Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Guntur Gozali

Blog more, share more... Semoga ada tulisan saya yang memberi inspirasi ke pembaca yg budiman

Dokter Kejar Setoran versi 2.0

OPINI | 21 August 2012 | 13:30 Dibaca: 626   Komentar: 12   2

Sudah baca tulisan saya mengenai dokter mata yang kejar setoran itu (Kejar Setoran), yang mengakibatkan sebelah mata teman saya tidak bisa melihat itu?

Nah, rupanya ada lanjutan ceritanya, dan terjadi ke saya pula. Memang benar2 saya ini lebih bodoh dari keledai yang gak mau terantuk batu kedua kalinya.Hari Senin lalu, saya memeriksakan diri ke dokter ahli kulit di salah satu rumah sakit international di dekat kantor saya. Sejak beberapa bulan yang lalu, di pipi kiri saya ada benjolan karena penebalan kulit seperti tampak pada beberapa orang yang sudah mulai berumur.

Sebenarnya penebalan kulit ini hal yang umum terjadi, namun karena tangan saya gak bisa diam, saya coba2 garuk2 supaya terkelupas. Eh alih2 terkelupas, malah semakin lama menjadi semakin tebal dan gatal. Karena takut jadi tumor, maka pergilah saya memeriksakan diri ke dokter kulit.

Baru duduk sekitar 2 menit, dokter yang sudah senior dan tampak berpengalaman itu sudah bisa menyimpulkan kira2 kenapa. Dia mengambil secarik kertas dan menuliskan apa yang saya derita, namanya antik: Sebhorrheic Keratosis sembari mengatakan: “Nanti kamu cari sendiri di internet”.

Setelah itu saya disuruh berbaring di ranjang yang tersedia di ruang prakteknya. Sementara saya menunggu si dokter, sang suster pendamping sudah sibuk mempersiapkan alat injeksi. Dokter menanyakan apakah saya alergi antibiotika jenis ini atau itu, saya jawab tidak. Terus dokter memeriksa lebih teliti benjolan di pipi saya, dan langsung mengatakan: “Tidak apa2 ini, kita ambil aja ya”, katanya.

Dheggg…saya langsung teringat teman saya yang dioperasi matanya itu. Saya sempat berpikir untuk menunda tindakan operasi atau apapun namanya, tetapi si dokter dengan mantapnya mengatakan: “Semenit selesai, langsung kita ambil aja. Suster, tolong alat injeksinya” katanya ke suster.

Langsung dia mengambil jarum suntik dari suster yang sudah siap berdiri di sebelahnya. Saya bingung juga, mau protes gimana gak protes gimana, mau nanya second opinion dari dokter lain apa tidak atau sebaiknya ditunda aja dulu tapi kok katanya cuma semenit, duhhh…bingung…

Ehh…selagi saya msh bingung, dokter sudah memegang pipi saya, menyuntikkan obat bius local di lokasi benjolan di pipi saya. Jress…clekitt….Lahh…telat dah… Saya dalam keadaan pasrah hanya sempat menanyakan dengan lirih, berbekas gak dok nantinya? Si dokter, sembari memasang kaca pembesar dan mengarahkan alat untuk membakar benjolan di pipi saya, menjawab: “Ya adalah sedikit bekas, tapi nanti lama2 juga akan hilang”.

Cesss…cessss…cesss…terdengar seperti kulit terbakar dan berbau sangit, kemudian tidak sampai semenit selesai sudah. “Sudah selesai, tinggal dikasih salep, ditutup handiplast dan jangan terkena air selama seminggu ya. Selesai sudah.”

Whatt…seminggu gak boleh kena air?? Duhhh dokk batin saya, kok gak dari tadi omongnya, kan ini mau liburan panjang, saya mau berenang-renang dengan anak2, mau main basah2an, mau berendam selama liburan dokkk. Yahhh….kok dokter gak omong sehhh…hiksss….

Sembari menyumpah serapahi diri sendiri, saya menuju kasir. Pada perjalanan ke kasir,  saya baca surat pengantar dokter ke kasir berapa kira2 biayanya. Di tulisan cakar ayam si dokter, yang saya bisa baca hanya biaya admin 30 ribu, dan dokter spesialis 250 ribu. Total 280 ribu, yahh oke juga untuk tindakan seperti itu biayanya 280 ribu, pikir saya.

Sesampai di kasir, kasir mengatakan: “Pak, ini selain biaya dokter ada biaya tindakan ya, sejuta seratus. Apa mau dijadikan satu kwitansi?”. Hekkksss…sejuta seratus untuk pekerjaan gak sampe semenit, alamakkkkk mahal benerrrr….

Duh pak dokter…gimana kalau saya gak sanggup bayar, kan saya bakal disandera seperti pasien2 lain yang gak bisa bayar itu? Duhhh….duhh….duhh…

Haizz….

Tanpa bermaksud mendiskreditkan usaha mulia dokter2 kita tapi inilah kekurang dokter2 di Indonesia yakni …penjelasan…penjelasan….dan….penjelasan.

Harusnya dia jelaskan dulu apa yang saya derita, apa impact kalau diambil tindakan dan apa akibatnya jika tidak dilakukan apa2, apa yang akan terjadi paska tindakan itu, berapa biayanya dlsb dlsb. Kemudian pasien diberi kesemapatan untuk berpikir dan mengambil keputusan. Itu baru hebatt..

Memang tindakannya berhasil sih, tapi kalau saya diberi penjelasan dengan baik, saya memilih mengambil tindakan setelah libur lebaran saja, wong tidak diapa-apain juga tidak apa2 kok. Tapi…ya itu deh…

Sekarang pipi saya ditempeli handiplast mirip petinju yang pipinya bonyok habis digebuki lawannya, but it is still ok lah, tapi yang saya menyesal saya gak bisa berenang dan mainan air selama liburan ini.

Gimana tuh kalau lebaran ini saya berencana diving? Kan batal hanya gara2 tindakan dokter semenit , yang tidak perlu2 amat dilakukan sekarang itu ….haizzzz…. Gomballl tenan…

Dear Ibu/Pak Dokter, kami semua mencintaimu, tapi bisakah kami tidak diperlakukan layaknya mesin ATM? Perlakukanlah kami sebagai human being, manusia yang perlu mendapat perhatian dan pelayanan terbaik. Dengarkan kami dengan baik, dan layani sebaik yang selayaknya.

Salam,

GGO

http://www.gunturgozali.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 16 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 20 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 22 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: