Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Dian Nur Hadiyani

magister manajemen Universitas Indonesia 2011

Efektivitas Kebutuhan Tenaga Kesehatan dengan Pengaturan Jadwal Dinas Perawat Berbasis Web

OPINI | 14 December 2012 | 16:35 Dibaca: 1640   Komentar: 0   0

EFEKTIVITAS KEBUTUHAN TENAGA KESEHATAN

DENGAN PENGATURAN JADWAL DINAS PERAWAT

BERBASIS WEB : ANSOS ONE-STAFF

Nur Hadiyani, NPM : 1106043091

Magister Manajemen dan Kepemimpinan Keperawatan

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

Abstrak

Pengaturan jadwal perawat merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam rumah sakit. Baik buruknya penjadwalan perawat yang dilakukan oleh menejemen rumah sakit memegang peranan penting dalam mempengaruhi kinerja rumah sakit dimata pengguna jasa rumah sakit. Oleh sebab itu, diperlukan suatu penjadwalan perawat yang baik, sehingga pelayanan perawat terhadap pasien akan menjadi baik pula. Hal inilah yang membuat Rumah Sakit baik swasta maupun pemerintah menjadikan permasalahan penjadwalan perawat menjadi salah satu permasalahan yang penting dalam setiap evaluasi kinerjanya.

Tujuan telaah jurnal ini untuk mengetahui gambaran system informasi manajemen yang yang membahas bagaimana penerapan metode Ansos one – Staff untuk membuat model penjadwalan perawat di Rumah Sakit . Model yang dibuat didasarkan pada peraturan- yang berlaku di rumah sakit dan preferensi dari perawat (keinginan perawat misalnya dalam hal pembagian shift secara adil dan hari libur kerja). Disamping itu juga dipertimbangkan kebijakan dari rumah sakit, beban kerja. Preferensi perawat diambil dari survey yang dilakukan untuk kepentingan penelitian yang meliputi pertimbangan keadilan dalam hal pembagian shift malam dan hari libur (kerja. ). Metode penulisan ini dilakukan dengan dengan cara telaah jurnal dan literature secara deskriptif analisis terhadap jurnal. yang berhubungan dengan system informasi manajemen yang berhubungan dengan pengaturan jadwal perawat berbasis web yang efektif di rumah sakit. Hasil telaah ini memberikan masukan kepada rumah sakit baik pemerintah maupun swasta tentang system informasi yang berhubungan dengan software pengaturan jadwal perawat yang efektif dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit.

Kata kunci : Ansos One-Staff , penjadwalan perawat

A. Pendahuluan

Penjadwalan perawat dan pengaturan shift kerja adalah permasalahan yang sangat rumit dan sering terjadi pada instansi-instansi kesehatan seperti rumah sakit. Hampir setiap rumah sakit memiliki banyak ruang pelayanan baik rawat inap, rawat jalan maupun IGD . Ruang an- ruangan tersebut t adalah unit yang sangat sibuk yang siaga selama 24 jam per hari. Oleh sebab itu dibutuhkan jam kerja yang tinggi oleh perawat yang harus selalu siap berjaga pada shift yang berbeda yaitu pada shift pagi, sore dan malam. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan persiapan yang matang dalam pengaturan penjadwalan untuk perawat. Hal itu diperlukan agar tidak terjadi kelelahan dan keletihan secara fisik, emosi dan psikologis pada perawat yang nantinya akan memberikan dampak buruk bagi kinerja perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien. Kelelahan dan keletihan fisik seperti itu biasanya terjadi karena perawat harus berjaga pada shift pagi, sore dan malam secara berturut-turut sehingga mengkibatkan mereka kurang tidur. Menurut penelitian oleh Grantcharov dkk, kurangnya jam tidur akan meningkatkan tingginya tingkat kesalahan pada manusia. Untuk menghindari hal tersebut pihak rumah sakit perlu membuat peraturan yang jelas untuk mengatur jam kerja perawat agar dapat bekerja dengan baik sesuai dengan aturan-aturan yang ada.

Untuk itu pada makalah ini , akan di uraikan suatu software pengaturan shift atau jadwal perawat dengan menggunakan software Ansos One –Staff untuk membuat sistem penjadwalan perawat yang lebih optimal sehingga diharapkan mampu memberikan informasi pada para pengambil keputusan di rumah sakit atau klinik agar dapat melakukan penjadwalan menjadi lebih efektif dan efisien.

Ansos One – Staff adalah Suatu contoh dari system pengaturan jadwal perawat berbasis Web. Modul Penugasan dan Beban Kerja software Ansos One-Staff menggunakan data persepsi (acuity) pasien sebagai input untuk memprakirakan kebutuhan staf. Manajer Keperawatan akan dengan mudah dapat mengatur jadwal para staf pada suatu tingkat yang sangat rinci yaitu menugaskan untuk merawat pasien pasien dan tugas-tugas yang spesifik kepada seorang perawat yang memiliki keahlian khusus (yang tepat,dan kompeten).

Ansos One Staff ini sendiri akan memungkinkan perawat untuk mengakses jadwal yang telah di susun oleh manajer keperawatan , mengajukan preferensi, dan memilih shift yang tersedia dimana mereka akan memberikan pelayanan keperawatan dalam suatu rumah sakit.

B. Telaah Literatur

Perawat merupakan tenaga kesehatan yang dominan di rumah sakit baik dari segi jumlah maupun keberadaanya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Menurut hasil Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983 yang ditulis oleh Sri Praptianingsih (2005) keperawatan adalah Suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, dan masyarakat baik yang sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus hidup manusia.

1) Dalam keperawatan fungsi perawat terdiri dari tiga fungsi independen, interdependen, dan dependen.

a. Fungsi independen perawat adalah perawat tidak memerlukan perintah dokter. Tindakan perawat bersifat mandiri dengan berdasarkan ilmu tindakan keperawatan.

b. Fungsi interindependen perawat adalah tindakan perawat berdasarkan pada kerjasama dengan tim perawatan atau tim kesehatan.

c. Fungsi dependen perawat adalah perawat bertindak membantu dokter dalam memberikan pelayanan medik.

2) Sedangkan peranan perawat antara lain:

a. Pelaksana palayanan perawatan.

b. Pengelola; perawat bertanggung jawab dalam hal administrativf pengelolaan pelayanan perawatan baik di masyarakat maupun dibalam institusi.

c. Pendidik; perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan kesehatan.

d. Peneliti; perawat melakukan penelitian keperawatan untuk mengembangkan ilmu dan praktek keperawatan, dan ikut berperan serta aktif dalam kegiatan penelitian di bidang kesehatan.

3) Penjadwalan Perawat

Di dalam rumah sakit keputusan yang paling penting yang harus dibuat diantaranya adalah perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat. Ada tiga hal yang berkaitan dengan proses dan pengambilan keputusan perencanaan kebutuhan dan penjadwalan perawat yaitu:

a. Staffing Decision

Yaitu merencanakan tingkat atau jumlah kebutuhan akan perawat prakualifikasinya.

b. Scheduling decisión

Yaitu menjadwalkan hari masuk dan libur juga shift. Shift kerja untuk setiap harinya sepanjang periode penjadwalan dalam rangka memenuhi kebutuhan mínimum tenaga perawat yang harus tersedia.

c. Allocation Decision

Yaitu membentuk kelompok perawat untuk dialosikan ke shift-shift atau hari-hari yang kekurangan tenaga kibat adanya variasi demand yang tidak diprediksi, misalnya absennya perawat.

4) Karakteristik Penjadwalan perawat

Menurut Warner (1976) seperti yang dikutip oleh Jaumard (1998) penjadwalan perawat memiliki karakteristik yang penting, antara lain:

a. Coverage

Jumlah perawat dengan berbagai tingkat yang akan ditugaskan sesuai jadwal berkenaan dengan pemakaian minimum personel perawat tersebut.

b. Quality

Sebuah alat untuk menilai keadaan pola jadwal.

c. Stability

Bagaimana agar seseorang perawat mengetahui kepastian jadwal libur masuk untuk beberapa hari mendatang dan supaya mereka mempunyai pandangan bahwa jadwal ditetapkan oleh suatu kebijaksanaan yang stabil dan konsisten, seperti weekend policy, rotation policy.

d. Flexibility

Kemampuan jadwal untuk mengantisipasi setiap perubahan-perubahan seperti pembagian fulltime, part time, rotasi shift dan permanen shift.

e. Fairness

Alat untuk menyatakan bahwa tiap-tiap perawat akan merasa diberlakukan sama.

f. Cost

Jumlah resource yang dikonsumsi untuk penyusunan maupun operasional penjadwalan.

5) Model Sederhana Penjadwalan Perawat di Rumah Sakit

Rumah sakit merupakan instansi yang memiliki kesibukan kerja yang sangat tinggi. Kesibukan ini akan lebih tampak pada ruangan unit IGD, rawat inap dimana pada ruangan ini pengaturan seluruh sumber daya yang meliputi dokter, perawat, kendaraan ambulan, obat-obatan sampai pengaturan shift jaga harus dioptimalkan.

Misalkan pada suatu ruang di sebuah rumah sakit waktu jaga perawat dalam sehari dibagi kedalam 3 shift, yaitu shift pagi, sore dan shift malam. Penjelasan untuk masing-masing shift adalah sebagai berikut :

1. shift pagi

a. Kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja

b. Durasi waktu = antara pukul 7.00 pagi s.d 14.00 sore

2. shift sore

a. Kebutuhan dalam 1 hari = 7 jam kerja

b. Durasi waktu = antara pukul 14.00 sore s.d 21.00 malam

3. shift malam

a. kebutuhan dalam 1 hari = 10 jam kerja

b. Durasi waktu = antara pukul 21.00 malam s.d 7.00 pagi dihari berikutnya.

Dalam memenuhi kebutuhan perawat untuk seluruh shift, haruslah mematuhi peraturan-peraturan yang ada pada rumah sakit. Karena banyaknya batasan-batasan dalam pembuatan jadwal, hal ini mengakibatkan hampir tidak ada solusi yang benar-benar feasible untuk digunakan. Dalam prakteknya pasti terdapat pelanggaran-pelanggaran terhadap satu atau beberapa peraturan.

Oleh karena itu, batasan-batasan model dibagi kedalam dua jenis yaitu :

1. Kendala utama

Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja yang tidak boleh dilanggar. Contoh kendala utama adalah :

a. Seorang perawat tidak dapat berjaga pada shift pagi, sore dan malam dalam secara berturut-turut.

b. Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada lebih dari empat hari aktif kerja berturut-turut.

2. Kendala tambahan

Merupakan batasan-batasan yang merepresentasikan peraturan-peraturan kerja yang sewaktu-waktu dapat dilanggar, namun sebisa mungkin pelanggaran terhadap kendala tambahan tersebut diminimalkan. Contoh kendala tambahan adalah:

a. Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada dua shift malam berturut-turut

b. Setiap perawat tidak boleh ditugaskan pada tiga shift sore berturut-turut.

6) Software Pengatur Jadwal Dinas

Beratus makalah mengenai pengaturan jadwal pegawai telah diterbitkan, banyak yang menggambarkan solusi algoritma (solution algorithms) untuk formulasi problem spesifik. Korespondensi (hubungan) langsung antara software yang tersedia secara komersial dan penerbitan penelitian (yang diterbitkan) secara umum tidak dimungkinkan karena algoritma yang digunakan pada software cenderung untuk secara tertutup menjaga rahasia-rahasia dagang. Namun demikian, beberapa kesamaan dapat diidentifikasi (dikenali) antara masalah-masalah yang ditemukan dalam penelitian dan yang coba diselesaikan dalam paket software tersebut.

Figue 1 memperlihatkan suatu kerangka tiga tingkat untuk perencanaan sumber daya (resource planning) dan pengambilan keputusan terjadwal (scheduling decisions). Kerangka ini digunakan oleh Abernathy dkk (1973) dan telah secara berkala dirujuk dalam berbagai literatur. Fokus utama dalam jurnal ini adalah pada level menengah, yang berkaitan dengan penjadwalan libur dan shift (pergantian jaga). Tingkat perencanaan encompasses (termasuk) (pengambilan) keputusan untuk jangka waktu yang lebih lama, seperti hal-hal terkait sewa (hiring) dan pelatihan pegawai. Tingkat alokasi (addresses) berhubungan dengan keputusan-keputusan yang dibuat pada saat permulaan shift (pergantian jaga).

Ernst dkk (2004) menyajikan suatu survey komprehensif mengenai aplikasi, metode, dan model dari pengaturan jadwal pekerja (pegawai). Mereka menggarisbawahi beberapa elemen dari proses penjadwalan, konstruksi (bangunan) jalinan kerja, pembagian tugas dan pembagian staff. Mereka kemudian menggambarkan 10 wilayah aplikasi yang penting, yang mana tiga diantaranya diidentifikasi sebagai sangat penting; pembagian jadwal crew (kru), pembagian jadwal call center dan pembagian jadwal pekerja kesehatan. Metode pemecahan masalah kemudian dibahas, termasuk pemrograman matematika, pemrograman hambatan (constraint), metaheuristics, dan pendekatan-pendekatan artificial intelligence. Jurnal ini ditutup dengan pembahasan mengenai bidang yang perlu diteliti dimasa depan, yang mana salah satunya adalah generalisasi model dan metode.

Berkaca pada masalah-masalah di dunia nyata, De Causmaeckker dkk (2004) berusaha untuk mendefinisikan persyaratan bagi tujuan umum software pengaturan jadwal pegawai. Berdasarkan hasil kunjungan pada beberapa perusahaan di Belgia, mereka mengidentifikasikan dimensi permasalahan kunci sebagai berikut:

  • Personnel (kepegawaian/SDM): pegawai dan kemampuan mereka.
  • Waktu: dibagi berdasarkan periode yang relevan dengan aplikasi spesifik
  • Tugas: khusus atau umum

Beberapa permasalahan, seperti menentukan tugas mana yang harus dilakukan pada saat berhubungan dengan hanya salah satu atau dua dari ketiga dimensi tersebut diatas. Permasalahan pengaturan jadwal pegawai yang sebenarnya, bagaimanapun, membahas ketiganya secara simultan –yaitu, menentukan pegawai mana yang harus mengerjakan pekerjaan apa pada saat apa.

De Causmaeckker dkk (2004) kemudian melanjutkan pengklasifikasian masalah yang dihadapi oleh perusahaan sebagai berikut:

  • Permanence centered (kedudukan): misalnya, polisi dan perawat rumah sakit.
  • Mobility centered (pergerakan): misalnya, pengawas (inspectors) kesehatan dan keselamatan, dan kunjungan perawat
  • Fluctuation centered (naik turun): misalnya, call centers dan restoran cepat saji (fast food)
  • Project centered (kegiatan): misalnya, software developers dan konsultan.

Yang lainnya menggunakan spreadsheet, misalnya rumah sakit dan organisasi perawat . Menurut De Causmaeckker dkk, menyatakan bahwa organisasi yang mereka kunjungi, “banyak usaha dan waktu dihabiskan untuk mengatur pergantian personel. Bahkan lebih banyak waktu dihabiskan pada saat pergantian personel harus dilakukan karena pegawai sakit atau liburan.” (De Causmaeckker dkk, 2004). Mereka mengidentifikasi aspek-aspek penting berikut dari permasalahan pengaturan jadwal pegawai:

  • ketersediaan pegawai (tetap dan paruh waktu)
  • jumlah lembur
  • kebutuhan tetap atau fluktuatif
  • ketatnya jadwal
  • kemungkinan pegawai saling bertukar tugas
  • fleksibilitas jadwal

Banyak aspek-aspek ini ditunjukkan dalam paket software yang dibahas dalam makalah ini.

Sebagai tambahan dari survey makalah yang telah dibahas diatas, banyak penelitian terkait permasalahan pengaturan jadwal pegawai di dunia nyata yang telah diterbitkan, termasuk permasalahan pada Tabel 1. Sebagian besar aplikasi-aplikasi ini terkait dalam pengembangan dan pengimplementasian software yang dirancang khusus (customized). Dengan semakin banyaknya software pengatur jadwal yang tersedia di pasaran, pengembangan software yang dirancang secara khusus ini lebih memungkinkan.

Jurnal ini mencoba me-review penelitian dan application (pemanfaatan) dari berbagai literature, msekipun tidak terlalu komprehensif, namun berusaha menyediakan konteks yang tepat untuk software pengatur jadwal pegawai yang tersedia secara komersial di pasaran.

7) Software Pengatur Jadwal Pegawai

Meskipun tujuan dari package (kemasan) software yang tersedia secara komersial bermacam-macam, sebagian besar ditujukan untuk kerangka tingkatan menengah pada Tabel 1 – yaitu, pengaturan jadwal libur dan shift. Pada tingkat tersebut, terminology dan definisi penting:

  • shift: periode satu hari yang didefinisikan oleh waktu mulai dan selesai bekerja (misalnya, pukul 9.00 pagi sampai dengan pukul 5 sore)
  • leg (putaran atau pola shift): suatu rangkaian yang meliputi beberapa hari, misalnya satu atau dua minggu.
  • Tour (atau rencana yang terjadwal): kombinasi dari satu atau dua leg.

Ernst dkk (2004) menggunakan terminology yang sedikit berbeda dalam survey mereka dalam penelitian pengaturan jadwal pegawai. Leg dimaksudkan sebagai “ stints ” (periode) dan tour disebut “lines of work”. Meskipun berbeda dalam terminology, elemen dasar seperti didefinisikan diatas tetap digunakan dalam berbagai aplikasi pengatur jadwal pegawai.

Tabel 2 disusun unutk menggambarkan kategori software pengatur jadwal pegawai berdasarkan dua dimensi yang disebutkan dalam Latar Belakang makalah ini: platfor dan scope. Untuk setiap tipe platform di Tabel, simpulan singkat dari keuntungan utamanya bisa terlihat.

8) Software Pengatur Jadwal Pekerja Kesehatan

Pengaturan jadwal pekerja kesehatan termasuk sub-kategori untuk para dokter, namun pengaturan jadwal untuk para perawat mendapat perhatian paling banyak (lebih). Penekanan ini bias dilihat baik dalam literature maupun software yang secara komersial tersedia di pasaran. Untuk pengaturan jadwal perawat, Ernst dkk (2004) membahas bagaimana biaya harus diimbangi dengan hambatan-hambatan terkait (pemenuhan jadwal) 24/7, staf tetap dan temporer, berbagai persyaratan, dan preferensi pegawai.

Karena pengaturan jadwal perawat merupakan bidang aplikasi yang luas, banyak Website yang menakankan bahwa produk mereka dapat digunakan untuk mengatur jadwal kerja para perawat. Sebagian besar software pengatur jadwal industri spesifik adalah Web-based, namun paket aplikasi spreadsheet-based dan desk-top based sebagaimana tersebut dalam Tabel 2 dan dibahas secara singkat dibawah ini.

Dalam halaman Spreadsheet Selector, shiftschedules.com menunjukkan kekhususan untuk mengatur jadwal para perawat dan dokter. Untuk pengaturan jadwal perawat dan staf rumah sakit, situs tersebut menyatakan bahwa produk Serial mereka 15 Easy Scheduler dibuat dengan “(sangat) memperhatikan pengaturan jadwal perawat.” De Causmackker dkk (2004) mengamati bahwa suatu rumah sakit dan organisasi perawat (berkunjung) menggunakan spreadsheet untuk mengatur (pengaturan) jadwal pegawai, meskipun survey mereka dilakukan pada saat software pengatur jadwal pegawai yang tersedia di pasaran masih sedikit (terbatas jumlahnya).

Sistem Desktop-based yang secara spesifik ditujukan untuk pekerja kesehatan sangat sedikit jumlahnya.

Sementara system berbasis Web, banyak produk yang dirancang secara khusus untuk aplikasi pekerja kesehatan. Karena kemampuan “akses jarak jauh” (remote access) bagi pegawai sangat bermanfaat bagi pengaturan jadwal pekerja kesehatan, hal tersebut menjadi salah satu sebab apapun software yang dikembangkan secara khusus untuk aplikasi ini tidak akan kompetitif (laku) di pasaran jika tidak berbasis Web. Berdasarkan laporan di Healthcare IT News, “dorongan yang besar dari dunia teknologi adalah untuk menyiapkan fungsionalitas Web front end (dari hulu ke hilir) seperti pengaturan jadwal sendiri (self-scheduling)…” Berita tersebut juga menyebutkan bahwa integrasi komponen pembayaran (payroll) dengan waktu (time) dan kehadiran (attendance) adalah kebutuhan (permintaan) besar yang lain.

Suatu contoh dari system pengaturan jadwal perawat berbasis Web adalah ANSOS One-Staff (www.mckesson.com). Modul Penugasan dan Beban Kerja software ini menggunakan data persepsi (acuity) pasien sebagai input untuk memprakirakan kebutuhan staf. Manajer dengan begitu dapat mengatur jadwal para staf pada suatu tingkat yang sangat rinci yaitu menugaskan pasien dan tugas-tugas yang spesifik kepada seorang perawat yang memiliki keahlian khusus (yang tepat, memadai).

Modul software Web Scheduler Ansos one-Staff memungkinkan perawat untuk mengakses jadwal dari manapun, mengajukan preferensi, dan memilih shift yang tersedia dimana mereka memenuhi syarat.

Ansos one-Staff adalah Produk unggulan dari Suite McKesson perusahaan yang bergerak di bidang Manajemen Tenaga Kerja, Ansos Satu-Staf membantu organisasi khususnya organisasi kesehatan dalam meningkatkan produktivitas dan mutu pelayanan dari suatu rumah sakit melalui pengaturan jadwal shift secara elektronik dimana pihak manajemen membuat perencanaan ketenagaan yang disesuaikan dengan beban kerja, ketenagaan, kompetensi perawat dan perencanaan tersebut akan dapat di acces oleh seluruh staff khususnya perawat sehingga mereka dapat mengetahui secara on line tempat mereka akan bertugas merawat pasien. Selama lebih dari 28 tahun, Ansos Satu-Staf telah membantu manajemen kesehatan dalam memenuhi target anggaran dan menyelesaikan kesenjangan kinerja dengan efektif, mengantisipasi kondisi beban kerja yang relevan secara klinis dan membuat penyesuaian staff.


Pekerjaan di susun dan di rencanakan sesuai sistem, berdasarkan dokumentasi keperawatan, transparan kepada staf keperawatan dan berguna untuk alokasi sumber daya yang maksimal.
Ansos one-staff Memanfaatkan kekuatan Internet untuk menyediakan komunikasi secara nyata setiap saat antara manajemen dengan komunitas karyawan untuk penjadwalan staf yang efektif.

Tugas dari Manajer yaitu menganalisa Beban Kerja Menggunakan data pasien secara akurat, memperkirakan kebutuhan staf dengan menganalisa beban kerja dan memberikan kualitas perawatan kepada pasien yamg profesional.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam jurnal ini, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Dengan menggunakan model penjadwalan berbasis web, maka diperoleh penjadwalan perawat yang lebih baik dibandingkan jadwal yang dibuat secara manual.

2. Jadwal yang dihasilkan dengan model Ansos One-Staff dapat mengatasi seluruh kendala utama maupun kendala tambahan yang merupakan faktor yang dapat menghambat pemberian pelayanan keperawatan yang profesional.

Rekomendasi

Berikut ini adalah beberapa pertimbangan yang dapat dipakai untuk pengembangan pegaturan penjadwalan shift perawat di rumah sakit :

1. Perencanaan penjadwalan perawat di rumah sakit sebaiknya dilakukan diawal pembuatan jadwal dan memperhatikan aturan yang ditetapkan oleh manajemen rumah sakit.

2. Penggunaan model penjadwalan Ansos One-Staff , dapat menjadi alternative bagi manajemen rumah sakit dalam menentukan jadwal perawatnya.

3. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian pada kasus dimana terdapat permintaan hari libur, permintaan shift pagi, sore dan shift malam dari perawat atau pada kasus dimana setiap perawat mendapatkan jumlah shift yang merata.

Kepustakaan

Agency for Healthcare Research and Quality.(2008). Agency for Healthcare Research and Quality. www.psnet.ahrq.gov/glossary.aspx (diakses tanggal 20 Oktober 2012)

Al-Yakoob, S. and H. Sherali. (2007). Mixed-integer programming models for an employee scheduling problem with multiple shift and work locations.

Azaiez, M. N., & Al Sharif, S. S. (2005). Goal programming model for nurse scheduling.Computers& Operations Research, 32(3), 491–507. [2] Ignizio, James P. (1982)

Bard, J,D.Morton, and Y. Wang.( 2007). Workforce planning at USPS mail processing and distribution centers using stochastic optimization.

Bester, M. I. Nieuwoudt, and J. Van Vuuren. (2007) Finding good nurse duty schedules : a case study. Journal of Scheduling

Callie Chiah-Lee Chan. (2010). Nurse’s perceptions on the impact of health information system usage in their workplace. Volume 37 No.2, Juni 2010. Singapore Nursing Journal. www.ebscho.com (diakses tanggal 20 Oktober 2012)

Gerrad ,M. Campbell (2009). Overview of Workforce Scheduling Software. Fairfield University, 2009

Ignizio, James P. (1982). Linear Programming inSingle – and Multiple – Objective System. The Pennsylvania State University, Prentice – Hall,Inc.

Jeumard, Brigitte, Semet, Frederic, Vovor, Tsevi,( 1998). A genereralized linear programming model for nursescheduling 107: 1-18, European Journal of Operation Research. Jian – Bo Yang. (1999)

Gradient Projection and Local Region Search for Multiobjective Optimisation. European Journal of operation Research

Kedudukan Hukum Perawat dalam Upaya Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit, Raya Grafindo Persada, Jakarta . Tabucanon, Mario T. (1988).

Operations Research : An Introduction Eighth Edition. Prentice-Hall Inc., Upper Saddle River, New Jersey. Tamiz, M., Jones, D., & Romero, C (1998)

Tamiz, M., Jones, D., & Romero, C (1998). Goal programming for decision making: An overview of the current state of-the-art. European Journal of Operational Research, 111, 569–581

Topalagu, Seyda.(2006). A multi-objective programming model for scheduling emergency medicine residents. Computers & Operations Research, 375-388

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 9 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 9 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 13 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 16 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 8 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 8 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: