
"Jika anda mendapatkan sebuah cerita, jagalah sebaik-baiknya. Belajarlah untuk menyampaikannya kepada orang yang membutuhkannya. Untuk dapat bertahan hidup kadangkala seseorang lebih membutuhkan cerita daripada makanan." ~ BARRY LOPEZ, pengarang buku Arctic Dreams. My Twitt: @EllaZulaeha
Dibaca: 969
Komentar: 51
8 dari 10 Kompasianer menilai inspiratif
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Ini kisah hidup ibu kandung saya. Selama ini ibu memiliki penyakit tekanan darah tinggi (hypertensi). Tahun 2004 beberapa bulan setelah ibu Pensiun dari PNS, ibu mengalami pecah pembuluh darah pada otak kirinya. Saat itu saya menyaksikan sendiri bagaimana reaksi yang mengerikan seorang yang mengalami pecah pembuluh darah. Ibu merasakan sakit yang sungguh hebat di bagian kepalanya. Ia muntah-muntah dan langsung tak sadarkan diri.
Kami langsung membawa ibu ke UGD Rumah Sakit di kawasan Pondok Indah Jakarta. Tiba di sana ibu langsung ditangani dengan sigap oleh Tim Dokter. Saya sangat salut dengan pelayanan di Rumah Sakit itu. Mereka langsung menangani pasien sekalipun biaya administrasi perawatan belum diproses.
Melihat kondisi ibu yang koma, Dokter Spesialis Syaraf yang menangani ibu memberitahukan bahwa ibu harus menjalani operasi untuk mengatasi pendarahan di otaknya. Dikhawatirkan pembuluh darah itu akan menutup kerja jantung dan itu sangat membahayakan. Operasi adalah satu-satunya tindakan yang harus ditempuh demi menyelamatkan nyawa ibu.
Di ruang tunggu, kami menanti dengan harap-harap cemas. Doa tak pernah henti kami panjatkan memohon agar nyawa ibu bisa tertolong. Beberapa jam kemudian Dokter memberitahukan kami bahwa operasi ibu berjalan lancar.
Menurut dokter, bila ibu terlambat ditangani, tipis kemungkinan ibu akan selamat. Selain itu ibu memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik mengingat di masa mudanya, ibu suka sekali berolah raga.
Pasca operasi, ibu masih koma di ruang perawatan ICCU. Saya tak dapat menahan tangis melihat kondisi orang yang saya sayangi terbujur tak berdaya dengan kabel-kabel di sekujur tubuhnya. Sepanjang malam kami memanjatkan doa memohon agar ibu segera sadar dan bisa mengenali kami, anak-anaknya.
Doa kami terjawab. Ibu mulai sadar setelah 3 hari koma. Ia mulai bisa menggerakkan bagian tubuhnya. Satu per satu kami dipersilakan masuk ke ruang ICCU untuk melihat kondisi ibu. Sungguh tak terduga ternyata ibu tak bisa menyebutkan nama kami dengan tepat. Memorinya seperti terhapus. Airmata saya langsung tumpah. Saya pun melihat airmata ibu mengalir. Sesungguhnya ia bisa mengingat wajah kami. Namun bibirnya sulit sekali mengucapkan sepatah kata.
Dokter mengatakan bahwa ibu menderita stroke. Salah satu efek pascaoperasi Stroke adalah AFASIA atau sulit bicara. Afasia muncul bila otak kiri terganggu. Sebab, otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Sementara otak kanan, berfungsi mengontrol kegiatan nonverbal dan persepsi ruang.
Menurut dokter, jika otak bagian kiri depan yang tersumbat, maka pasien menjadi tidak bisa berbicara. Jika menyerang otak kiri belakang, dia masih bisa bertutur, namun tidak nyambung.
Sejak saat itu, ibu menderita Afasia. Dokter menyarankan agar kami harus ekstra bersabar menghadapi ibu. Karena sebagian besar penderita Afasia mengalami depresi, rendah diri dan minder bergaul karena disebabkan sulitnya berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan benar saja sejak menderita Afasia, ibu menjadi mudah marah, cepat tersinggung dan sangat sensitif perasaannya. Kami pun ekstra hati-hati bila mengajak ibu bicara.
Untuk menyebut nama sebuah benda pun ibu tak sanggup. Terlebih saat ibu mencoba membaca Al-quran seperti kebiasaannya saat ia sehat dahulu. Ibu menangis histeris karena ia sama sekali tak bisa membaca ayat suci itu. Bahkan untuk membaca huruf abjad pun ia tak sanggup. Tutur katanya menjadi kacau tak beraturan. Hal itu sempat membuat ibu merasa rendah diri dan malu untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Dengan sabar kami merawat dan menemani ibu. Tak henti-hentinya kami mengajaknya berkomunikasi berusaha mengembalikan memorinya dengan cara menceritakan kejadian-kejadian yang pernah ibu alami, menunjukkan gambar atau foto seperti foto pernikahan atau foto anak dan cucu-cucunya. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih meskipun tutur bahasanya belum sempurna mengucapkan kalimat demi kalimat.
Meski menderita Afasia cukup lama, namun kegigihan ibu untuk sembuh sangat luar biasa. Ia mematuhi semua anjuran dokter, mengkonsumsi obat rutin, rajin berolah raga seperti jalan pagi, tidak minder bertemu orang lain dan rajin beribadah.
Puji Syukur kondisi ibu kini berangsur membaik. Kesehatannya kembali pulih. Bicaranya sudah lumayan lancar meski agak tersendat ketika menyampaikan sesuatu. Ia kembali lancar melafazkan ayat-ayat Al-Quran dan bisa melakukan aktifitas ibadahnya dengan sempurna.
saya dan ibu (saat ibu masih menderita Afasia)
Memang tidak mudah menghadapi dan berkomunikasi dengan penderita Afasia mengingat ia sangat kesulitan untuk menyampaikan sesuatu atau memahami perkataan lawan bicaranya.
Penderita Afasia biasanya hanya dapat mengerti kata-kata penting dari sebuah kalimat atau kata kunci. Mengerti dengan menggunakan kata-kata kunci dapat menimbulkan salah pengertian. Pesan yang ingin ia sampaikan seringkali disalahartikan. Hal ini timbul dari kombinasi kata kunci dengan pengetahuan umum mengenai subyek tertentu. Terkadang kita mengira bahwa kita dan penderita Afasia mengerti dengan baik satu sama lain. Reaksi yang timbul kemudian menunjukkan hal yang berbeda.
Bila kita ingin memberitahukan sesuatu kepada penderita Afasia, luangkan waktu khusus untuk berkomunikasi dengannya. Duduklah tenang dan buat kontak mata dengannya. Bicaralah dengan tenang dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek. Berikan penekanan pada kata-kata yang paling penting. Bila perlu, tuliskan kata yang dianggap penting. Jangan bosan untuk mengulang pesan yang ingin disampaikan. Penderita Afasia dapat menggunakan tulisan tersebut untuk membantu ingatannya atau sebagai alat bantu komunikasi.
Selain itu bantu penderita Afasia mengungkapkan permasalahannya dengan menggunakan bahasa isyarat, menggambar, atau menulis atau dapat memintanya untuk menunjuk atau memberikan isyarat, menggambar, atau menuliskan permasalahannya. Yang terpenting adalah dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi penderita Afasia.
**********