Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Kosasi Kwek

Dokter umum, lulusan FK-Universitas Tarumanagara, Jakarta, tahun 1998. Lahir di Medan. Tinggal dan bekerja di Rengat, Propinsi Riau, selengkapnya

Hipertensi : Awas, Tak Ada Gejalanya

HL | 12 April 2013 | 10:02 Dibaca: 2398   Komentar: 18   12

Di banyak negara berkembang - termasuk Indonesia, masih banyak orang percaya bahwa hipertensi atau kenaikan tensi menyebabkan sakit kepala, atau pusing, atau pening, atau migrain, atau oyong-oyong, atau vertigo. Akibatnya, mayoritas orang yang tidak mengalami keluhan kepala sering merasa yakin dirinya bertensi normal, sehingga merasa tidak perlu memeriksa tensinya secara rutin. Kebanyakan orang baru memeriksa tensi setelah mengalami keluhan-keluhan kepala.
1365735036428736425.
Kesalahpahaman ini diperparah  oleh sebagian kalangan medis dan paramedis yang juga memandang hipertensi atau kenaikan tensi sebagai penyebab keluhan kepala. Akibatnya, kita menjadi lalai atas penyakit yang sedang  berlangsung di dalam tubuh kita tanpa kita sadari. Banyak sekali jenis penyakit yang bisa ‘bersembunyi’ di balik hipertensi atau kenaikan tensi, tanpa menunjukkan gejala apapun sebelum penyakitnya mencapai tingkat lanjut atau menimbulkan komplikasi. Padahal, terdeteksinya hipertensi bisa menuntun ke pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan hingga penemuan penyakit-penyakit yang tersembunyi di balik hipertensi, seperti  kencing manis (diabetes), kolesterol, lemak darah (trigliseride), kelebihan hormon gondok (hipertiroid), anemia atau kurang darah, bahkan penyakit-penyakit keganasan (kanker).
.
Jika kita sangat jarang atau tidak pernah memeriksa tensi kita, otomatis kita juga  tidak menyadari ada tidaknya penyakit-penyakit yang menyebabkan kenaikan tensi atau hipertensi. Tidaklah mengherankan jika di Indonesia kita sering mendengar ucapan, “Selama ini tidak pernah sakit, mengapa bisa kena stroke?!” “Selama ini tidak pernah sakit, mengapa bisa kena jantung koroner?!” “Selama ini tidak pernah sakit, mengapa bisa kena ginjal?!” , dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa timbul karena kita masih yakin  bahwa “tidak merasa sakit berarti tidak ada penyakit”, “tidak ada keluhan kepala berarti tensi tidak tinggi” ; dan juga karena pemeriksaan kesehatan (medical check-up) belum menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang.
.
Badan Kesehatan Dunia : Kendalikan Tekanan Darah Anda
.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) memfokuskan masalah global atas hipertensi karena walaupun jumlah populasi yang bertensi tinggi diperkirakan mencapai sepertiga dari jumlah orang dewasa, namun hipertensi ini sering tersembunyi. Banyak orang tidak menyadari dirinya bertensi tinggi karena tensi tinggi (hampir selalu) tidak memberikan gejala apa-apa. Akibatnya, secara global ia menimbulkan lebih dari 9 juta kematian per tahun, termasuk setengah dari jumlah itu disebabkan oleh penyakit jantung dan stroke.
.
Namun, hipertensi bisa dicegah dan diobati. Deteksi dini adalah kuncinya. WHO menghimbau : semua orang dewasa harus mengetahui tensinya.
.
Resiko kenaikan tensi bisa dikurangi dengan cara :
- mengurangi asupan garam.
- diet menu seimbang.
- rutin berolahraga.
- menghindari alkohol.
- menghindari rokok.
.
Dengan kata lain, tensi cenderung tinggi jika kita :
- kelebihan konsumsi garam / makanan asin-asin.
- menjalankan diet tidak sehat, tidak seimbang.
- jarang / tidak pernah olahraga.
- punya kebiasaan minum alkohol.
- merokok.
.
Mengendalikan hipertensi dan faktor-faktor resiko lain, adalah cara terbaik untuk menghindari serangan jantung dan stroke.
.
Bagi banyak orang, mengubah gaya/kebiasaan hidup saja sudah cukup untuk mengendalikan tensi. Bagi sebagian lainnya, diperlukan pengobatan untuk hipertensinya. Ada banyak golongan dan jenis obat hipertensi, mulai dari yang berharga Rp100,- per tablet sampai yang berharga Rp20.000,- an per tablet.
.
Jika di antara kita ada yang bertensi tinggi, yang terpenting bagi kita adalah mengetahui penyebab dari kenaikan tensi atau hipertensi kita. Dengan mengetahui penyebab hipertensi atau kenaikan tensi kita, kita lebih berkesempatan mengobati penyebabnya, bukan hanya mengobati gejala atau tanda-tandanya, bukan hanya mengobati hipertensinya saja. Banyak kasus hipertensi yang bisa dikendalikan hanya dengan mengobati penyebabnya saja, tanpa obat anti hipertensi.
.
Sebaliknya, banyak sekali kasus hipertensi yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat anti hipertensi saja, karena penyebab hipertensi atau kenaikan tensinya belum ditemukan dan belum diobati. Ada banyak contoh orang yang sudah rutin atau bahkan sudah bertahun-tahun mengkonsumsi obat anti hipertensi tapi tensinya tetap tidak turun sampai angka yang diharapkan.
.
Tensi : Mengapa bisa naik ?
.
Ada banyak penyebab kenaikan tensi ; ada yang merupakan penyebab alami maupun yang merupakan penyakit. Penyebab kenaikan tensi atau hipertensi yang paling sering antara lain :
.
a.Umur
Semakin bertambah umur, semakin tebal dan kaku pembuluh darah, semakin  kuat jantung harus memompa, akibatnya  tensi semakin tinggi.
.
b.Berat badan
Semakin bertambah berat badan, semakin tinggi tuntutan terhadap zat-zat gizi, mengharuskan jantung bekerja lebih berat, menghasilkan kenaikan tensi. Tidak berarti bahwa semua orang gemuk bertensi tinggi, ada juga yang bertensi normal; tapi secara umum, semakin gemuk seseorang, semakin tinggi tensinya.
.
c.Darah terlalu kental
Semakin kental darah, semakin berat kerja jantung, semakin tinggi tensi. Darah yang terlalu kental bisa disebabkan oleh kelebihan kadar gula darah, kolesterol, lemak darah (trigliserid), dan akibat rokok.
.
d.Darah terlalu encer atau kurang darah (anemia)
Darah yang terlalu encer atau kurang darah memaksa jantung bekerja lebih kuat/keras untuk memompa darah, akibatnya  tensi menjadi tinggi.
.
e.Kelebihan gondok ( hipertiroid ), karena kelebihan konsumsi garam beryodium. Baca juga tulisan kami tentang hipertiroid di Kompasiana tanggal 3 Februari 2013 berjudul “Tangan Berkeringat : Bukan Sakit Jantung, Jadi Sakit Apa ?”
.
f.Penyakit jantung, seperti penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung, kelainan katup jantung, dan beberapa penyakit jantung bawaan.
.
g.Penyakit/kelainan ginjal.
.
h.Tumor otak.
.
i.Keganasan/kanker.
.
j.Obat-obat tertentu.
.
k.Dan lain-lain, masih banyak penyakit lain yang bisa menimbulkan kenaikan tensi atau hipertensi.
.
.
Tensi : Antara mitos dan fakta
.
Berikut ini adalah beberapa mitos dan salah paham masyarakat Indonesia tentang tensi :
.
Tensi tinggi itu penyakit keturunan
Tidak benar. Faktanya, hampir semua bayi dilahirkan dengan tekanan darah normal. Hanya segelintir bayi yang lahir dengan tekanan darah tinggi, yaitu jika terdapat ‘kelainan jantung bawaan’ tertentu. Benar terdapat contoh-contoh keluarga yang banyak anggotanya bertensi tinggi; tapi itu disebabkan oleh faktor lingkungan yang sama, pola hidup dan pola makan yang sama, yang  membuat tensi mereka tinggi.
.
Tensi tinggi menyebabkan sakit kepala atau pusing atau pening atau oyong-oyong atau vertigo?”
Tidak benar. Ini adalah salah satu mitos dan salah paham yang paling umum dalam masyarakat kita. Fakta yang benar adalah, keluhan kepala tidak disebabkan oleh kenaikan tensi atau hipertensi. Adalah benar bahwa pada saat timbul keluhan kepala, tensi biasanya (tapi tidak selalu) naik atau tinggi; tapi apa yang menyebabkan kenaikan tensi, itulah yang menjadi penyebab keluhan kepala. Sebaliknya, banyak orang bertensi sangat tinggi (misalnya 200 atau lebih) tidak mengalami keluhan apa-apa.
.
Pembahasan tentang sebab-sebab keluhan kepala dapat dilihat dalam tulisan kami di Kompasiana tanggal 18 Februari 2013 di http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/02/18/pusing-pening-sakit-kepala-migrain-vertigo-kenali-sebabnya-dan-hindarilah-529545.html
.
Tensi tinggi menyebabkan stroke?
Kita sering mendengar dan menyaksikan sendiri, “Si A kena stroke, tensinya 180!”, “Si B kena stroke, tensinya 220!”, “Si C kena stroke, tensinya 250!” dan seterusnya. Tapi apakah benar stroke disebabkan oleh hipertensi? Tidak benar. Fakta yang benar adalah, kenaikan tensi atau hipertensi bukan penyebab, tapi merupakan pencetus atau pemicu serangan stroke. Ini juga berarti, hipertensi merupakan faktor resiko terhadap terjadinya serangan stroke. Semakin tinggi tensi seseorang, semakin besar kemungkinan ia mengalami serangan stroke. Tiga penyebab utama stroke adalah diabetes (kencing manis), kelebihan kadar kolesterol dalam darah (hiperkolesterolemia), dan rokok. Adalah benar bahwa pada saat timbul serangan stroke, tensi (hampir) selalu naik atau tinggi; tapi apa yang menyebabkan kenaikan tensi, itulah yang menjadi penyebab stroke.
.
Tensi tinggi membuat orang jadi gampang marah?”
Tidak benar. Fakta yang benar adalah, jika seseorang sering/suka marah-marah, tensinya cenderung menjadi tinggi. Orang menjadi gampang marah bukan karena tensi tinggi, tapi karena ada banyak hal yang sering membuatnya marah-marah.
.
Tensi rendah berarti kurang darah? Tensi tinggi berarti kelebihan darah?
Tidak benar. Yang disebut kurang darah adalah anemia, yaitu kurangnya kadar Hb (Haemoglobin) dan/atau jumlah sel darah merah (eritosit/erythrocyte). Akibatnya, kandungan oksigen (O2) dalam darah berkurang, membuat jantung harus memompa lebih keras/kuat, menghasilkan kenaikan tensi atau hipertensi. Jadi, fakta yang benar adalah, kurang darah justru menaikkan tekanan darah. Jika kita mengerti hal ini, tidaklah mengherankan jika kita menemukan seseorang yang kurang darah bertensi tinggi, atau seseorang yang hipertensi tapi kurang darah (anemia).
Pandangan masyarakat awam selama ini bahwa “tensi rendah berarti kurang darah” atau “kurang darah ditandai dengan tensi rendah” , seratus persen salah. Kesalahpahaman yang satu ini juga termasuk warisan turun-temurun yang paling mendarah daging dan paling sulit dikoreksi, dari Sabang sampai Merauke.
.
Tensi rendah, makan daging kambing/sapi?
Dalam masyarakat kita, tensi rendah sering dituduh sebagai penyebab pusing.Lalu orang yang bertensi rendah sering dianjurkan makan daging kambing / sapi,  jeroan (organ dalam hewan), kuning telur, dan sebagainya untuk menaikkan tensinya. Apakah ini anjuran yang benar ? Tidak benar. Akibat dari mengikuti  nasehat/anjuran yang ’salah kaprah’ ini, kolesterol dan lemak darah (trigliserid) meningkat, mengentalkan darah, menaikkan tensi. Sebagian besar atau hampir semua orang yang mengikuti anjuran ini tidak merasakan perbaikan keluhan kepalanya, karena kenaikan kolesterol dan lemak darah justru memperberat keluhan yang dirasa. Yang terjadi justru sebaliknya ; setelah makan daging kambing/sapi atau jeroan atau kuning telur, keluhan-keluhan kepala menjadi lebih berat.
.
Tensi tinggi, tidak boleh donor darah?”
Tidak benar. Palang Merah Indonesia (PMI) menetapkan kriteria, orang dewasa boleh mendonorkan darah jika bertensi dari 100/60mmHg sampai maksimal 180/100mmHg. Jika seorang calon donor bertensi tinggi, sebenarnya tidak ada yang salah jika ia ingin mendonorkan darahnya, selama bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan tidak kurang darah (anemia). Jika tensinya tinggi karena kelebihan kadar gula darah, kolesterol, atau lemak darah (trigliserid), justru sangat menguntungkan baginya untuk mendonorkan darah di saat itu. Sebaliknya, jika seseorang kurang darah (anemia, bukan tensi rendah), ia dilarang berdonor darah, berapapun tensinya. Tentu saja dalam praktek di lapangan, tidak mungkin dilakukan pemeriksaan kadar Hb dan jumlah sel darah merah terhadap semua orang bertensi tinggi yang ingin berdonor darah. Ini juga menjadi salah satu penyebab PMI kita sering kekurangan stok darah, karena ada cukup banyak orang yang ketika akan mendonorkan darahnya, ditolak karena bertensi tinggi meskipun belum melewati 180/100mmHg.
.
Tensi tinggi harus makan obat seumur hidup?
Banyak orang percaya bahwa jika bertensi tinggi, harus makan obat seumur hidup. Apalagi jika yang mengatakan demikian adalah dokter Singapore dan/atau dokter Malaysia, seolah-olah sudah menjadi kebenaran yang tidak terbantahkan lagi. Apakah pernyataan ini benar ? Belum tentu benar. Kita harus lihat dahulu berapa tinggi tensinya; kita harus berusaha menemukan dahulu penyebab kenaikan tensi atau hipertensinya.
.
Seperti telah disebut di atas, banyak kasus hipertensi yang tidak perlu obat anti hipertensi jika dengan mengobati penyebabnya saja sudah bisa menurunkan tensi ke tingkat yang diharapkan. Dan ada lebih banyak kasus hipertensi yang tidak terkoreksi jika hanya diobati dengan anti hipertensi tanpa mengobati penyebabnya.
.
Tabiat mayoritas masyarakat Indonesia dalam berobat adalah menginginkan hasil pengobatan secara kilat/instan, “ingin cepat-cepat sembuh”, sehingga lebih memandang penurunan tensi sebagai hasil akhir; padahal yang lebih penting adalah menemukan dan mengobati penyebab  hipertensi, jika memungkinkan.
.
Sungguh sangat ironis menyaksikan sangat banyak orang Indonesia saat pulang berobat dari Singapore dan Malaysia membawa berkantong-kantong obat anti hipertensi untuk dikonsumsi berbulan-bulan atau bahkan untuk jangka waktu satu tahun, seperti pulang dari belanja di pasar tradisional ataupun supermarket.
.
WHO sendiri menyatakan, bagi banyak orang, menerapkan pola/kebiasaan hidup sehat saja sudah bisa berhasil mengendalikan tensi. Jika hipertensi seseorang bisa dikendalikan hanya dengan mengobati penyebabnya tanpa obat anti hipertensi, untuk apa minum obat anti hipertensi seumur hidup? Jika penyebab hipertensinya sudah diobati tapi tensinya masih tidak terkendali, baru boleh dipertimbangkan pengobatan anti hipertensi jangka panjang / seumur hidup. Jadi, pernyataan “tensi tinggi harus makan obat anti hipertensi seumur hidup” tidak bisa diberlakukan untuk semua orang bertensi tinggi, harus dilihat kasus per kasus.
.
Ketahui dan kendalikanlah tekanan darah anda
.
Tensi yang terkendali memang sangat mutlak dan penting untuk mengurangi resiko serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan (karena kerusakan saraf mata), dan sebagainya. Tapi di atas semua itu, menghindari dan mengobati penyebab kenaikan tensi atau hipertensi jauh lebih penting.
.
Mari kita merenung sejenak ; dalam 12 bulan terakhir ini, pernahkah kita memeriksa tekanan darah kita? Jika pernah, berapa kali? Jika selama ini anda sangat jarang atau tidak pernah memeriksa tekanan darah anda, mulai sekarang periksalah tekanan darah anda secara rutin dan teratur. Berapapun usia anda, menurut WHO, tensi orang dewasa sebaiknya tidak lebih dari 140/90 mmHg. Melangkahlah ke puskesmas terdekat atau berkunjunglah ke dokter terdekat/langganan anda masing-masing untuk memeriksa tensi anda.
.
Bagi pembaca yang kebetulan bertensi tinggi atau sudah terdeteksi menderita hipertensi, teruslah berusaha untuk mencari dan menemukan penyebab kenaikan tensi atau hipertensi anda. Pertimbangkanlah kembali apakah kebiasaan hidup dan pola makan kita selama ini ikut menyumbang kenaikan tensi kita. Jika anda dan dokter anda bisa bekerjasama dengan baik, sabar dan teliti; terdeteksinya hipertensi bisa menuntun ke pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan yang pada akhirnya bisa mengungkapkan penyebab hipertensi yang anda miliki. Jika selama ini anda divonis mengidap hipertensi dan hanya rutin mendapat obat anti hipertensi setiap kali berobat, jangan cepat berpuas  diri dahulu. Obat anti hipertensi memang penting; tapi menemukan, mengobati, dan (jika bisa) menyingkirkan penyebab hipertensi jauh lebih penting.
.
.
Salam Kompasiana
.
.
Rengat, April 2013.
.
.
Catatan :
Hari Kesehatan Sedunia diperingati setiap tanggal 7 April untuk menandai hari berdirinya Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada tanggal 7 April  1948. Setiap tahun, tema yang diusung berbeda-beda. Tahun ini (2013), temanya adalah hipertensi. Bermarkas besar di Geneva, Swiss (Switzerland), situs resmi WHO adalah www.who.int/en.
Tulisan ini sudah pernah kami terbitkan pada tanggal 5 April 2013 di Kompasiana, tapi hanya bertahan sekitar 3 jam lalu menghilang. Kami sudah menanyakan kepada Admin Kompasiana dan diakui terdapat gangguan jaringan pada saat itu. Untuk itu kami terbitkan kembali dengan sedikit penyesuaian.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementrian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Menggapai Semua Mimpi …

Akhmad Husaini | 8 jam lalu

Wife Destroyed …

Harry Nuriman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: