LOGIN   |   REGISTER

Nasib Lulusan SMK Kesehatan Tidak Jelas Mau Dibawa Kemana

| 02 March 2013 | 19:20 Dibaca: 2592   Komentar: 0   0

Bukan bongkar-pasang kurikulum pendidikan saja, permasalahan yang dihadapi siswa- siswi di Indonesia. Tapi, yang lebih ekstrim, Kemendiknas menghidupkan kembali jurusan Keperawatan tingkat Sekolah Lanjutan Atas yang telah mati. Jelas, Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), telah dihapus oleh Kemenkes pada tahun 1999. Lulusan SPK terakhir tahun 2002, setelah itu SPK yang ada di berbagai daerah dikonversi menjadi Akademi Keperawatan (Akper). Mengherankan, Kenapa Kemendiknas memberi izin lahirnya kembali SMK Kesehatan Jurusan Keperawatan. Lulusannya untuk apa?

1362221660640712021

Siswa-siswi SMK Bali Khresna Medika sedang melakukan praktek Keperawatan/ Photo: balinurseschool.com

Kurikulum yang diusung oleh SMK Keperawatan, mengadopsi pelajaran Keperawatan sebagaimana yang di pelajari mahasiswa di Akper, ataupun di jurusan Kesehatan Masyarakat. Seperti, pelajaran Kebutuhan Dasar Manusia (KDM), dan Promosi Kesehatan, seperti Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Kemudian, juga disertai Praktek Lapangan di Rumah Sakit, Puskesmas,dll. Tenaga pengajar juga ada dari Sarjana Keperawatan dan Sarjana Kesehatan masyarakat.

Seutuhnya, apa yang dipelajari siswa-siswi di SMK, tidak mendalam dan mendetil, layaknya belajar di Akademi/Universitas, dilengkapi dengan mata kuliah penulisan ilmiah, dan ilmu anatomi, fisiologi,patologi dan Asuhan Keperawatan.

13622219431710027799

SMK Kesehatan Surabaya/ Photo: www.smkkesehatansurabaya.sch.id

“SMK Bisa ! Siap Kerja, Cerdas dan Kompetitif.”  Terkhusus untuk SMK jurusan Keperawatan jargon dalam tanda kutip, tidak pantas disematkan. Banyak alasan yang melatar belakanginya. Promosi tentang SMK jurusan keperawatan yang mengiming-imingi calon siswa-siswi mudah mendapat pekerjaan di Pelayanan Kesehatan adalah pembodohan publik. Terindikasi, lahirnya SMK Kesehatan jurusan Keperawatan ‘membiniskan’ lahan pendidikan, yang akhirnya merugikan masyarakat.

Lulusan SMK Keperawatan, tidak bisa disebut sebagai Perawat. Belum ada Nomenklatur Kesehatan yang mengaturnya. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Wamenkes saat seminar nasional di UGM tentang “Optimalisasi Peran Agen Kesehatan Gigi dan Mulut Dalam Peningkatan Derajat Kesehatan Nasional. Kata Wamenkes,  Ali Ghufron, (2012) ” Mereka yang sekolah di SMK kesehatan dengan motivasi agar memiliki fungsi sebagai manusia agar dapat meningkatkan derajat kemanusiaan tentu tidak masalah. Tetapi bagi mereka yang berharap pekerjaan tentu akan terkatung-katung, karena SMK khusus kesehatan sesungguhnya tidak ada lagi nomenklatur yang mengatur.”

Senada dengan itu, Dewi Irawaty, MA. PhD, selaku Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam acara pertemuan Press Briefing di Gedung Kemenkes, sebagaimana yang dipublikasikan health.detik.com,(2011) bahwa “Untuk jadi perawat itu minimal D3 dan SMK jurusan keperawatan bukan sekolah untuk jadi Perawat.”

Sesungguhnya apa yang mendasari penolakan?

Selain bertujuan meningkatkan kualitas SDM. Perawat itu sendiri, dibawah koordinasi PPNI, tidak ingin dikatakan pembantu Dokter. Jika Perawat tidak bersedia disebut pembantu, apakah Perawat sudah memiliki pendidikan layaknya dokter? Dokter tidak menolak Perawat sebagai mitra kerjanya, karena memang saling membutuhkan untuk memajukan kesehatan masyarakat, namun apakah Perawat memiliki kompetensi layaknya kompetensi yang dimiliki dokter?

Pertanyaan di atas salah satu alasan dihapusnya SPK. Di bawah kendali Menteri Kesehatan. Kualitas Perawat harus ditingkatkan. Sebelum dihapusnya SPK, Tahun 1983 cikal-bakal lahirnya kesadaran akan pentingnya profesionalitas, tertuang dalam Lokakarya Nasional Keperawatan.

Perawat diharapkan menguasai berbagai aspek, mampu jadi peneliti, menyeimbangkan kemampuan praktik dengan teori.  Achir Yani S, Hamid, DN. Sc, dkk , dibantu beberapa pakar dari Konsorsium Ilmu Kesehatan dan sembilan pakar Keperawatan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempelopori lahirnya PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan).

Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan SK Dirjen DIKTI No. 339/D2/1985 menyetujui lahirnya pendidikan tinggi keperawatan dan merupakan pendidikan tinggi jenjang Sarjana yang pertama di Indonesia untuk profesi Perawat ysng terletak di Kampus Universitas Indonesia.

Berdirinya PSIK tak terlepas dari bantuan Dokter. Bukti nyata, Dokter juga ingin Perawat menjadi profesional,sebut saja Prof. Dr. Marifin Husein selaku Ketua Konsorsium Ilmu Kesehatan. Beliau ikut memperjuangkan lahirnya PSIK-FKUI. Dan, Sesuai surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. nomor 0332/O/1995 tanggal 15 Nopember 1995, PSIK telah disyahkan menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI). PSIK-FKUI pun memisahkan diri dari Fakultas kedokteran menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan UI.

Langkah mundur atas kebijakan Kemendiknas memberi izin berdirinya SMK Keperawatan, jadi pertanyaan besar. Sesungguhnya apa motivasi sebenarnya? Sementara UI sedang giat mengembangkan program S3 untuk Perawat, di sisi lain, lahir pula pendidikan keperawatan vocasional setara SPK yang telah mati.

Koordinasi Kemendiknas dan Kemenkes tidak sejalan

Munculnya SMK Keperawatan, patut di sesali, terutama oleh kalangan Perawat di berbagi Forum di dunia maya. Tapi, tidak oleh Perawat yang terlibat jadi guru di SMK, mereka ‘menangguk di air keruh.’  Siswa-siswi jadi  korban, mereka tidak bisa praktek di Rumah Sakit.  Karena, tujuan mereka praktek di Rumah Sakit untuk apa? Mereka tidak diakui sebagai calon Perawat oleh PPNI, juga tidak direstui oleh Kemenkes sebagai calon tenaga kesehatan.

Kemendiknas tidak berkoordinasi dengan Kemenkes dalam pengeluaran izin sekolah SMK. Jika MoU ada, tentunya bagian Diklat Rumah Sakit tidak akan berani menolak, ketika siswa-siswi ingin melaksanakan praktek ke pasien.  Jika Rumah Sakit menerima, tentunya tidak patuh lagi pada pernyataan Wamenkes, bahwa belum ada nomenklatur yang mengaturnya.

Sistim pendidikan nasional berubah menurut pasar, bukan menurut kebutuhan. Ketika profesi kesehatan diminati, dunia pendidikan terkesan ‘latah’ menyediakan lahan belajar, yang tidak jelas lulusannya mau dikemanakan.

Lulusan SMK  Keperawatan, nyata tidak akan diterima di dunia kerja sebagai tenaga Perawat.  Lalu mereka mau kemana? Apakah melanjutkan kuliah? Maka di sini masalah akan bertambah.  Mereka tidak belajar bidang studi layaknya tes masuk perguruan tinggi. Jika ingin melanjutkan ke Fakultas Ilmu Keperawatan negri, maka mereka juga harus punya ijazah SLTA. Alhasil, lulusan SMK pun akan diterima di STIKes abal-abal yang tidak memperdulikan calon mahasiswa punya ijazah apa, yang jelas ada uang, bisa jadi mahasiswa.

Karut-marut sistim pendidikan di Indonesia, membawa dampak buruk bagi masyarakat. Di satu sisi ingin maju, di sisi lain ingin mundur, alhasil masyarakat jadi korban.  Penulis berharap, Kemendiknas seiring sejalan dengan Kemenkes, agar penduduk Indonesia tidak terkecoh dan terus dibodohi oleh program-program antah-barantah yang tidak jelas keberadaannya.

Terakhir, mengutip judul majalah yang diterbitkan Pusat Informasi dan Humas Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Edisi 1, Januari 2013, yaitu ” Membeli Masa Depan dengan Harga Sekarang.” Semoga siswa-siswi yang telah masuk SMK Kesehatan jurusan Keperawatan tidak “membeli kucing dalam karung” tapi benar-benar telah membeli masa depan yang belum jelas mau di bawa kemana?

Jika siswa-siswi telah mendapatkan fakta, ikuti jalur yang benar menurut ’syariat’ Kemenkes dan PPNI. Jangan tergiur dengan promosi yang tidak jelas.  Jangan sandarkan masa depan anda pada pendidikan yang masih jadi polemik di kalangan birokrat.

Salam,

Anton Wijaya

Payakumbuh, 1 Maret 2013

E-mail: antonwijaya137@yahoo.co.id

Tulisan ini di ikut sertakan dalam Kompetisi Blog “Club Air Mineral” dengan tema “Menyelaraskan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja”  Semoga Bermanfaat.

Referensi:

  • http://www.smkkesehatansurabaya.sch.id/index.php/en/2011-12-02-16-45-20/biodata/guru
  • http://balinurseschool.com/kompetensi-keahlian/formal/bidang-keperawatan/
  • http://bahanajarsmkperawat.blogspot.com/
  • http://health.detik.com/read/2011/05/06/172303/1634251/763/lulusan-smk-keperawatan-tidak-bisa-jadi-perawat
  • http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=5115
  • http://zohrahs.blogspot.com/2012/08/sejarah-perkembangan-keperawatan-di.html
  • http://www.fik.ui.ac.id/content/sejarah


Komentar

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Peserta

Rifki Feriandi

Selamet Hariadi

Haendy Busman

Agnes Dwi Radiktiani

Aspiansyah

Nahoras Bona Simarmata

Achmad Siddik

Abu A.

Embun Pagi

Arsip Tulisan Club