Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Dr.ari F Syam

-Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM (@DokterAri) -Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) JAYA

Kebiasaan Anal Sex Suami Petaka bagi Sang Istri

HL | 03 February 2013 | 18:24 Dibaca: 31215   Komentar: 41   19

1359912189464647427

Ilustrasi/ Admin (shutterstock)

Kebiasaan Anal Sex Suami petaka bagi sang Istri

Seorang wanita umur 35 tahun dirawat karena terjadi perdarahan melalui saluran cerna yang bertambah berat sejak 1 minggu terakhir. Pasien ini menyampaikan bahwa sejak 3 bulan terakhir sering mengalami BAB darah menetes. Pasien merasa sebelumnya bahwa kondisi ini karena gangguan ambeien saja. Pasien juga mengeluh berat badannya turun dalam 1 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik dilakukan colok dubur dan ternyata teraba adanya benjolan pada perbatasan antara dubur dan rektum (poros usus). Pada pasien ini dilakukan peneropongan saluran cerna bawah (kolonoskopi) dan ternyata ditemukan adanya tumor pada perbatasan anus dan rektumnya. Tumor ini berbenjol-benjol dan mudah berdarah. Hasil biopsi mendapatkan sel-sel kanker pada benjolan tersebut. Pada wawancara selanjutnya ternyata terungkap bahwa pasien ini sering melakukan anal sex dengan suaminya atas permintaan suaminya dan ini berlangsung sejak sejak 10 tahun terakhir.

Kanker usus besar merupakan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan ditengah masyarakat dan juga salah satu penyebab kematian terbanyak karena kanker. Kanker anus berbeda dengan kanker usus besar karena lebih jarang ditemukan. Kanker anus sendiri terjadi pada 1,5 % kanker saluran cerna. Di Amerika kanker anus ini meningkat seiring dengan perilaku seksual yang terjadi ditengah masyarakat baik pada laki-laki maupun perempuan. Gejala utama pasien dengan kanker anus adalah BAB berdarah, nyeri di dubur/anus saat BAB, keluar lendir atau seperti jelly pada anus atau rasa gatal pada anus. Sedang kanker usus besar adalah adanya Buang Air Besar (BAB) ada darah, gangguan pola BAB, bisa berupa diare kronik atau susah BAB atau adanya perubahan pola BAB yaitu kadang diare kadang –kadang malah susah BAB. Pasien dengan kanker usus besar bisa saja datang dengan adanya benjolan. Kadang-kadang pasien tidak mengeluhkan adanya benjolan tetapi benjolan ditemukan saat dilakukan pemeriksaan. Pasien bisa saja datang ke rumah sakit karena pucat tanpa keluhan perdarahan. Pada kanker anus pasien merasakan sakit saat buang air besar atau terasa gatal disekitar dubur.

Melalui pemeriksaan colok dubur dokter dapat mengetahui apakah memang terdapat massa atau benjolan pada rektum atau sekitar anus atau apakah saat itu pasien masih mengalami BAB darah dengan ditandai adanya sarung tangan dengan sisa darah setelah dilakukan colok dubur tersebut. Sebenarnya kejadian tumor pada anorektal dan dialami wanita usia 35 tahun termasuk jarang.

Faktor risiko kanker anus termasuk juga kanker anorektal adalah iritasi kronis pada dubur, infeksi kronis dengan virus human pappiloma (HPV), infeksi HPV ini berhubungan dengan penyakit infeksi tertular melalui hubungan seks, riwayat tukar menukar pasangan hubungan seks, riwayat kanker serviks atau vagina, penggunaan obat-obat penekan daya tahan tubuh (imunosupresi) dan perokok. Wanita juga lebih berisiko untuk terjadinya kanker anus dibandingkan pria, penyakit ini juga berisiko pada laki-laki dengan anal sex.

Kembali lagi pada pasien diatas, jenis kelamin wanita dan kebiasaan anal sex merupakan risiko terjadinya kanker anus pada pasien tersebut. Anal sex akan menyebabkan iritasi kronis pada dubur akibat perilaku seksual tersebut . Secara fungsi memang dubur hanya untuk mengeluarkan kotoran sehingga tidak siap jika sebagai tempat untuk melakukan hubungan seksual.

Kasus ini mengingatkan kita semua bahwa perilaku seksual anal sex bukan merupakan perilaku seksual yang aman. Anal sex akan menyebabkan gangguan kesehatan yang ringan sampai berat berupa terjadinya kanker anus. Kasus ini telah mengingatkan kita bahwa anal sex merupakan perilaku seks yang berisiko tinggi.

Salam sehat,

Dr. Ari Fahrial Syam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: