Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Adrianus Pa Adrianus

Rencana TUHAN itu Indah pada waktunya

Hubungan Posisi Semifowler dengan Kualitas Tidur Pada Pasien Gagal Jantung

REP | 13 January 2013 | 14:27 Dibaca: 1536   Komentar: 0   1

HUBUNGAN POSISI TIDUR SEMIFOWLER

DENGAN KUALITAS TIDUR PADA KLIEN DENGAN GAGAL JANTUNG

Adrianus Y Pa

Abstrak

Gagal jantung merupakan suatu keadaan yang serius dimana jumlah darah yang masuk dalam jantung setiap menitnya tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan zat makanan. Tidur merupakan suatu keadaan dimana tubuh beristirahat secara tenang dan aktivitas metabolisme juga menurun.Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh waktu yang digunakan untuk tidur pada malam hari atau efesiensi tidur. Posisi semifowler merupakan posisi bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi 20-30° .Pada klien dengan penyakit gagal jantung akan menyebabkan klien mengalami masalah kebutuhan tidur sebagai akibat dari perubahan posisi tidur dimana klien akan mengeluh kesulitan bernapas.Tindakan keperawatan yang dapat diberikan dengan mempertahankan tirah baring dan memberikan posisi tidur semifowler . Tujuan penulisan ini untuk memberikan keyakinan tentang posisi semifowler mempunyai hubungan dengan peningkatan kualitas tidur pada klien gagal jantung.

Kata kunci: Gagal jantung,kualitas tidur, posisi tidur semifowler


PENDAHULUAN

Gagal jantung menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama pada beberapa negara industri maju dan negara berkembang seperti Indonesia.Sindroma gagal jantung ini merupakan masalah yang penting pada usia lanjut, dikarenakan prevalensi yang tinggi dengan prognosis yang buruk. Data statistik dari American Heart Association diperkirakan 4,7 juta individu mengalami kegagalan jantung dan di indonesia 63 % dari kematian diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler, penyebab yang sering ditemukan adalah gagal jantung.

Gangguan kebutuhan dasar pada klien gagal jantung akan menimbulkan masalah keperawatan, salah satu diantaranya adalah ganguan kebutuhan istirahat atau gangguan pola tidur berhubungan dengan nocturia (banyak kencing) atau perubahan posisi tidur yang menyebabkan sesak napas (Bare, 2002). Tindakan yang tepat dapat mengatasi gangguan tidur pada klien gagal jantung karena sesak napas  saat berbaring adalah dengan mempertahankan tirah baring dengan memberi posisi tidur 20-30 derajat atau semi fowler,hal ini sesuai dengan hasil analisis hubungan antara posisi tidur dengan kualitas tidur diperoleh hasil bahwa 56,5% posisi tidur 30 derajat kualitas tidurnya bagus sedangkan 89,5% posisi tidur 20 derajat kualitas tidurnya bagus (Supadi,2008)

Kualitas tidur ditentukan oleh bagaimana seseorang mempersiapkan pola tidurnya pada malam hari seperti kedalaman tidur, kemampuan tinggal tidur, dan kemudahan untuk tertidur tanpa bantuan medis. Kualitas tidur yang baik dapat memberikan perasaan tenang di pagi hari, perasaan energik, dan tidak mengeluh gangguan tidur. Dengan kata lain, memiliki kualitas tidur baik sangat penting dan vital untuk hidup sehat semua orang.

Pengaturan positioning semifowler bertujuan untuk mengurangi risiko stasis sekresi pulmonar dan mengurangi risiko penurunan pengembangan dinding dada yaitu dengan pengaturan posisi saat istirahat. Oeleh sebab itu penulis ingin memberikan keyakinan bahwa dengan memposisikan klien dalam semifowler akan membantu menurunkan konsumsi oksigen dan meningkatkan ekspansi paru serta mengatasi kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan perubahan membrane alveolus. (Supadi, Desember2008)

Pelaksanaan asuhan keperawatan dalam pemberian posisi semi fowler itu sendiri dengan menggunakan tempat tidur orthopedik dan fasilitas bantal yang cukup untuk menyangga daerah punggung, sehingga dapat memberi kenyamanan saat tidur dan dapat mengurangi kondisi sesak nafas pada pasien jantung saat terjadi serangan.

Tujuan umum:

Mengetahui pentingnya pengaturan posisi semifowler untuk meningkatkan kualitas tidur pada klien dengan gagal jantung

Tujuan khusus:

Memberikan keyakinan bahwa kualitas tidur mempunyai hubungan dengan posisi tidur semi fowler pada pasien gagal jantung

Sistematika Penulisan:

Halaman judul ……………………………………………………………………………………………………….i

Abstrak……………………………………………………………………………………………………………..1

Pendahuluan ……………………………………………………………………………………………….2

Tujuan……………………………………………………………………………………………………….2

Isi ……………………………………………………………………………………………………………..3

Penutup…………………………………………………………………………………………………………….7

Referensi ……………………………………………………………………………………………………..8


Posisi Semi Fowler mempunyai Hubungan dengan Peningkatan Kualitas Tidur pada Pasien Gagal Jantung

Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrisi karena adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Bare, 2002). Gagal jantung disebabkan karena meningkatnya beban kerja otot jantung, sehingga bisa melemahkan kekuatan kontraksi otot jantung. Yang paling sering adalah penyakit arteri koroner menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung. Hal ini disebabkan karena miokarditis yaitu suatu infeksi yang disebabkan karena virus ataupun bakteri, diabetes  maupun kegemukan. Penyakit lain yang bisa menyebabkan gagal jantung adalah hipertensi yang bisa menyebabkan kerja jantung menjadi lebih berat karena harus memompa darah di dalam rongga yang sempit. Penyebab yang lain adalah kelainan pada jantung itu sendiri

Gejala yang dirasakan oleh klien salah satunya adalah dispnea yang terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan mengganggu pertukaran gas. Selain itu dapat juga terjadi ortopnoe. Beberapa pasien dapat mengalami ortopnoe pada malam hari yang dinamakan Paroksimal Nokturnal Dispnea (PND) (Hudak., 2001).

Intervensi yang dapat dilakukan pada klien dengan dispnea yang timbul akibat gangguan pertukaran gas karena cairan di dalam alveoli. Hal ini bisa menjadi payah karena pergerakan tubuh, misal menaiki tangga, berjalan mendaki dll. Karena dengan kegiatan tersebut memerlukan peningkatan oksigen.Untuk klien yang mengalami orthopnea yang timbul akibat kesukaran bernafas pada waktu berbaring terlentang dan klien harus tidur pakai sandaran di tempat tidur atau dengan posiotoning semi fowler. Bila orang tidur terlentang ventilasi kurang dan volume darah pada pembuluh- pembuluh paru- paru meningkat. Sehingga dengan demikian akan meyebabkan gangguan kebutuhan tidur klien. Tidur merupakan suatu proses perubahan kesadaran yang terjadi berulang ulang selama periode tertentu (Mansjoer.A, 2001).

Sesuai dengan hasil penelitian yang menggambarkan intervensi non invasive tentang efektifitas pengaturan posisi semifowler sebagai tindakan pertolongan pertama pada klien terutama saat serangan hipoksia sehingga klien kualitas tidur klien dapat terpenuhi. Supadi (2008) menjelaskan positioning dengan posisi semi fowler (20-30 derajat) akan mengurangi kerusakan membran aveolus akibat tertimbunnya cairan. Hal tersebut dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga O2 delivery menjadi optimal. Sesak nafas akan berkurang, dan akhirnya kebutuhan dan kualitas tidur klien terpenuhi sehingga proses perbaikan kondisi klien lebih cepat (Supadi,2008)

Gagal jantung terbagi menjadi 4 grade. Grade gagal jantung menurut New York Heart Association (NYHA), terbagi dalam 4 kelainan fungsional:

1. Timbul sesak pada aktifitas fisik berat

2. Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang

3. Timbul sesak pada aktifitas fisik ringan

4. Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan/ istirahat

Posisi semifowler merupakan posisi bed dimana kepala dan dada dinaikkan setinggi 20-30° tanpa fleksi lutut. Prosedur kerja:

(1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme, (2) Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala dinaikkan, Mencegah klien melorot kebawah pada saat kepala dinaikkan, (3) Naikkan kepala bed 20° sampai 30° sesuai kebutuhan, (4) Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal jika ada celah disana. Bantal akan mencegah kurva lumbal dan mencegah terjadinya fleksi lumbal, (5) Letakkan bantal kecil dibawah kepala klien. Bantal akan menyangnya kurva cervikal dari columna vertebra, sebagai alternatif kepala klien dapat diletakkan diatas kasur tanpa bantal, terlalu banyak bantal dibawah kepala akan menyebabkan fleksi kontraktur dari leher, (6) Letakkan bantal dibawah kaki, mulai dari lutut sampai tumit, memberikan landasan yang, lembut dan fleksibel, mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiper ekstensi lutut, membantu klien supaya tidak melorot ke bawah, (7) Pastikan tidak ada pada area popliteal dan lulut dalam keadaan fleksi, mencegah terjadinya kerusakan pada persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu supaya klien tidak melorot kebawah, (8) Letakkan bantal atau gulungan handuk dibawah paha klien. Bila ekstremitas bawah pasien mengalami paralisa atau tidak mampu mengontrol ekstremitas bawah, gunakan gulungan trokhanter selain tambahan bantal dibawah panggulnya, mencegah hiperekstensi dari lutut dan oklusi arteri popliteal yang disebabkan oleh tekanan dari berat badan, gulungan trokhanter mencegah eksternal rotasi dari pinggul, (9) Topang telapak kaki dengan menggunakan footboart. Mencegah plantar fleksi, (10) Letakkan bantal untuk menopang kedua lengan dan tangan, bila klien memiliki kelemahan pada kedua lengan tersebut. Mencegah dislokasi bahu kebawah karena tarikan gravitasi dari lengan yang tidak disangga, meningkatkan sirkulasi dengan mencegah pengumpulan darah dalam vena, menurunkan edema pada lengan dan tangan, (11) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan, (12) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.


PENUTUP

Kesimpulan

Pengaturan posisi tidur semifowler 20-30 derajat pada klien dengan gagal jantung dapat membantu menurunkan konsumsi oksigen dan meningkatkan ekspansi paru-paru yang maksimal serta mengatasi kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan perubahan membran alveolus. Sehingga dengan mengatur posisi tidur semi fowler maka sesak napas yang dialami klien menjadi berkurang dan durasi tidur klienpun meningkatkan.

Oleh sebab itu pengaturan posisi tidur semifowler merupakan komponen yang harus diperhatikan untuk membantu klien dalam mengurangi sesak napas sehingga kebutuhan tidur klien terpenuhi. Disarankan pada perawat agar di dalam memberikan tindakan keperawatan pada klien dengan gagal jantung sebaiknya di lakukan positioning semi fowler untuk meningkatkan kualitas tidur dari klien tersebut.


REFERENSI

Bare, S. S. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Ja. Jakarta: EGC

Hudak., G. &. (2001). Keperawatan Kritis (IV ed.). Jakarta: EGC.

Mansjoer.A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC.

Supadi, E. N. (2008). Hubungan Analisis Posisi Tidur Semifowler dengan Kualitas Tidur Pada klien Gagal Jantung Di RSUD Banyumas Jawa Tengah. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan , 4 No. 2, 97-108.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 11 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 19 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: