahkan surat ijin mengemudinya.

Pihak rumah sakit di Inggris pun terus berkomunikasi dengan DVLA tentang kondisi pasiennya. Namun, selama pasien dalam perawatan CPAP dan terkontrol baik oleh dokter, pendengkur masih dianggap layak untuk mengendara.

Peraturan senada juga dapat ditemui di beberapa negara Eropa. Australia diketahui juga menerapkan hukum yang sama terhadap penderita sleep apnea.

Bagaimana dengan Indonesia?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 5 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 7 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Daffa (2thn) Atlit Cilik Taekwondo …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | 8 jam lalu

Anak Muda Haruskah Dipaksa? …

Majawati Oen | 8 jam lalu

Gigi berlubang Pada Balita …

Max Andrew Ohandi | 8 jam lalu

Sosialisasi Khas Warung Kopi …

Ade Novit | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: