Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Andi_asri@ymail.com

Sebagai dosen pada FKM UVRI Makassar dan juga peneliti pada lembaga swadaya kesehatan masyarakat. Tercatat selengkapnya

Kalkulasi Sehat

OPINI | 04 November 2012 | 21:09 Dibaca: 172   Komentar: 0   0

Sehat seringkali hanya menjadi buah bibir ketika kita sedang betul-betul sehat, dan lupa bahwa sehat sesungguhnya adalah harta dan investasi yang tak ternilai. Ketika orang sakit, sehat menjadi sesuatu yang sangat dipuja dan memiliki arti yang tak terkirakan, sehingga upaya-upaya pengobatan dilakukan dengan berbagai cara untuk sembuh, dan itu semua membuat kita tak pernah menghitung berapa biaya kesembuhan.

Benang merah pada masalah kesehatan dan penyakit terletak pada aspek pangan, imunisasi dan gaya hidup, meski hal ini masih dalam persfektif global. Mengapa ketiganya bisa dimaknai sebagai benang merahnya?

Paling tidak, karena sehat adalah sesuatu yang batas-batasnya ketika orang sakit, yang factor-faktor dalam mencapainya adalah sesuatu noktah yang membuat tepungnya adalah sehat dan benang merahnya adalah kurang gizi, tidak ada imunisasi dan perilaku yang buruk. Fungsi pangan bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktifitas fisik dan bobot tubuh, ia berfungsi sebagai primary function. Pangan juga memiliki cita rasa dan penampakan yang menarik sehingga merangsang selera untuk mengkonsumsinya—sebagai secondary function. Dan kemudian muncul suatu konsep pangan yang memiliki kemampuan secara fisiologis pada tubuh manusia seperti menurunkan kolesterol, menirinkan tekanan darah, menurunkan gula darah, penyerapan kalsium. Fungsi ini disebut tertiary function. Kesemuanya merupakan kesadaran pada substansi pangan yang sangat kuat pada premise kesehatan dalam bagian tertentu, dan keseluruhan sebagai hal yang bermakna sehat.

Pada persfektif imunisasi sesungguhnya berada pada posisi kemandirian tubuh yang memiliki batas-bats yang menyebabkan perlu bantuan dari berbagai zat-zat tertentu yang bukan dalam klasifikasi obat, imunisasi adalah pemberian zat kekebalan tubuh secara buatan karena tubuh belum mampu secara optimal melakukan pertahanan pada berbagai kelompok penyakit tertentu seperti pada bayi dan balita, atau karena memiliki tingkat resiko tertentu seperti pada ibu hamil.

Sementara gaya hidup adalah perilaku manusia terhadap liongkungan sekitarnya, yang bisa dimaknai sebagai perilaku yang terkait dengan sanitasi dengan perilaku hidup bersih dan sehat, atau perilaku seks yang dimaknai sebagai setia pada satu pasangan seks, dan sebagainya.

Ketika jasmani kita sehat, belum tentu menjadi sesuatu yang dimaknai sebagai kesehatan paripurna, kalau masyarakat di negara-negara maju sudah berada pada tingkat kesehatan jasmani yang sangat diandalkan, belum tentu status kesehatan yang diharapkan, karena terpaan gangguan jiwa—neurotis dan depresi adalah sesuatu yang menjadi penderitaan panjang yang tak pernah berakhir.

Pakar kejiawaan sejak zaman S. Freud menerjemahkan bahwa alienasi atau keterasinga jiwa menjadi hal yang sangat mendasari berbagai gangguan jiwa itu sendiri.

Manusia terpasung dalam kesunyian dan sendiri dalam perjalanan waktu, semuanya menjadi hal yang sangat kering dalam catatan dan ritme hidup bagi mereka, ia ditekan indoktrinasi teknologi yang sangat bercampur dengan dogma-dogma individualistis. Hidup adalah menumpuk harta dan glamour, waktu yang tersisa untuk relaksasi hanya sebagai hedon dan tertekan dalam kenikmatan itu sendiri.

Hilangnya kebebasan untuk membangun jiwa dalam suatu harapan-harapan yang misterik dalam kedalaman yang tak terjawab sebagai hamba Tuhan adalah sesuatu yang sangat menderita. Kekuatan untuk menggapai pemikiran-pemikiran yang arif tidak lagi bisa diciptakan karena sirnanya cinta dalam dirinya. Cintanya penuh dengan kekuasaan dan keinginan-keinginan untuk terus hidup dalam pencarian-pencarian materik yang tak berujung.

Simbolisasi pikiran pada dunia hedon menjadi hal yang dipersepsi sebagai penawar dari suatu kerja keras yang penuh kecemasan. Pikiran-pikiran tentang peluruhan manifestasi kekuatan libido menjadi kapsul yang dimaknai sebagai aspirin. Manusia-manusia yang lelah jauh dari identitas-identitas—menjadi golem yang akhirnya hancur dalam kenyataan dunia—dunia yang dihambanya.

Tuhan menjadi jauh dari kehidupan sekularisasi yang menjadi kekuatan yang sangat popular untuk survive dalam keuatan kebendaan. Pesta-pesta yang digelar kemudia dipertontonkan ke seluruh dunia, hanya untuk memberikan peradaban secara global agar bisa dimaknai sebagai sesuatu yang menjadi normative saja, bukan sesuatu yang salah.

Kata Fromm, “Manusia telah melepaskan dirinya sehingga bebas dari otoritas sekuler dan klerikal. Dan Ia berdiri sendiri dengan akal budi dan kesadarannya menjadi satu-satunya ukuran penilaian, tetapi ia takut akan kemenengannya ini, akan kebebasannya ini; manuasia sudah mencapai tahap “bebas dari” namun belum mencapi tahap “bebas untuk” untuk menjadi dirinya sendiri, untuk produktif, untuk sepenuhmya bangkit sebagai manusia. Maka manusia mencoba lagidari kebebasannya, prestasi-prestasinya seperti menjadi tuan atas alam, menembus jalan bagi pelariannya”.

Kebebasan tanpa kemerdekaan adalah sesuatu yang bisa menimbulkan friksi. Bahwa kebebasan nurani adalah kebebasan tidak ada alierasi dalam dirinya, tetapi kemerdekaan untuk berada dalam kebebasannya itu sendiri menjadi hal yang sangat penting. Manusia banyak yang bebas tetapi tidak merdeka karena masih didera oleh suatu intimidasi pemikiran-pemikiran yang sesungguhnya secara bebas dipraktekkan, tetapi tidak sesuai dengan alam pencitraan dirinya. Kebebasan itu harus merdeka dalam berbgai hal yang sangat punya kepentingan dalam dimensi kebebasan itu sendiri.

Contoh : media massa adalah sesuatu yang membangun kepercayaan pada suatu produk susu kalsium yang sangat kuat, tetapi dunia pencitraan menyatakan bahwa seharusnya kita hanya butuh tepung tulang yang difortifikasi pada tubuh. Kita tidak mampu mengubahnya karena takut kita dianggap tidak praktis, dan tidak modern. Kita terbelenggu dalam kebebasan berfikir kita sendiri.

Di negara ini saja tercatat 85 industri yang bergerak dalam bidang manufaktur, pertambangan dan energi, serta pertanian dan kehutanan diragukan memenuhi standar pengelolaan limgkungan. PROPER (program penilaian peringkat kinerja perusahan dalam pengeloalan limgkungan) yang dilancarkan KLH menemukan bahwa 33 industri masuk peringkat hitam, yaitu air limbah dan emisi udara lebih dari 500 persen parameter baku mutu yang diizinkan, tidak melakukan pengelolaan limbah B3, dan tidak punya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). 30 industri masuk peringkat merah, yaitu air limbah dan emisi melebihi naki mutu, sudah mengelola limbah B3 meski belum memenuhi syarat, dan punya amdal, sebanyak 14 industri masuk dalam peringkat biru, yaitu memenuhi baku mutu, sudah mengelola limbah meski baru taraf memiliki izin pengelolaan, dan melaporkan upaya kelola lingkungan (UKL) atau upaya pemantauan lingkungan (UPL); dan 8 industri masuk peringkat hijau, yaitu sudah melakukan minimalisasi limbah B3, air limbah dan emisi serta melakukan hubungan masyarakat dengan baik; peringkat emas adalah industri yang tidak memproduksi limbah atau aman dari limbah tidak ada. Kepedulian terhadap dunia sekitar adalah sesuatu yang sangat kabur dalam dunia yang sangat maju., meningkatnya populasi manusia menjadikan kebutuhan hidup semakin besar, manusia tidak bisa lagi hadir dalam pemikiran-pemikiran yang sangat komvensional. Kekuatan pikiran untuk melahirkan formula-formula untuk peningkatan ketersediaan bahan pangan melahirkan aneka macam formula-formula yang mengikutinya.

Pada masyarakat primitif, orang tudak butuh instrumen untuk bercocok tanam karena segalanya bergantung pada alam, pola hidup binatang menjadi hal yang sangat identik dengan gya hidup masyarakat primitif. Ketika peradaban mulai dikenal, sudah muncul aneka macam instrumen bercocok tanam hingga tiba pada masa revolusi industri. Segala pengelolaan lahan perkebunan dikerjakan oleh mesin-mesin yang memudahkan manusia, tingkat produksi sangat berlipat ganda dibandingkan dengan system pengelolaan lahan secara tradisional. Tetapi kemudian melahirkan berbagai friksi lingkungan hayati. Pestisida yang digunakan untuk menjaga serangan hama, banyak melibatkan resiko yang sangat kuat bagi hadirnya dampak racun bagi tubuh. Dunia pencitraan modernisasi menjadi sesuatu yang tidak bisa tidak, dan selalu menghadirkan benturan-benturan yang menjadi halnya sendiri sebagai sesuatu yang mampu menghadirkan kemudahan tersebut.

Pergesekan masyarakat dengan perkembangan teknologi lebih banyak, harus diterjemahkan sebagai suatu tanggung jawab moral. Kesejahteraan adalah sesuatu kenyamanan dan keterangan, bukan sesuatu yang melahirkan penderitaan-penderitaan baru. Teknologi yang hadir, harusnya tidak menjadi sesuatu yang bebas dari nilai-nilai lingkungan. Pada keseluruhan bangunan industri, ia tidak boleh menjadi pressure bagi masyarakat, karena hal itu sama saja menanfikkan kemurnian cita-cita dari ilmu pengetahuan yang menjadikan kapasitas tekonologu menjadi suatu peradaban, sebagaimana kesusasteraan dan seni lukis adalh produk peradaban tetapi tidak pernah menghancurkan produk-produk peradaban lainnya.

Dunia yang maju adalah ketika harmonisasi berbagai peradaban terwujud dalam jalinn yang padu dalam kekuatan kosmis yang saling ikat mengikat dalam suatu kesatuan yang tidak pernah lekang oleh suatu kepentingan, karena ia suatu system alam raya yang berangkat dari suatu atmosfir pancaran makna-makna untuk kelayakan dan kesejahteraan hidup.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 4 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 5 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 6 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 10 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: