Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Anak Tasik

aku masih di sini

Benarkah Bisnis Rokok Menguntungkan?

OPINI | 20 December 2012 | 22:49 Dibaca: 222   Komentar: 0   2

rokok

Banyak orang bilang rokok adalah salah satu pemberi devisa terbesar di negara tercinta Indonesia dan menjadi lapangan kerja terbesar yang menjadi tulung punggung banyak keluargan, betulkah anggapan ini? atau hanya sebagai tameng kebenaran aksi merokok mereka? atau hanya trik perusahaan rokok agar bisnisnya terus berkembang dan menguntungkan?

Betul memang bisnis rokok ini sangat berpengaruh terhadap nilai pendapatan negara, dari tahun 1995 hingga kini jumlah perokok di Indonesia meningkat tajam dari hanya sekitar 34 juta menjadi lebih dari 67 persen penduduk pria Indonesia atau lebih dari 80 juta. Itu untuk perokok pria, untuk perokok wanita sekitar 8 juta-an. Dan yang sangat mengkhawatirkan dari 45 persen perokok adalah berusia di bawah 25 tahun, bahkan satu persennya usia anak-anak, seperti halnya anak balita perokok yang menjadi topik menghebohkan beberapa hari ke belakang. Dari hasil “gendutnya” bisnis rokok ini pemerintah Indonesia mendapatkan keuntungan sekitar 70 triliun di tahun 2012. Nilai yang luar biasa memang. Tapi tahukah anda berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati para perokok dari penyakit setidaknya kanker paru dan akibat rokok lainnya? 250 TRILIUN itulah yang harus di tanggung dari bisnis rokok yang selalu menjadi pro kontra karena menguntungkan negara. Masih bisa bicarakah kita bahwa rokok itu menguntungkan? Memang sekitar 30 juta orang menggantung diri dari bisnis rokok tapi lihat kerugian kita akibat rokok, 250 triliun, nilai yang membuat Indonesia nombok.

Selain kerugian materi, dari rokok ini kita banyak memperoleh kerugian kesehatan. Salah satunya bertebaran penyakit pernafasan yang berbahaya, dari mulai sesak nafas hingga kanker paru ini. Dan ternyata tingginya angka perokok, berindikasi pula pada jumlah penderita kanker paru ini. Jadi bisa diperkirakan 80 juta orang perokok itu terbelit masalah kecanduan dan kanker paru. Tapi parah lagi bukan hanya perokok yang terancam, tapi orang yang baik dengan sengaja atau tidak sengaja menghirup asap rokok terancam pula. Jadi keseluruhan rakyat Indonesia termasuk saya dan anda yang jumlahnya lebih dari 250 juta, terancam penyakit kanker paru.

Perlukah kita bilang WOW…? Terus apa itu kanker paru? mari kita pelajari lebih lanjut penyakit kanker paru?

Kita mulai dari gejala penyakit kanker paru. Ada beberapa gejala sejauh ini yang banyak ditemukan pada beberapa penderita kanker paru, diantaranya:

  • Tidak ada gejala, ada sekitar 30% pengidap kanker paru tidak merasakan gejala apapun. Di ketahui terjangkit kanker paru saat dirontgen atau dibacanya ronsen
  • Seperti apa yang dirasakan oleh pengidap kanker lainnya juga dirasakan oleh penderita kanker paru, seperti batuk berdarah, gangguan pernafasan, sakit pada daerah sekitar dada dan sebagainya. Selain itu seperti halnya kanker lainnya, kanker paru ini menyerang bagian tubuh lainnya, seperti tulang, mata, otak dan lainnya. Sehingga mengalami beberapa gejala seperti kelumpuhan, gangguan penglihatan sesuai dengan apa yang diserangnya.
  • Mengalami sindrom paraneoplastic, suatu kejadian terbentuknya zat yang mempengaruhi kerja organ tubuh lain. Biasanya bergejala perubahan tekanan darah yang drastis, intensitas buang air yang lebih besar, perubahan gula di dalam darah dan gejala lainnya.
  • Perubahan secara fisik seperti lebih kurus, dan secara psikis seperti stres

Kanker paru adalah sebuah tumor ganas yang menyerang bagian organ paru-paru tubuh kita. Kanker paru secara umum terdapat dua jenis, berikut jenis kanker paru :

  • Non Small Cell Lung Cancer
  • Small Cell Lung Cancer

Penyebab dari kanker paru ini sudah kita singgung di atas kebanyakan mengkambinghitamkan soal rokok ini, namun itu tidak berlebihan karena dalam rokok terdapat 4000 bahan kimia, dan 50 diantaranya merupakan zat yang sangat beracun.

Masik menganggap rokok menguntungkan?
Itu sebuah pillihan sebenarnya, saya tidak menyalahkan orang yang merokok itu hak saudara, saya juga tidak menyanjug orang yang tidak merokok. Hanya itulah fakta rokok di negara kita tercinta Indonesia ini. Bahkan lewat Survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 yang dikeluarkan beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara perokok aktif kedua terbesar setelah negara China. Menurut Menkes Kabinet Indonesia Jilid II ini, “survei yang naik ini adalah bukti bahwa kita gagal dalam menjaga kesehatan rakyat. Kita lebih memilih kehilanga kesehjatan rakyat dari pada kehilangan keuntungan bisnsi rokok. Lewat hasil survei GATS ini, KomNas Pengendalian Tembakau mendukung rencana pemerintah untuk menaikan beaya cukai rokok sebesar 8-10 persen di tahun 2013.

Ayo masihkah berfikir kalau rokok menguntungkan Indonesia?

sumber

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 4 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 4 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 4 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 5 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 5 jam lalu


HIGHLIGHT

Senang Sama Visi Poros Maritim Dunia …

Cdt888 | 8 jam lalu

Sinyal “Revolusi Mental” Skuad …

F Tanjung | 8 jam lalu

Tantangan Membuat Buku Mini Kumpulan Puisi …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Bakmi Mama Lie Ling …

Benediktus Satrio R... | 8 jam lalu

Borneo Menulis …

Anton Surya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: