Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Luciana Budiman

Lulusan Teknik Fisika ITB yang saat ini menjabat sebagai Country Head & Sales Director di selengkapnya

Pengalaman Menggunakan Kartu Sehat

REP | 01 January 2013 | 08:42 Dibaca: 2904   Komentar: 0   0

Seorang supir kantoran, sebutlah ia Kusno, memiliki 2 orang anak yang menderita hernia. Karena perusahaan tempat ia bekerja telah menggunakan fasilitas Jamsostek Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), maka ia mencoba memeriksakan salah seorang anaknya ke Puskesmas yang sesuai dengan kartu peserta JPKnya agar dapat diobati dari penyakit ini.

Setelah diperiksa, ia mendapat rujukan ke rumah sakit yang dapat melakukan tindakan lebih lanjut, yaitu operasi. Pada saat anaknya hendak berobat di rumah sakit tersebut, terdapat kelompok antrian peserta Jamsostek, dan kelompok antrian kartu sehat yang tentunya jauh lebih banyak dari kelompok pertama. Oleh karena jumlah antrian peserta Jamsostek lebih sedikit, maka ia dapat segera dilayani dan diperiksa. Dokter mengharuskan agar anaknya dirontgen terlebih dahulu karena saluran pernafasan tidak boleh ada masalah untuk operasi hernia yang akan dilakukan dalam keadaan bius total. Biaya rontgen dicover oleh Jamsostek, namun untuk obat yang menghilangkan flek dalam paru-paru anaknya sebesar sekitar Rp. 100.000,- tidak dapat dicover. Setelah paru-parunya bersih, maka dilakukan penjadwalan operasi hernia.

Pada saat hendak melakukan operasi hernia di RS Tarakan, rupanya pada saat bersamaan terdapat 6 orang yang hendak menjalani operasi yang sama. Sebagian menggunakan JPK, sebagian menggunakan kartu sehat. Ternyata tanpa menggunakan JPK pun, warga Jakarta bisa mendapatkan layanan operasi hernia secara gratis jika memiliki kartu sehat. Di Rumah Sakit juga terdapat poster yang menyatakan bahwa kartu sehat membebaskan peserta dari biaya berobat. Terpikir soal obat seharga Rp. 100.000 yang perlu dibayar olehnya sebelumnya, saat itu JPK tidak mengcover biaya tersebut, mungkinkah kartu sehat dapat mengcover biaya tersebut?

Setelah anaknya selesai dioperasi, dengan kartu JPK ia mendapat fasilitas rawat inap di kelas 2 sebanyak 1 malam. Dari total biaya operasi sekitar Rp. 6 juta, JPK membayarkan Rp. 5 juta, selebihnya Rp. 1 juta harus dibayar sendiri karena sebagian obat bius tidak termasuk dalam coverage JPK.

Anak yang pertama sudah sembuh dari penyakit hernia. Tinggal anak yang satunya lagi perlu diobati. Kusno ingin mencoba kartu sehat, karena mungkin dengan kartu sehat, dia benar-benar tidak usah membayar sepeserpun seperti propaganda yang tertulis di rumah sakit. Maka didaftarkannya anak yang kedua untuk berobat dengan kartu sehat. Dokter menjalani proses yang sama yaitu rontgen saluran pernapasan untuk memastikan anaknya dapat bernafas dengan baik pada saat dibius total untuk operasi hernia.

Tibalah saat anak yang kedua menjalani operasi hernia dengan kartu sehat. Setelah selesai dioperasi, dengan kartu sehat, anaknya dapat langsung dibawa pulang ke rumah, karena tidak ada fasilitas rawat inap untuk kasus ini dari kartu sehat. Tentu saja fasilitas kartu JPK harus lebih baik daripada kartu sehat, dan ini adalah salah satu buktinya karena pada kasus yang sama kartu JPK memberikan fasilitas rawat inap. Harapan bahwa kartu sehat menanggung seluruh biaya operasi ternyata tidak menjadi kenyataan, karena kartu sehat sama seperti kartu JPK juga tidak mengcover keseluruhan Rp. 6 juta biaya operasi, karena Rp. 1 juta masih harus dibiayai sendiri. Namun warga Jakarta patut beryukur karena dengan kartu sehat, tidak perlu seluruh biaya harus ditanggung sendiri, tanpa perlu mengeluarkan biaya premi bulanan. Setelah operasi, masih ada biaya obat lain yang tidak ditanggung kartu sehat, sedangkan kartu JPK menanggungnya. Memang kartu JPK sudah seharusnya lebih baik, karena ada premi yang dibayar oleh perusahaan setiap bulannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 7 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 7 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 7 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 8 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Bukti Handphone Mahal itu Nggak Awet …

Ervipi | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 30) …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Indonesia Itu Pluralis Bukan Agamis …

Abdul Haris | 8 jam lalu

Rahasia Tulisan Jadi Headline …

Mauliah Mulkin | 8 jam lalu

Mengapa Jokowi Minta Pertimbangan KPK? …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: