Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Al Gozali

Pengamat berita terkini

SAYA ANTI KJS/JAMKESDA/JAMKESMAS/JAMPERSAL/Asuransi Nasional 2014 ???

REP | 13 November 2012 | 10:09 Dibaca: 732   Komentar: 2   0

SAYA ANTI KJS/JAMKESDA/JAMKESMAS/JAMPERSAL/Asuransi Nasional 2014 ???

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

1. Kesehatan adalah hak asasi dan salah satu unsur kesejahteraan

2. Prinsip kegiatan kesehatan yang nondiskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan.

3. Kesehatan adalah investasi

4. Pembangunan kesehatan adalah tanggung jawab pemerintah dan masyarakat

(UU Kesehatan, No.36 Tahun 2009)

Judul diatas sengaja untuk memancing pembaca, dikarenakan saat ini ada kebijakan populis yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI dan sedang hebohnya asuransi nasional 2014.

Cara pandang masyarakat saat ini sakit itu adalah:

  1. bayar langsung
  2. bayar premi asuransi swasta
  3. gratis dibiayai KJS/Jamkesda/Jamkesmas/Jampersal

Saya perkenalkan lagi Asuransi Nasional 2014, yaitu mergernya Asuransi BUMN dan pemerintah untuk mengcover seluruh rakyat Indonesia, disini masyarakat diwajibkan untuk membayarnya, yaitu membayar premi yang ditetapkan oleh pemerintah dan DPR. Orang gak mampu (baca: orang miskin) bagaimana bayarnya??? Makan aja susah… kok disuruh bayar premi?? Jawab: Sedangkan untuk fakir miskin dan orang yang tidak mampu Iuran Jaminan Kesehatannya dibayar oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Pasal 17 ayat (5) UU SJSN. à kesimpulannya orang miskin tetap bayar, tapi diwakili oleh pemerintah, disini menggunakan sistem gotong royong.

KJS: Kartu sehat, (bukan GAKIN) ini sama dengan jamkesda atau jamkesmas. Kalo di Bali namanya “ Jaminan Kesehatan Bali Mandara “. Kalo jaman Foke namanya Jamkesda DKI. Kalo jamkesmas dananya dari APBN (pusat) kalo Jamkesda dananya dari APBD. Untuk jamkesda (baca KJS) dan jamkesmas gratis buat masyarakat pengguna kelas III. Kenapa saya sebut masyarakat? Karena faktanya masi banyak yang dikategorikan orang mampu masi menggunakan fasilitas ini.

Gakin: gakin merupakan kebijakan pemda DKI terdahulu, yang mana pengguna dapat potongan discount 50% dari pihak rumah sakit yang berkerjasama dengan pemda DKI dan 50%nya lagi dibiayai APBD DKI.

Asuransi swasta, cukup jelas: seperti AXA, Allyanz, Prudential, dll

Setelah saya paparkan sistem asuransi kita diatas, pertanyaannya adalah dimana posisi kita untuk hidup sehat? Kalo asuransi kan untuk hidup sakit (baca: paradigma sakit) ?? Klo hidup sehat mana?? (paradigma sehat) ??

HAK HIDUP SEHAT KITA MANA?

Mana DANA/UANG untuk iklan ANTI ROKOK di TV dan dijalan-jalan? IKLAN ANTI JUNK FOOD? IKLAN ANTI BORAKS DAN FORMALIN? IKLAN UNTUK GAYA HIDUP SEHAT ?? IKLAN MENYURUH KITA UNTUK JOGING, BERSEPEDA, BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA, BAB DI MCK, MENJAGA KALI, IKLAN MENGENDARA KENDARAAN BERMOTOR DENGAN BAIK??

JAWAB: DANANYA terabaikan… politik kita lebih mencari solusi populis (BEROBAT GRATIS) tetapi tidak mencegah SAKIT!!

Contoh: saya kritisi kebijakan Jampersal. Semua Ibu di Indonesia gratis untuk ANC (Perawatan Kehamilan) s.d Melahirkan (baik secara Cesar maupun Normal), walaupun untuk anak keberapapun!! Lha klo anak berapapun ditalangi untuk dilahirkan “artinya, Pemerintah tidak mendukung program KB” artinya lagi pemerintah secara tidak langsung pemerintah mendukung ledakan penduduk!!. Belum lagi motif menjual anak… orang miskin yang dibiayai pemerintah untuk melahirkan (gratisan) disinyalir ada mafia jual beli anak, dikarenakan tidak ada biaya perawatan dan biaya melahirkan/TIADA MODAL.

Rokok: di KJS atau Jamkesmas, ada tidak syarat yang menyatakan, bahwa perokok dilarang menggunakan KJS atau jamkesmas?? Kalo TIDAK DILARANG maka, secara tidak langsung PEMDA DKI atau Pemerintah pusat mendukung masyarakat Indonesia tuk merokok!! Akhirnya berapa biaya yang dihabiskan buat makhluk perokok???

KEADILAN = disini tidak ada keadilan, dimana orang mampu bayar pajak disuruh bayar pajak untuk biaya APBD untuk Jamkesda, tetapi orang pengguna KJS/Jamkesmas yang merokok, hamil anak ke-3, pengendara tidak menggunakan helm TIDAK DIBATASI, kasarnya: “dah gak bayar pajak, gak bayar premi, gaya hidup gak sehat TETAPI dapat fasilitas gratis untuk SAKIT”

Solusi (pendapat saya): Yang paling tepat untuk solusi “sakit” ini adalah menggunakan GAKIN, yakni pasien dibebankan 50% dari biaya Total pasien sakit. Disini pasien di didik bahwa sakit itu mbayar.. bukannya gratisan. Disamping itu DANA APBD/N nya dapat dialokasi kan untuk iklan/promosi Kesehatan untuk gaya hidup sehat. Pengguna Gakin juga dibatasi, bila pasien merokok/anak ke-3 maka pembiayaan HARUS BAYAR PENUH.

Kesimpulan: Jadi Dana yang di alokasikan PEMDA maupun Pemerintah Pusat untuk Kesehatan, BENAR-BENAR digunakan untuk PARADIGMA SEHAT, bukannya HANYA untuk PARADIGMA SAKIT. Memang kelihatannya KJS/Jamkesmas amat membantu orang miskin dalam biaya rumah sakit, akan TETAPI it’s NOT Solution…Itu hanyalah pembodohan rakyat, karena lingkungan kita, pemerintah kita tidak mendidik kita untuk mandiri secara SEHAT.

TERIMA KASIH

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 15 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 15 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 15 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 15 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: