Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Afrisal Planter

'Kuli kebun' di Kalimantan Barat.

Luar Biasa Cara Melahirkan Suku Dayak

HL | 07 February 2012 | 13:24 Dibaca: 50161   Komentar: 39   3

1328623515984910132

ilustrasi/admin(shutterstock.com)

Sebenarnya saya masih ‘ trauma’  jika mendengar dan akan melihat seorang ibu melahirkan dikarenakan ada pengalaman pahit yang masih membekas dalam hidup saya dimana 2,5 tahun yang lalu meninggal dunia saat melahirkan anak pertama kami dan menurut istilah kedokterannya almarhum istri saya terkena “meninggal karena Post Parfum Bleeding + Inversio Uteri” . Saya mengikuti semua proses yang terjadi hingga istri saya meninggal di saat di tangani oleh Dokter dan Paramedis. Apa yang akan saya ceritakan dan ungkapkan hanyalah untuk memberikan pengalaman luar biasa disaat berada dalam suasana “melahirkan versi suku dayak” tanpa melibatkan medis dan kedokteran.

Saat saya berkunjung di salah satu berkunjung di keluarga Suku dayak di pedalaman Kalimantan Barat tiba-tiba ada salah satu keluarga yang mau melahirkan dan suaminya meminta tolong dengan saya untuk meminjam motor saya karena mau memanggil “dukun kampung” untuk membantu melahirkan setelah setengah jam berlalu sang suami datang bersama “sang dukun” dari “lako” atau ladang, alangkah terkejut saya melihat fisik seorang dukun beranak ternyata seorang laki-laki dengan umur kira-kira 70 tahun walau keliatan renta namun tampak masih kuat. Saat sampai “sang dukun” memegang perut ibu yang mau melahirkan dan tiba-tiba berkata ‘kira-kira 1 jam lagi akan melahirkan”, sambil menunggu akan melahirkan maka sang dukun menyuruh suami dari pihak ibu yang akan melahirkan untuk mendatangkan seorang perempuan untuk membantunya dalam proses melahirkan dan perempuan ini akan diajarkan dan “mewarisi”(dijadikan murid) kemampuan sang dukun dalam membantu proses kelahiran.

Setelah 1 jam berlalu sang dukun menyuruh ibu yang  akan melahirkan untuk duduk bersila “seperti meditasi yoga” dengan tangan di lipat di dada sambil di suruh mengejan kemudian setelah sekitar 15 menit sang ibu disuruh setengah berbaring sambil  disuruh kedua kaki di tekuk atau “posisi  akan melahirkan” kemudian perutnya diurut dan dibantu oleh muridya setelah itu ibu disuruh mengejan dan dengan hanya dengan mengejan  sebanyak 2 kali lahirlah seorang  anak bayi berkelamin laki-laki namun sebelum melahirkan ibu tersebut di minumkan “air kelapa muda”  kira-kira setengah jam sebelum melahirkan. Kemudian tali pusar dipotong dengan ” rotan tajam yang berbentuk pisau kecil” dan tali pusar di gulungkan dan dan ikat dengan sejenis “tali dari kayu hutan kalimantan” yang lebih di kenal dengan nama “tali dari pohon puduk”. Setelah melahirkan sang ibu di beri  semacam “stagen” atau bagian perut diikat dengan “tali puduk yang lebar” melingkar dan diikatkan dibagian belakang, setelah itu ibu dan bayi di usapkan sejenis “jahe hutan berwarna merah” dimuka dan perut yang memberikan efek hangat kepada ibu dan bayi, proses melahirkan ini terjadi pada malam hari dan setelah semua proses melahirkan selesai saya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang dukun “kek sudah berapa banyak membantu melahirkan” sang dukun menjawab “sudah banyak,sudah ratusan kali saya dukun sejak usia muda” dan kemudian saya bertanya lagi “ada tidak yang meninggal Ibu dan anak saat kakek membantu melahirkan?” . sang dukun menjawab “tidak ada semua selamat”.Keesokan pagi harinya saya berkunjung membawakan bedak bayi dan minyak telon untuk sang ibu dan betapa terkejutnya saya melihat sang ibu yang melahirkan tersebut kira-kira berumur 45 tahun telah berdiri dan menjemur pakaian bayi yang telah di cuci diluar rumah, setelah memberi “buah tangan” untuk bayi, ibu tersebut menjelaskan kepada saya bahwa “stagen” dari tali kayu lebar yang di pakainya sampai kira-kira 15 -30 hari setelah melahirkan, dan kalau makan sayuran dimasak bening “harus di beri ubi  dan pisang raja” serta ditambah pucuk daun ‘baba  dan kaman’ sambil memperlihatkan kedua pucuk tersebut dan harus di makan selama 15- 30 hari dan di larang memakan semua ikan laut, ikan yang diberi batu es, hanya boleh memakan ikan sungai yang ukuran kecil dan sedang saja, kalau ikan sungai yang ukuran yang besar hanya boleh dimakan bagian tengah saja tidak boleh kepala dan bagian ekor, hal ini untuk mempercepat pemulihan kondisi ibu setelah melahirkan.

Apa yang saya lihat dan jalani tiba-tiba mengubah persepsi saya tentang proses melahirkan ternyata ada yang tradisonal atau non medis yang begitu mudah dan sederhana. Saya bukanlah ahli di bidang kedokteran sehingga saya tidak bisa menjelaskan korelasi yang baik dengan dunia medis. Namun dua kata yang tidak terucap hanya dalam hati ” LUAR BIASA”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: