Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Halimah Tusadiah

Lulusan jurusan Ilmu Komunikasi UNIBI. Lahir di Sukabumi..

Waspada Obat Kimia

OPINI | 07 February 2013 | 13:52 Dibaca: 298   Komentar: 0   1

Obat sudah menjadi bagian dari kebutuhan manusia saat ini. Setiap sakit, masyarakat akan pergi ke warung atau apotik untuk membeli obat yang sesuai dengan penyakitnya. Berbagai jenis obat kini beredar di pasaran. Dari obat yang biasa digunakan untuk menyembuhkan orang sakit, hingga obat yang menimbulkan penyakit rasanya kini mudah didapat. Telah banyak informasi yang beredar di media mengenai obat-obat yang justru menimbulkan penyakit tertentu. Tentunya penyakit tersebut bukan timbul dari penyalahgunaan saja, melainkan juga dari jenis obat yang dikonsumsi. Dan obat yang dapat menimbulkan penyakit baru biasanya termasuk ke dalam obat terlarang yang lebih dikenal dengan sebutan narkoba.
Setelah kasus penangkapan para pengguna narkoba di rumah seorang artis beberapa waktu yang lalu, media kini mulai menyebarkan info bahwa ternyata Indonesia masih menjadi surganya para pengedar narkoba. Hal ini berarti para pengedar akan berusaha dengan giat untuk mengedarkan obat terlarang itu di tanah air Indonesia. Tidak peduli siapa sasarannya, pengedar hanya berpatokan pada bagaimana mereka (para pengedar.red) mendapat untung yang besar. Dan tentunya tidak peduli bagaimana caranya.
Pada pemberitaan di media, telah dikatakan bahwa para pengedar kini sudah semakin cerdik menyelundupkan obat-obat tersebut. Bahkan dengan cara mengkamuflasekannya seperti obat-obat untuk menyembuhkan penyakit lainnya. Seperti dalam tayangan pemberitaan kasus narkoba yang menjerat artis papan atas kemarin. Dalam pemberitaan yang ditayangkan, sekilas penonton akan berpikir itu hanyalah obat biasa atau mungkin suplemen penjaga daya tahan tubuh. Hal ini dikarenakan obat dikemas dalam kapsul yang dimasukkan ke dalam botol suplemen.
Tidak hanya dalam pemberitaan kasus narkoba di rumah Raffi Ahmad saja, masyarakat pun sering melihat di media bahwa narkoba sering dikemas seperti halnya obat lainnya. Misalnya saja dikemas seperti pil KB atau berbentuk bubuk. Bagi masyarakat pada umumnya yang tidak mengetahui tentang jenis-jenis narkoba maupun bentuk narkoba, mungkin akan mudah tertipu. Seseorang bisa saja mengkonsumsinya karena ditawarkan sebagai obat biasa dengan harga yang biasa pula. Namun, jika sudah ketagihan barulah harga dinaikkan. Orang yang telah mengkonsumsi narkoba tidak akan peduli berapa harga yang harus dikeluarkannya. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan obat yang menadi kebutuhannya.
Oleh karena itulah, sebaiknya sebagai orang-orang yang memerlukan obat legal untuk benar-benar menyembuhkan penyakit, perlu memerhatikan setiap obat yang akan dibeli. Bukan hanya jenis obat saja yang harus diperhatikan, tetapi tempat membeli obat pun perlu diperhatikan. Lebih baik memilih membeli obat di tempat yang sudah terpercaya. Mungkin tidak menutup kemungkinan tempat yang dipercaya tersebut juga dapat menipu konsumennya dengan memberikan obat-obat palsu. Namun, kemungkinan tersebut menjadi sangat kecil. Apalagi jika konsumen mengenal pemilik tokonya.
Bukan hanya dalam mebeli obat yang dibutuhkan masyarakat harus berhati-hati. Tetapi juga dalam menerima barang maupun makanan atau minuman dari seseorang. Meskipun yang memberikannya adalah orang dikenal baik. Hal ini sangat berlaku bagi mereka yang mendapat posisi penting ataupun terkenal. Karena di dunia ini akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Setiap orang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Bahkan sahabat sekalipun dapat menjatuhkan jika sudah tertutup iri hati. Maka sebaiknya setiap orang berhati-hati. Meskipun tidak dikonsumsi, bisa saja difitnah sebagai pengedar.
Cara paling aman sebenarnya adalah kembali ke zaman primitif yaitu kembali menggunakan obat-obat tradisional. Memang akan terlihat kuno dan lebih rumit. Namun, itulah salah satu jalan teraman bagi masyarakat untuk menghindari narkoba yang dibuat seperti obat-obat buatan pabrik. Dan akan lebih menyehatkan dibandingkan obat-obat pabrik yang memiliki efek samping. Seperti bangsa Cina yang dikenal dengan bangsa yang panang umur dan selalu sehat. Bangsa Cina dikenal selalu menggunakan obat tradisional turun temurun dari nenek moyangnya dan arang menggunakan obat buatan pabrik ataupun pergi ke dokter. Jika penyakitnya sudah cukup parah dan tidak bisa disembuhkan oleh obat tradisional warisan leluhurnya, barulah mereka pergi ke dokter. Lalu mengapa Indonesia tidak mengikutinya? Obat-obat tradisional Indonesia pun tidak sama manjurnya dengan obat dari leluhur bangsa Cina.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: