Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Andi_asri@ymail.com

Sebagai dosen pada FKM UVRI Makassar dan juga peneliti pada lembaga swadaya kesehatan masyarakat. Tercatat selengkapnya

Pencegahan dan Pengobatan TB Paru

OPINI | 30 October 2012 | 08:47 Dibaca: 10297   Komentar: 0   0

Penyakit tuberculosis adalah menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang aerobik, ramping lurus dengan ukuran panjang 0,4 x 3 mm. Kuman ini ditandai dengan sifat tahan asam yang sangat tertgantung selubung berlilin, oleh karena itu kuman TB menyerang paru, akan tetapi juga mengenai organ tubuh yang lain. Cara penularan TB paru terjadi karena kuman di batukkan atau dibersihkan keluar dalam bentuk percikan sputum. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama 1-2 jam tergantung ada tidaknya sinar ultra violet, kelembaban, dan ventilasi yang baik. Orang terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan (Depkes RI, 2002).

Dalam pencegahan penyakit TB paru dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Cara pencegahan penularan penyakit TB adalah:

1. Mengobati pasien TB Paru BTA positif, sebagai sumber penularan hingga sembuh, untuk memutuskan rantai penularan.

2. Menganjurkan kepada penderita untuk menutup hidung dan mulut bila batuk dan bersin.

3. Jika batuk berdahak, agar dahaknya ditampung dalam pot berisi lisol 5% atau dahaknya ditimbun dengan tanah.

4. Tidak membuang dahak di lantai atau sembarang tempat.

5. Meningkatkan kondisi perumahan danlingkungan.

6. Penderita TB dianjurkan tidak satu kamar dengan keluarganya, terutama selama 2 bulan pengobatan pertama.

b. Upaya untuk mencegah terjadinya penyakit TB:

1. Meningkatkan gizi.

2. Memberikan imunisasi BCG pada bayi.

3. Memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita yang tidak mempunyai gejala TB tetapi mempunyai anggota keluarga yang menderita TB Paru BTA positif.

Keberhasilan upaya penanggulangan TB diukur dengan kesembuhan penderita. Kesembuhan ini selain dapat mengurangi jumlah penderita, juga mencegah terjadinya penularan. Oleh karena itu, untuk menjamin kesembuhan, obat harus diminum dan penderita diawasi secara ketat oleh keluarga maupun teman sekelilingnya dan jika memungkinkan dipantau oleh petugas kesehatan agar terjamin kepatuhan penderita minum obat (Idris & Siregar, 2000).

Dewasa ini upaya penanggulangan TB dirumuskan lewat DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse = pengobatan disertai pengamatan langsung). Strategi ini terbukti keberhasilannyadiberbagai tempat. Di Indonesia, konsep strategi DOTS mulai diterapkan tahun 1995 (Depkes RI,1999). Pelaksanaan strategi DOTS dilakukan di sarana-sarana Kesehatan Pemerintah dengan Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan program. Pengobatan ini dilakukan secara gratis kepada golongan yang tidak mampu.

Secara garis besar srategi DOTS, terdiri dari lima komponen, yaitu (WHO, 1998) :

1. Komitmen

Komitmen bersama untuk mengibati penerita TB (terutama komitmen politik). Dalam hal ini pemerintah membentuk gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberculosis (Depkes RI, 2000).

Gerakan terpadu Nasional penanggulangan tuberculosis (Gerdunas TB) adalah gerakan multi sektor dalam multi komponen dalam masyarakat yang terkait. Tujuan GerdunasTB adalah mengkoordinasikan manajemen program pemberantasan tuberculosis (P2TB) secara lintas bidang dan elibatkan sektor lain yang bersedia aktif dalam P2TB (Depkes RI, 2000).
Adapun struktur organisasi Gerdunas TB adalah sebagai berikut:

Sumber : Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberculosis (Depkes RI,1999)

2. Diagnosis dengan pemeriksaan sputum

Dalam program nasional penanggulangan tuberculosis, pemeriksaan diagnosis dengan sputum untuk penemuan tersangka TB dilakukan secara pasif (passive casefinding), yaitu penjaringan tersangka dilaksanakan pada penderita yang berobat keunit pelayanan kesehatan dengan penyuluhan secara aktif oleh petugas kesehatan dan masyarakat. Semua yang kontak dengan penderita TB Paru BTA positif dan memiliki gejala yang sama harus segera diperiksa sputumnya (Depkes RI,2000).

3. Pengawas Menelan Obat

Permasalahan utama dalam program eliminasi TB adalah ketidak patuhan penderita untuk minum obat. Untuk mengatasi permasalahan ini, WHO mengembangkan metode DOT (directly observed treatment) atau pengawas menelan obat (Grange & Zumlah, 1999).

DOTS pada prinsipnya menekankan upaya mengawasi secara langsung penderita menelan obat setiap harinya oleh DOT atau pengawasan menelan obat (PMO). PMO inilah yang bertanggungjawab kelangsungan minum obat. PMO adalah orang pertama yang selalu berhubungan dengan penderita sehubungan dengan pengobatannya. PMO yang mengingatkan untuk minum obat, mengawasi sewaktu menelan obat, membawa kedokter untuk kontrol berkala, dan menolong pada saat ada efek samping (Depkes RI,2000).

4. Jaminan Ketersediaan Obat

Panduan obat yang efektif merupakan elemen pokok dari strategi DOTS yang dapat menjamin kesembuhan penderita TB dan mencegah MDR. Untuk itu diperlukan jaminan kelangsungan ketersediaan obat (Nunn & Enarson, 1994). Panduan obat yang dorekomendasikan oleh WHO, IULTD, The British Thoracic Assosiation End The American Thoracic Soceity adalah regimen pengobatan jangka pendek (Chan et al., 1993; Manalo et al., 1990).

Secara umum pengelolaan obat anti tuberculosis (OAT) untuk program digambarkan sebagai berikut :

Sumber buku pedoman nasional

Penanggulangan Tuberkulosis

(Depkes RI 2002a)

Pemantauan yang baik dalam hal deteksi kasus, manajemen kasus dan hasil pengobatan merupakan faktor penting untuk menjamin kualitas P2TB (Lonnorth,2000). Untuk melaksanakan pemantauan, diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan buku yang dilaksanakan dengan baik dan benar. Hasil pemantauan sangat diperlukan untuk mengevaluasi kinerja dari P2TB. (Depkes RI 2000) menetapkan indikator-indikator nasional yang dipergunakan untuk mengevaluasi kinerja P2TB, yaitu; angka penemuan penderita (case detection rate, angka kesembuhan (cure rate), angka konversi(conversion rate) dan angka kesalahan laboratorium (error rate).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 6 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 9 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 13 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 14 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: