Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Paulus Londo

Aku bukan siapa-siapa

“Kelor” Pohon “Jimat” Dengan Beragam Manfaat

REP | 01 March 2012 | 11:37 Dibaca: 7424   Komentar: 5   1

Oleh:

PAULUS LONDO

KELOR, pohon bertuah. Itulah pendapat sebagian masyarakat mengenai tanaman jenis perdu ini. Konon, Kelor mengandung kekuatan magis, batangnya dapat dipakai untuk melunturkan kesaktian (black magic) seseorang. “Caranya, pukul si empunya jimat dengan ranting Kelor. Pasti kesaktiannya luntur,” ujar sumber yang mengaku cukup berpengalaman menghadapi penjahat yang memiliki ilmu hitam. Adanya kandungan magis itu menyebabkan batang pohon Kelor sering diburu orang untuk dijadikan jimat. “Paling bagus batang memiliki teras hitam yang disebut “galih kelor” karena bisa dijadikan pelengkap ilmu kanuragan. Pemegang jimat ini bisa kebal senjata tajam,” lanjut dia. Namun, kata dia, jimat dari batang Kelor tidak baik bagi orang pemarah dan bertempramen panas.

Manfaat lain dari tanaman Kelor, kata dia, bisa dipakai mengobati orang kejang-kejang kesurupan. Biasanya itu terjadi karena diganggu roh jahat. Cara mengobatinya dengan mengambil daun Kelor, lalu diremas dan dibalurkan di semua persendian sang pasien.

Terlepas dari benar atau tidak pendapat di atas, namun pasti tanaman Kelor cukup dikenal olah sebagian masyarakat kita. Sebab di kawasan Jatinegara terdapat “Gang Kelor,” mungkin karena dulu di kawasan banyak pohon Kelor. Juga ungkapan “dunia tak selebar daun Kelor,” tersirat menjelaskan tanaman ini kerap jadi buah bibir dalam percakapan sehari-hari.

Karakteristik

Kelor (Moringa oleifera) adalah jenis tanaman yang mudah ditemukan di seluruh daerah di tanah air. Ada beberapa sebutan (nama) lokal untuk tanaman ini. Selain Kelor yang menjadi nama dalam bahasa Indonesia, sebutan tersebut juga oleh masyarakat di Jawa, Sunda, Bali dan Lampung. Sedangkan sebutan lainnya antara lain adalah Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano (Sumba), Ongge (Bima); Hau fo (Timor).

Kelor adalah tanaman jenis perdu dengan ketinggian pohon berkisar antara 7 -11 meter. Batang kayunya getas (mudah patah), bercabang jarang, tapi berakar kuat. Batang pokoknya berwarna kelabu. Daunnya berbentuk bulat telur berukuran -kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.

Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang. Di Jawa disebut klentang. Berbentuk mirip kacang panjang berwarna hijau dan keras dengan ukuran sekitar 120 cm panjang. Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut.

Manfaat

Di Jawa, secara tradisional, elor kerap dibuat tanaman pagar, sedangkan daunnya dibuat sayur. Tapi, banyak pula memanfaatkan bagian dari tanaman yang berasa pahit ini untuk bahan obat tradisional. Menurut beberapa sumber, tanaman Kelor memang bisa dijadikan bahan obat, karena mengandung minyak terbang. Bijinya yang berminyak mengandung myrosine, emulsine, alkaloida pahit tak beracun, serta vitamin A,B1,B2 dan C pada sel-sel tertentu. Sevara farmakologis kandungan kimia pohon Kelor memiliki efek anti-inflamasi, anti-piretik dan anti skorbut.

Secara tradisional pengobatan pemanfaatan akar, daun dan biji Kelor sebagai obat, dianggap manjur untuk beberapa jenis penyakit antara lain:

1. Kurap (Herpes) Luka Bernanah. Cara pengobatan: Tumbuk daun Kelor dengan kapur lalu balurkan pada kurap atau luka.

2. Kurang Nafsu Makan, epilepsi, histeri, sariawan, sulit buang air kecil, badan lemah, sakit kuning, rematik serta pegal linu. Cara pengobatan: Rebus akar kelor sebanyak 1 jari dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas, lalu saring. Minum air rebusan dua kali sehari masing-masing ½ gelas.

3. Beri-Beri dan Udim. Cara pengobatan: Giling akar kelor, akar pepaya, dan kulit lawang atau cengkih masing-masing 1 jari. Tambahkan air, peras, dan saring. Bagi air saringan menjadi 2 bagian yang sama. Minum air hasil saringan sebanyak 2 kali sehari.

4. Biduran dan Alergi. Cara pengobatan: Rebus 3 tangkai daun kelor, 1 siung bawang merah, serta adas dan pulasari secukupnya dalam 3 gelas air sampai tersisa 2 gelas. Saring lalu minum air rebusan dua kali sehari masing-masing satu gelas.

5. Rabun Ayam. Cara pengobatan: Tumbuk 3 tangkai daun kelor sampai halus, lalu seduh dengan 1 cangkir air masak dan saring. Tambahkan madu secukupnya pada air hasil saringan tadi, lalu aduk sampai merata. Minum sebelum tidur.

Beberapa sumber di masyarakat tradisional menyebutkan bahwa akar Kelor sangat baik untuk pengobatan malaria, mengurangi rasa sakit, penurun tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Sedang daunnya untuk penurun tekanan darah tinggi, diare, diabetes melitus (kencing manis),

Budidaya

Membudidayakan tanaman Kelor juga tidak sulit, karena sifat tanaman ini tidak perlu banyak pupuk, tahan hama (oleh serangga) ataupun penyakit (oleh mikroba). Bahkan, dari pengalaman petani, pupuk yang cocok untuk Kelor adalah pupuk organik, khususnya berasal dari kacang-kacangan (misal kacang hijau, kacang kedelai ataupun kacang panjang) yang dapat ditanam di sekitar pohon kelor.

Penjernih Air

Sejak beberapa tahun silam, pemanfaatan biji Kelor telah dikembangkan di Indonesia, antara lain melalui Program United Nations Development Programme (UNDP) bekerjasama dengan ITB. Melalui program tersebut, biji Kelor diolah menjadi bahan pengendap/koagulator untuk penjernihan air secara cepat, murah dan aman. Karena kandungan senyawa pada serbuk biji Kelor memiliki sifat anti mikroba, khususnya terhadap bakteri, maka bakteri Coli yang terdapat di dalam air yang dijernihkan juga bakal tereduksi atau mati.

Menurut hasil pengujian oleh tim ahli dari UNDP, untuk pengolahan air minum di kawasan pantai atau rawa tidak membutuhkan banyak biji Kelor. Cukup 2-3 pohon dewasa selama setahun dengan keluarga sebanyak 6-8 orang, dengan perhitungan kebutuhan air sekitar 20 liter/hari/ jiwa.

Di beberapa negara, pemanfaatanKelor juga mulai dikembangkan untuk bahan pembuatan kosmetik dan bahan bakar terbarukan. Terbetik informasi, beberapa tahun silam, ada investor Jepang berniat membuka perkebunan Kelor di Musi Banyuasin untuk bahan baku industri di negara Sakura. Sementara di beberapa negara di Benua Afrika, Kelor telah menjadi komoditas yang menjanjikan peluang bisnis yang menggiurkan. (SERASI diolah dari berbagai sumber).

Membuat Bahan Penjernih Air dari Serbuk Biji Tanaman Kelor

1. Biarkan biji Kelor matang/tua di pohon, dan baru dipanen setelah benar-benar setelah kering. Pisahkan sayap bijinya yang ringan serta kulit bijinya sehingga meninggalkan biji yang putih. Bila terlalu kering di pohon, polong biji akan pecah dan bijinya dapat melayang “terbang” ke mana-mana.

2. Biji yang sudah tak berkulit itu kemudian dihancurkan dan ditumbuk sampai halus sehingga menjadi bubuk biji Kelor (Moringa). Jumlah bubuk biji moringa atau kelor yang diperlukan untuk pembersihan air bagi keperluan rumah tangga sangat tergantung pada seberapa jauh kotoran yang terdapat di dalamnya.

3. Untuk menjernihkan air sebanyak 20 liter (1 jeriken), perlu bubuk biji Kelor sebanyak 2 gram atau kira-kira 2 sendok teh (5 mililiter). Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji sehingga menjadi pasta. Lalu, letakkan pasta itu ke dalam botol yang bersih dan tambahkan ke dalamnya satu cup (200 ml) lagi air bersih, lalu kocok selama lima menit hingga campur sempurna. Dengan cara tersebut, terjadilah proses aktivitasi senyawa kimia yang terdapat dalam bubuk biji kelor.

4. Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulan biji kelor itu melalui kain kasa dan filtratnya dimasukkan ke dalam air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya, dan kemudian diaduk secara pelan-pelan selama 10-15 menit. Selama pengadukan, butiran biji yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air beserta mikroba dan kuman-kuman penyakit yang terdapat di dalamnya sehingga membentuk gumpalan yang lebih besar yang akan mudah tenggelam mengendap ke dasar air. Setelah satu jam, air bersihnya dapat diisap keluar untuk keperluan keluarga.

Catatan:

Menurut hasil penelitian, proses penjernihan dan pembersihan air dengan serbuk biji Kelor mampu memproduksi bakteri secara luar biasa, yaitu sebanyak 90-99,9% yang melekat pada partikel-partikel padat, sekaligus menjernihkan air, yang relatif aman (untuk kondisi serba keterbatasan) serta dapat digunakan sebagai air minum masyarakat setempat.

Namun beberapa mikroba patogen masih berpeluang tetap berada di dalam air yang tidak sempat terendapkan, khususnya bila air awalnya telah tercemar secara berat. Karena itu, sangat ideal bagi kebutuhan air minum perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut, baik dengan cara memasak atau dengan penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana. (Diolah dari berbagai sumber)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 7 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: