Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Asti Widuri

Dokter Spesialis THT

Mengenal Kelelahan Bersuara, Pita Suara Bisa Capek Juga, ya?

OPINI | 27 July 2012 | 14:17 Dibaca: 767   Komentar: 4   1

Bismillah .. Ini tulisan pertamaku di kompasiana..

Insya Allah kedepan saya akan berbagi dengan sesama dengan apa yang saya punya

Suara merupakan alat komunikasi verbal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi sangat penting pada bidang-bidang pekerjaan tertentu seperti guru, penyanyi, penyiar, aktor dan sebagainya. Kelelahan bersuara (Voice fatigue) merupakan adaptasi negatif pembentukan suara yang timbul pada orang-orang yang sering menggunakan suara dalam jangka waktu lama tanpa adanya kelainan patologis pada laring. Kelelahan bersuara biasanya bermanifestasi sebagai turunnya volume suara dan tinggi nada, rasa nyeri saat bersuara bahkan dapat terjadi suara serak.

Proses pembentukan suara sendiri dimulai dari adanya tekanan udara yang adekuat dari dalam paru-paru (kekuatan aerodinamis), kemudian dialirkan melalui pita suara untuk menggetarkannya (kekuatan mioelastis), di artikulasikan dan resonansikan di dalam traktus vokalis supraglotis, serta dikoordinasi dan dikontrol oleh sistem syaraf pusat dan tepi melalui sistem umpan balik. Besarnya tekanan udara dari dalam paru-paru akan menentukan intensitas suara yang dihasilkan. Misalnya, bila ingin berteriak maka dibutuhkan tekanan intratorakal yang lebih besar dibandingkan pada saat berbicara normal.

Beberapa mekanisme fisiologis dan biomekanis yang mungkin berperan dalam timbulnya kelelahan bersuara, antara lain kelelahan neuromuskuler, perubahan viskoelastisitas plika vokalis, gangguan aliran darah, regangan non-neuromuskuler, dan kelelahan otot-otot pernapasan. Kelelahan neuromuskuler didefinisikan sebagai menurunnya kapasitas regangan otot bila dilakukan stimulasi berulang. Pada proses pembentukan suara, kelelahan otot-otot intrinsik dan atau ekstrinsik laring berpotensi untuk mengurangi kapasitas untuk meregangkan dan menjaga stabilitas plika vokalis.

Bersuara dalam jangka panjang dapat mengubah komposisi cairan di dalam pita suara, berupa meningkatnya viskositas dan kekakuan (perubahan viskoelastisitas). Hal ini terjadi karena pada saat bersuara akan terjadi penguapan cairan dari dalam jaringan akibat peningkatan suhu lokal karena pelepasan energi. Berkurangnya sirkulasi darah terjadi karena vasokonstriksi pembuluh darah akibat meningkatnya tekanan intramuskuler selama kontraksi. Pengaruh penurunan aliran darah terhadap kelelahan bersuara diduga melalui 2 mekanisme, pertama akibat menurunnya jumlah suplai oksigen dan kalori serta terhambatnya pembuangan asam laktat yang menimbulkan penurunan kemampuan kontraksi otot. Kedua, penurunan aliran darah akan berakibat pada menurunnya kemampuan untuk membuang panas dari plika vokalis. Jika panas ini tetap berada di laring, maka terjadi peningkatan suhu yang berisiko mengakibatkan kerusakan jaringan laring.

Penggunaan suara yang berlebihan merupakan faktor yang paling sering mengakibatkan kelalahan bersuara, sehingga diperlukan kesadaran dari individu yang bersangkutan terhadap pengaturan penggunaan suaranya sendiri. Beberapa peneliti menyarankan untuk meminum air pada setiap beberapa saat setelah berbicara (hydrations precautions), seseorang yang meminum air akan dapat membaca dengan kualitas suara yang baik dalam waktu yang lebih lama dibandingkan orang yang tidak diberi minum air. Istirahat bersuara merupakan salah satu teknik untuk mengistirahatkan organ-organ pembentuk suara. Penyanyi yang diberi istirahat 1 menit setiap selesai menyanyikan satu lagu, mampu bernyanyi rata-rata selama 101 menit sedangkan yang tidak diberi istirahat hanya mampu bernyanyi selama 86 menit.

Kelainan suara yang persisten seringkali diawali dengan kesalahan penggunaan suara. Walaupun faktor-faktor lain seperti kurangnya minum, adanya refluks gastroesofageal, peningkatan umur juga dapat mempengaruhi kualitas suara, namun dari beberapa penelitian, kesalahan penggunaan suara merupakan faktor utama. Pada tahap awal kesalahan penggunaan suara akan mengakibatkan timbulnya kelelahan bersuara. Keadaan ini dapat timbul berulang-ulang tanpa disadari oleh penderitanya sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan permanen pada laring. Hal terpenting dalam mengurangi risiko tersebut adalah dengan mengenali dan mengetahui patofisiologi bagaimana timbulnya kelelahan bersuara tersebut. Apabila telah dapat mengenali dan mengetahui kelainan tersebut, maka selanjutnya diharapkan kelainan tersebut dapat dicegah dan ditangani sesuai dengan patofisiologinya.

Dr. Asti Widuri Sp. THT, Mkes

Klinisi di Poli THT RS Jogja International Hospital

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 5 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 7 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 8 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 9 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: