Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Rahmad Agus

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan… Insyaallah… Belajar sampai nafas terakhir. Suka selengkapnya

Rabun Dekat dan Rabun Jauh: Penyebab, Tips Mencegah dan Mengatasi

OPINI | 09 September 2012 | 16:36 Dibaca: 27003   Komentar: 24   13

13471105201329471743

1. Anatomi Mata (Mayo Clinic)

Hello Dear Kompasianers,

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, sebenarnya tips-tips kesehatan yang saya buat adalah untuk koleksi/katalog pribadi yang saya susun berdasarkan pengalaman pribadi dan dari berbagai sumber media. Namun saya pikir, ada baiknya juga saya share yang mungkin bermanfaat juga bagi para pembaca ^_^

Ok deh, lanjuut…

Pertama kali saya mengenakan kacamata adalah saat baru masuk kelas 1 SMA, hmm berarti sudah 15 tahun. Saat itu penglihatan saya -1 dan sekarang sudah -2,5. Sebenarnya saya tidak suka menggunakan kacamata, tidak nyaman dan agak mengganggu kegiatan sehari-hari khususnya kegiatan fisik.

Tidak bisa membaca tulisan di papan tulis kelas dan yang paling tidak mengenakkan adalah kadang saya disebut sombong karena tidak mau memandang kenalan saat berpapasan di jalanan, padahal dalam jarak kira-kira  lebih  10 meter saya tidak bisa mengenali wajah seseorang karena terlihat kabur. Yahh… suka tidak suka ya terpaksa menggunakan kacamata ^_^

***

1347110657117664250

2. Rabun Jauh (Myopia)

Penyebab, Tips Mencegah dan Mengatasi Rabun Jauh

Rabun jauh (mata minus) atau secara medis disebut dengan myopia (Inggris: Nearsightedness) adalah kondisi dimana mata tidak mampu melihat objek yang relatif jauh dengan jelas (terlihat kabur) dan memiliki kemampuan untuk melihat objek yang relatif lebih dekat dengan jelas. Hal ini terjadi karena cahaya pantulan objek yang masuk ke mata (focal point) tidak jatuh tepat di retina, melainkan jatuh di depan retina sehingga menyebabkan gambar yang diterima mata menjadi kabur (gambar 2).

Animasinya penyebab Rabun Jauh bisa dilihat di link ini, Your Eye Guide

Biasanya rabun jauh ini dialami oleh kalangan pelajar yang “”kutu buku” dan orang-orang yang bekerja di depan komputer ^_^

Khusus kalangan pelajar atau peneliti sains yang cukup sering menggunakan mikroskop, sebaiknya secara periodik melihat objek jauh saat menggunakan mikroskop, dan untuk mikroskop monokuler menggunakan mata kiri dan kanan secara bergantian, karena hal inilah salah satu penyebab berbedanya ukuran dioptri mata kiri dan kanan.

Rabun jauh diklasifikasikan berdasarkan ukuran refraksi lensa yang dibutuhkan untuk mengoreksinya dalam satuan dioptri.

Miopia ringan, lensa koreksinya (-) 0,25 s/d 3,00 Dioptri.

Miopia sedang, lensa koreksinya (-) 3,25 s/d 6,00 Dioptri.

Miopia tinggi, lensa koreksinya > (-) 6,00 Dioptri. Penderita miopia kategori ini rawan terhadap bahaya pengelupasan retina dan glaukoma sudut terbuka.

Beberapa faktor resiko terjadinya miopia diantaranya adalah:

  1. Genetis. Sebagian besar kasus rabun jauh disebabkan oleh penurunan sifat dari orang tua.
  2. Ras. Ternyata, orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih besar (70% - 90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30% - 40%). Paling kecil adalah Afrika (10% - 20%).
  3. Kekurangan makanan bergizi pada masa pertumbuhan hingga usia 12 tahun.
  4. Kebiasaan buruk, misalnya kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus seperti membaca, melihat media visual (televisi, komputer, gadget) dalam jarak dekat, membaca sambil tiduran, dan membaca di tempat yang kurang cahaya (remang).

Pencegahan Rabun Jauh sebaiknya dimulai dari usia dini, menghindari kebiasaan buruk, mengkonsumsi makanan bergizi khususnya yang mendukung kesehatan mata seperti telur, brokloi, buah alpukat, wortel dan bayam.

Sedangkan untuk mengatasi Rabun Jauh adalah dengan menggunakan kacamata minus atau lensa kontak (ukurannya dapat diketahui melalui periksa mata ke dokter atau di toko kacamata yang memiliki alat pengukur dioptri), terapi obat mata khusus dan melalui operasi misalnya melalui operasi LASIK (Laser-assisted in-situ keratomileusis).

Saya pernah menerima nasehat bahwa rajin membaca Al-Qur’an adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan mata.

1347114908357733140

3. Rabun Dekat (Hyperopia)

Penyebab, Tips Mencegah dan Mengatasi Rabun Dekat

Istilah medis untuk Rabun Dekat adalah Hyperopia atau Hypermetropia (Inggris: Farsightedness), Rabun Dekat adalah kebalikan dari Rabun Jauh, bisa melihat objek jauh dengan jelas dan terlihat kabur melihat objek yang dekat. Hal ini terjadi karena fokal point jatuh diluar retina mata (Gambar 3).

Animasinya penyebab Rabun Dekat bisa dilihat di link ini, Your Eye Guide

Rabun Dekat sering dikaitkan dengan presbyopia (menurunnya elastilitas lensa), biasanya dialami oleh seseorang yang telah berusia sekitar 40 tahun, karena di antara keduanya mempunyai kemiripan gejala yaitu rabun jauh. Jadi secara teknis rabun jauh punya dua nama, disebut hipermetropia jika terjadi pada anak dan orang dewasa usia dibawah 40 tahun dan disebut presbiopia jika terjadi pada orang tua usia 40 tahun ke atas.

Kebanyakan bayi lahir dalam keadaan hipermetropia dan sembuh dengan sendirinya pada usia sekitar 12 tahun. Pada usia muda kemampuan akomodasi mata masih sangat baik, sehingga anak atau remaja yang mengidap hipermetropia tidak merasa terganggu. Pada orang dewasa, kemampuan akomodasi mata akan banyak menurun dan sangat terasa pada usia sekitar 40 tahun, di mana pada saat itu ia akan kesulitan melihat benda kecil dalam jarak dekat (± 30cm).

Pada orang tua, rabun dekat merupakan bagian dari proses penuaan yang secara alamiah dialami oleh hampir semua orang. Penderita akan menemukan perubahan kemampuan penglihatan dekatnya pertamakali pada pertengahan usia empat puluhan. Pada usia ini, keadaan lensa kristalin berada dalam kondisi dimana elastisitasnya telah banyak berkurang sehingga menjadi lebih kaku dan menimbulkan hambatan terhadap proses akomodasi, karena proses ini utamanya adalah dengan mengubah bentuk lensa kristalin menjadi lebih cembung.

Rabun Dekat biasanya dialami oleh orang yang berprofesi supir dan pelaut.

Pencegahan Rabun Dekat sulit dicegah karena merupakan proses alamiah dari penuaan, namun prosesnya dapat diperlambat dengan mengkonsumsi makanan yang mendukung kesehatan mata, menjaga mata dari terpaan cahaya matahari langsung, melihat objek yang dekat secara periodik bagi yang berprofesi supir dan pelaut.

Sedangkan untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan menggunakan lensa positif, operasi bedah mata dan terapi pengobatan.

***

Well Dear Readers…

Semoga bermanfaat.

Salam Hangat Sahabat Kompasianers ^_^

————————————————————

Referensi:

  1. Mayo Clinic.
  2. National Eye Institute (NEI).
  3. Your Eye Guide.
  4. Healthmad.
  5. Terapi Mata.
  6. Kompas.
  7. All About Vision

————————————————————

Koleksi Artikel Kesehatan Penulis:

  1. Penyebab dan Tips Mencegah Pikun (Dementia)
  2. Manfaat Teknik Pernafasan Perut Untuk Kesehatan
  3. Harmonisasi Gaya Hidup Sehat dengan Jam Biologis
  4. Pentingnya Mengenal Jenis dan Pemicu Sakit Kepala
  5. Mabuk Perjalanan: Penyebab, Tips Mencegah dan Mengatasinya
  6. Cegukan Normal dan Penyebab dan Tips Mengatasinya
  7. Nata De Coco Berbahaya atau Aman Dikonsumsi?


Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Topan Lain Akan Memasuki Filipina (Topan …

Enny Soepardjono | | 24 July 2014 | 08:53

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ …

Christie Damayanti | | 24 July 2014 | 11:40

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 9 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 10 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: