Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Irin Hidayat

Suka mengamati, tapi belum layak disebut pengamat.

Orang Miskin (Masih) Dilarang Sakit

REP | 12 April 2013 | 13:04 Dibaca: 438   Komentar: 12   0

Sumber Gambar: i.ytimg.com

Sumber Gambar: i.ytimg.com

Anda seorang kutu buku? Tentu tahu dengan buku karangan Eko Prasetyo yang berjudul “Orang Miskin Dilarang Sakit”, bukan? Jika Anda bukan pencinta buku pun, maka tak ada salahnya Anda membaca buku tersebut. Bisa melalui e-book atau melalui buku yang berdar luas di pasaran.

Pengarang tentu sudah amat paham akan kondisi bangsa ini hingga berani menuangkan gagasan yang berbentuk kritik ini ke ranah publik. Jika Anda pernah berurusan dengan lembaga kesehatan negeri ini, mungkin Anda akan memahami mengapa gagasan seperti ini bisa tumbuh dan bersemi. Awalnya, saya juga agak mengernyitkan dahi ketika membaca judul buku tersebut. Bagaimana mungkin orang—sekalipun miskin—dilarang merasakan sakit. Bukankah sakit adalah fenomena psikis yang amat kompleks strukturnya hingga tak mungkin kita melarangnya untuk muncul. Apalagi sakit adalah takdir Tuhan yang tak mungkin ada yang bisa menghalanginya. Jadi, tak mungkin ada yang berani mencegah seseorang untuk merasakan sakit. Belakangan baru saya pahami setelah saya mengetahui sendiri di lapangan.

Beberapa saat yang lalu saya baru saja mengurus kepulangan ayah saya dari sebuah rumah sakit di kota yang tercatat sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Sebenarnya penyakit ayah saya ini sudah terdeteksi enam tahun silam, hanya oleh dokter yang dahulu memeriksa dianggap sudah sembuh. Karena sakit tersebut kambuh lagi, maka saya putuskan untuk mengeceknya di rumah sakit. Kebetulan rumah sakit yang yang saya tuju ini berlabel UMUM.

Selesai pemeriksaan di UGD (Unit Gawat Darurat), saya mendapat informasi dari dokter yang saat itu memeriksa kondisi ayah saya menyatakan bahwa penyakitnya sudah cukup parah dan harus segera dioperasi. Akhirnya, saya putuskan untuk dioperasi di rumah sakit tersebut, walau sebenarnya agak ragu karena pelayanan di rumah sakit ini terkenal dengan “kehati-hatiannya”. Ini bukan isapan jempol belaka, saking hati-hatinya tetangga saya yang menggunakan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) pernah ditolak berobat di situ dengan alasan kamar penuh. Karena tak terurus—tanpa menyalahkan takdir Tuhan—tetangga saya ini meninggal.

Singkat cerita, ayah saya dioperasi tiga hari sejak masuk di rumah sakit tersebut. Saya bersyukur segera ada tindakan medis, walau sebenarnya ini termasuk lama jika dibandingkan dengan pelayanan di tempat lain. Karena tak ada kamar lain yang kosong, akhirnya ayah saya ditempatkan di kamar kelas tiga yang berpenghuni enam pasien. Berhubung kamar ini khusus pasien yang akan menjalani operasi, maka berbagai penyakit aneh—bagi orang awam—saya jumpai di sini. Ada yang kena tumor di kaki, di wajah, di perut, yang besarnya mencapai bola tendang.

Kurang lebih sepuluh hari ayah saya dirawat di rumah sakit ini. Selama itu, kadang saya mengajak berbincang-bincang pasien yang kebetulan masih bisa diajak bertukar pikiran. Selesai perbincangan, saya cukup kaget karena rata-rata mereka sudah menetap di rumah sakit ini selama kurang lebih satu bulan.

“Kenapa bisa selama itu, Pak?” tanya saya penasaran.

“Maklum Mas, kami-kami ini menggunakan Jamkesmas, jadi prosesnya lama,” jawab salah satu pasien.

“Beruntung, Mas punya uang jadi bapak Mas bisa cepat dioperasi,” ungkap pasien lainnya menimpali.

Dalam hati saya merasa iba, Jika saya punya lebih, pasti saya berikan ke bapak semua. Ternyata, inilah jawabannya mengapa orang miskin (masih) dilarang sakit. Saya pikir, setelah buku karangan Eko Prasetyo terbit, akan banyak hati anak manusia yang terketuk, lalu mengubah sistem dan birokrasi yang amat menyengsarakan rakyat kecil seperti yang ada saat ini.

Walau bukan keluarga sendiri yang mengalami, saya cukup terhenyak mengetahui kronisnya sikap tak acuh para praktisi kesehatan terhadap mereka yang kurang mampu di negeri ini. Lihat saja di berbagai media yang kadang masih memberitakan tertolaknya orang miskin saat akan berobat ke rumah sakit. Dan lebih miris lagi ada yang melahirkan anak di emperan rumah sakit karena tak diperkenankan masuk oleh petugas berhubung yang bersangkutan adalah orang miskin. Jika demikan, lalu apa gunanya ada program Jamkesmas, Jamkesda, dan Jam-Jam lainnya? Apa program tersebut hanya sebagai pemanis birokrat saja kala berkuasa?

Saya berharap semoga penyakit mereka akan segera dioperasi dalam waktu dekat ini, walau itu sepertinya mustahil. Kadang saya berpikir, kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit dengan selalu berapologi bahwa penyakitnya belum terdeteksi; harus diperiksa lagi, harus tes ini, harus tes itu; giliran mau dioperasi sang dokter dengan enteng mengatakan: “Ini hanya bisa diamputasi”. Jika hanya bisa diamputasi mengapa harus menunggu hingga satu bulan. Saya rasa tidak ada satu pasien pun yang ingin dijadikan kelinci percobaan gara-gara tak mampu membayar. Lalu apa bedanya dengan pengobatan tradisional.

Apa para praktisi kesehatan itu telah lupa akan sumpah profesi yang dulu pernah mereka ucapkan kala akan menyandang gelar DOKTER. Apa mereka lupa bahwa penyakit tak pandang profesi hingga mereka pun bisa sakit dan mati. Apa karena mereka ahli hingga tak takut lagi peringatan Ilahi. Mari kita doakan para pengampu kebijakan di negeri ini, juga para praktisi yang terdidik dengan menyandang banyak prestasi, semoga mereka segera sadar dan menebusnya dengan benar-benar mengabdikan diri pada masyarakat sesuai dengan sumpah profesi yang diucapnya dahulu dengan penuh rasa percaya diri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 22 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 24 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 December 2014 09:14

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 December 2014 08:49

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: