Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Rihi Here Wila

dokter spesialis anak, tinggal di Kediri

‘Cuci Otak’ ala Dr. T di Jakarta vs Dr. Gunawan Simon

OPINI | 24 February 2013 | 16:42 Dibaca: 1153   Komentar: 0   0

Media khususnya internet mempunyai peranan sangat penting dalam pendidikan. Pendidikan Kesehatan Masyarakat di era internet seperti sekarang memerlukan ahli-ahli dalam bidang kesehatan/kedokteran yang mau menulis sebagai sarana pendidikan. Sayangnya tidak banyak para ahli kesehatan/kedokteran yang mau menulis (barangkali karena ketiadaan waktu) yang berakibat sumber informasi kesehatan/kedokteran khususnya untuk negeara kita dirasakan kurang. Penggunaan metoda diagnostik maupun terapeutik sangat berbeda. Keduanya memerlukan bukti-bukti ilmiah yang sahih apabila akan digunakan pada manusia. Memang ada modalitas diagnostik yang sekali juga bisa digunakan untuk terapi (misalnya ‘colon inloop’ pada kasus invaginasi) akan tetapi pada umumnya modalitas diagnostik (laboratorium, radiologi dsb) dilakukan untuk membantu penegakkan diagnosis yang akan dilanjutkan dengan langkah terapeutik yang tentu saja harus berbasis pada keamanan dan kenyamanan pasien. Akhir-akhir ini muncul kontroversi akibat tindakan ‘cuci otak’ yang dilakukan oleh seorang dokter Radiolog di RSPAD Jakarta. Kontroversi karena metode itu tidak jelas apakah untuk diagnostik atau terapi. Laporan ilmiah pun belum ada tentang hal tersebut (belum EBM, Evidence Based Medicine) pada hal setiap tindakan apakah diagnostik ataupun terapi haruslah berdasarkan bukti. Yang sudah EBM pun terkadang perlu revisi-revisi sesuai penemuan terbaru. Lha, kalau metode ‘cuci otak’ tersebut sudah di gembor-gemborkan keberhasilannya terutama oleh seorang kolumnis terkenal seperti pak Dahlan Iskan yang juga Menteri BUMN (Jawa Pos, 18 Februari 2013) menurut saya akan sangat menyesatkan. Mungkin pak Dahlan masih ingat kasus dr. Gunawan Simon (GS) sekitar 20 tahunan lalu yang terkenal sebagai ‘terkun’. Kasus ‘cuci otak’ ala Dr. T saat ini menurut saya hampir serupa, bedanya sekarang ini menggunakan alat canggih yang dikenal sebagai angiografi (yang notabene adalah alat/ modalitas diagnostik) dan obat yang tidak diketahui nama maupun cara kerja dan dosis serta efek  samping yang bisa ditimbulkannya. Dokter GS tidak menggunakan alat canggih untuk diagnostik tetapi juga menggunakan obat yang tidak diketahui bahan dasar, dosis maupun efek sampingnya. Dr. GS diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran dan dinyatakan ‘bersalah’, ijin prakteknya sebagai dokter dicabut. Kita tunggu perkembangan kasus Dr. T  sekarang ini, bagaimana pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan dan IDI melalui Majelis Kode Etik Kedokteran menyikapinya sambil menghimbau media (internet maupun tulis dan televisi) tidak mem’blow up’ kasus ini demi kebaikan masyarakat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 5 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 5 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 6 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 7 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: