Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Dangko

Everything I do

Memberantas Kecoa, Vektor 40 Jenis Penyakit

OPINI | 28 January 2013 | 10:31 Dibaca: 788   Komentar: 0   1

Memberantas Kecoa, Vektor 40 Jenis Penyakit

13593437931623129520

Kecoa merupakan spesies serangga yang dikenal sebagai hama perkotaan. Kecoa umumnya ditemukan di perumahan, mini market, gudang, mall dan tempat- tempat lain yang menyediakan sumber makanan bagi kelangsungan hidupnya. Jenis kecoa yang paling umum ditemukan di Indonesia yaitu kecoa jerman (Blatella germanica) dan kecoa Amerika (Periplanetta Americana). kedua jenis ini memiliki perbedaan ciri morfologinya, kecoa jerman merupakan spesies kecoa kecil (1,6 cm), sedangkan kecoa amerika merupakan spesies kecoa yang lebih besar (± 2,5 cm), akan tetapi perannya sebagai hama dan vector penyakit tetap sama. Perlu diketahui bahwa kecoa juga berperan sebagai vektor sejumlah kuman penyakit yang menyebabkan diare, tifus, kolera dan lain- lain. Sebanyak 40 jenis bakteri penyebab penyakita telah berhasil diisolasi dari kecoa seperti, E.coli (penyakit diare), Pseudomonas aeruginosa (infeksi saluran urin), Salmonella oranienburg (gastroenteritis), Shigella alkalescens (disentri), Shigella paradysenteriae (diare) dan sebagainya. Hal ini menyebabkan kecoa menjadi salah satu serangga hama yang sangat berbahaya bagi manusia. Jadi bisa dibayangkan ketika rumah kita dihuni oleh pembawa penyakit mematikan ini. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk mengendalikan kecoa ini agar tidak menyebarkan bibit penyakit kepada keluarga kita.

Memberantas Kecoa

Berbagai upaya untuk memberantas kecoa yang dilakukan oleh pengendali hama di berbagai belahan dunia, meliputi penggunaan insektisida dan perangkap kecoa. Untuk memberantas hama kecoa dalam jumlah yang besar biasanya digunakan bahan kimia dalam bentuk aerosol, spray, umpan, bubuk dan gel. Pada umumnya cara kimiawi lebih banyak dilakukan oleh masyarakat seperti dengan penyemprotan insektisida atau pengasapan, karena dinilai sangat praktis penggunaanya. Padahal, dalam penggunaannya penyemprotan dan pengasapan dengan menggunakan formula yang mengandung insektisida ini dapat menyebar ke seluruh ruangan di dalam rumah dan meracuni penghuni rumah. Selain itu metode ini banyak meninggalkan residu yang berbahaya bagi kesehatan penghuni rumah, sehingga penggunaan menggunakan insektisida yang meninggalkan residu seperti aerosol, spray dan bubuk mulai ditinggalkan karena tidak memenuhi kriteria sesuai yang dengan yang diinginkan yaitu efektif dan aman.

Mewaspadai timbulnya kekebalan kecoa terhadap Insektisida (Resisten).

Seiring dengan penggunaan insektisida yang terus menerus dalam jangka waktu yang panjang, muncullah masalah baru, yaitu resistensi serangga terhadap insektisida. Resistensi merupakan suatu bentuk adaptasi serangga untuk tetap bertahan hidup (survive) menghadapi berbagai tekanan lingkungan. Dalam menghadapi tekanan yang luar biasa dari insektisida, individu yang lemah akan tereleminasi, sedangkan individu yang kuat akan tetap bertahan. Pada awalnya jumlah individu yang resisten terhadap insektisida ini sangat sedikit, tetapi setelah melalui beberapa generasi dan selalu mendapatkan tekanan insektisida yang sama, maka akan terbentuk sebuah populasi yang resisten terhadap insektisida tersebut. Akhirnya kita akan selalu berlomba dengan kecoa dalam menemukan jenis insektisida yang mutakhir, kecoa pun akan ikut mengembangkan kemampuan resistensi yang yang mutakhir.

Lalu bagaimana lagi usaha kita untuk memberantas hama berbahaya ini ?

Secara umum, ada tiga cara efisien dan aman yang dapat kita lakukan untuk memberantas hama kecoa di lingkungan kita. Pertama, cara yang dinilai aman bagi penghuni rumah untuk mengendalikan kecoa yaitu dengan umpan gel beracun. Umpan gel ini merupakan formulasi dari bahan makanan kesukaan kecoa ditambah dengan gel dan isektisida. Dengan cara ini, maka tidak ada residu yang membahayakan penghuni rumah yang ditinggalkan sewaktu aplikasinya. Pengaplikasiannya disarankan di tempat- tempat persembunyian kecoa dan jauh dari jangkauan anak- anak atau hewan peliharaan misalnya di belakang lemari, di celah- celah dinding dapur, bawah meja dapur dan di gudang. Selain itu, fakta bahwa kecoa akan bersifat kanibal dalam kondisi tertentu memberikan kemudahan tersendiri dalam usaha pengendalian kecoa. Penggunaan umpan gel yang mengandung fipronil akan memberikan efek kematian double pada kecoa, yaitu meracuni dan membunuh kecoa yang memakan umpan gel, dan meracuni kecoa kanibal yang memakan kecoa yang mati terkena racun fipronil.

Kedua, untuk mencegah terjadinya resistensi pada kecoa, maka dalam menggunakan umpan gel hendaknya mengganti- gantinya dengan umpan gel beracun lain yang mengandung bahan aktif dengan sistem kerja berbeda. Misalnya, untuk bulan ini menggunakan umpan gel yang berbahan aktif hydramethylnon (racun perut), sedangkan bulan berikutnya diganti dengan yang berbahan aktif fipronil (racun syaraf) jika jumlah kecoa di rumah/bangunan masih banyak. Cara seperti ini akan menghambat kecoa untuk mengembangkan kemampuan resistensinya terhadap insektisida yang kita berikan.

Dan yang terpenting adalah yang ketiga, hendaknya kita menjaga kebersihan rumah atau lingkungan kita. Kecoa merupakan serangga yang sangat suka memungut sisa- sisa makanan kita, dan kecoa umumnya bertelur dan berkembang biak di tempat yang berantakan seperti gudang, tempat sampah dan tempat tak beraturan lainnya. Dengan kita menjaga kerapian dan kebersihan lingkungan kita, maka ini akan memperkecil peluang kecoa untuk berkembang biak. Akhirnya keinginan kita untuk menciptakan rumah yang sehat dapat diwujudkan.

Oleh : Apriza Hongko Putra

Mahasiswa Unand Peraih Beasiswa Bakrie Graduate Fellowship 2012.

Tags: dangko

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 6 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 11 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Alphard dan Underpass Permata Hijau …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Torres, Sejarah Tragis Pemain Spanyol dan …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: