Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Margono, Leukimia dan Rumah Singgah Impian

REP | 13 February 2013 | 19:35 Dibaca: 329   Komentar: 0   0

Oleh : Afita Sulfiana

Pegawai Rekam Medis di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya

Pagi itu tanggal 4 Februari 2013 tepatnya pukul 07:00, saya berjalan menuju ruang tempat saya biasa bekerja. Saya adalah tenaga perekam medik di Instalasi Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD dr.Soetomo Surabaya.

Sudah menjadi hal yang biasa bagi saya melewati lorong bangsal penderita. Rupanya ada yang meninggal pagi ini. Brangkat (tempat tidur jenazah) dan jenazah Margono masih ada di lorong. Ini pasti menunggu saya untuk penyelesaian administrasi, pikir saya. Ternyata keluarga memang sedang melakukan pengurusan administrasi, begitu info yang saya peroleh dari seorang teman.

Sontak saya terkejut ketika mengetahui yang meninggal pagi ini adalah Margono. Kami yang bertugas di bangsal begitu mengenal sosoknya karena Margono adalah pasien lama. Margono sering bolak balik ke RSUD untuk pengobatan dan  sudah begitu akrab dengan kami.

Margono begitu spesial, dia pemuda berumur 18 tahun berasal dari Ngawi dan masih bersekolah di sekolah menengah atas. Sosok pemuda tampan yang begitu ceria dan masih banyak cita-cita dalam angannya.

Tepatnya dia 3 bulan mengalami sakit dan akhirnya di diagnose menderita Leukemia (kanker darah). Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow).

Sumsum tulang atau bone marrow dalam tubuh manusia memproduksi tiga tipe sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oksigen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).

Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak masa kecilnya. Sumsum tulang, tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Normalnya, sel darah putih mereproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Sampai saat ini penyebab penyakit Leukemia belum diketahui secara pasti.

Pengobatan leukemia bisa dilakukan dengan metode kemoterapi. Kemoterapi merupakan terapi kanker yang melibatkan penggunaan zat kimia ataupun obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh/menghabisi sel-sel kanker

Obat-obatan ini dimasukkan ke dalam tubuh melalui infuse intravena, suntikan langsung (pada otot, di bawah kulit atau pada rongga tubuh), ataupun dalam bentuk tablet.

Tergantung jenisnya, kemoterapi dapat diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali bahkan sebulan sekali. Biasanya antara satu siklus kemo dengan siklus kemo lainnya diberikan jarak/jeda bagi tubuh untuk pemulihan.

Namun kemoterapi juga mempunyai efek samping yaitu :
  • mual
  • muntah
  • kerusakan pada ginjal
  • mengiritasi rongga mulut
  • rambut rontok
  • menurunkan hasrat seksual
  • sariawan
  • diare
Dalam beberapa penelitian kemoterapi mampu menekan jumlah kematian penderita kanker tahap dini, namun bagi penderita kanker tahap akhir / metastase, tindakan kemoterapi hanya mampu menunda kematian atau memperpanjang usia hidup pasien untuk sementara waktu.

Margono diharuskan menjalani kemoterapi tiap 7 hari sekali dalam rentan waktu 4 bulan. Selama masih menjalani pengobatan Margono menempuh jalan yang begitu susah. Dia adalah sebagian diantara penderita yang memiliki keterbatasan dalam biaya.

Kondisi rumah yang jauh ditempuh 5 jam naik kereta ke Surabaya. Proses meminta surat rujukan dari Kabupaten Ngawi yang menyulitkan membuat Margono sering tidak tepat waktu untuk datang  melanjutkan kemoterapinya yang kesekian kali.

Kemoterapi tidak boleh terlambat dan si penderita juga harus dalam keadaan yang baik pula. Dia sering pulang pergi Ngawi-Surabaya karena tidak ada saudara atau tempat tinggal sementara di Surabaya. Pulang pergi Ngawi-Surabaya ini tentu menurunkan kondisi fisik.

Biaya kos perhari disini lumayan mahal, paling murah 50 ribu per hari belum ditambah makan perhari. Keluarga Margono tidak dapat menjangkaunya, hingga sulit rasanya bagi Margono untuk tinggal di Surabaya selama menjalani masa pengobatan.

Tapi Margono tidak sendiri, banyak juga anak-anak lain dengan kesulitan yang sama. Berdasarkan data kesakitan di RSUD dr.Soetomo Surabaya bulan januari – desember 2012 tercatat 188 kasus Leukemia, dan 30% nya adalah penderita berusia 0 th – 24 th. Sebagian besar penderita tersebut dirawat di bangsal tempat saya bekerja.

Mereka anak- anak Indonesia, bibit – bibit penerus kita, yang pintar, yang dapat berkarya, meski dalam keterbatasan. Banyak hal yang dapat mereka lakukan seperti belajar, membaca, menulis, membuat puisi, melukis, dan berketerampilan lainnya. Namun sayangnya saat ini belum ada yang memperhatikan nasib mereka.

Mereka sering terlunta-lunta tidur di lorong rumah sakit atau dimana saja dan siap sewaktu-waktu diusir Satpol PP demi menunggu waktu kemoterapi tiba. Begitu menyedihkan karena pemerintah juga hanya mampu membiayai pengobatan mereka, tetapi tidak dengan biaya diluar itu.

Hal inilah yang sering membuat hati saya terusik, seandainya saja ada rumah singgah sementara bagi mereka, agar dapat melanjutkan pengobatan dengan baik. Sebuah angan – angan bila saja di dekat RSUD dr.Soetomo ada rumah singgah bagi mereka. Disana mereka dapat belajar, mengembangkan bakat – bakat mereka dan masih banyak kegiatan sosial lainya yang dapat dilakukan. Ini juga menjadi wadah bagi mereka yang ingin berbagi.

Seandainya saja mereka bisa menginap di rumah singgah yang dekat dengan RSUD, tentu akan sangat membantu. Mungkin banyak nyawa yang bisa terselamatkan, atau mungkin mereka bisa hidup lebih lama dengan keteraturan melakukan kemoterapi.

Kita semua adalah saudara, banyak bersyukur bagi kita yang diberi kesehatan hidup yang layak tanpa kekurangan apapun. Kita dapat belajar dari mereka, belajar menghargai hidup. Hidup akan terasa begitu bermakna dan bahagia bila kita juga berbagi kebahagian dengan orang-orang di sekitar kita. Sangat terbuka bagi kita untuk dapat meringankan beban mereka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: