Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Andri Rosita

Bidan dan petugas Promosi Kesehatan di Puskesmas Poncowarno. Ibu rumah tangga dan penggila drama korea.

Desa Siaga, Jembatan Menuju Indonesia Sehat 2015

OPINI | 01 February 2012 | 14:25 Dibaca: 6105   Komentar: 1   1

Salam Sehat Saudaraku!

Kesehatan adalah impian semua penduduk di muka bumi ini, tak terkecuali Indonesia. Indonesia bahkan telah dua kali mencanangkan program Indonesia Sehat. Yang pertama pada 2010, dimana indicator untuk menuju kearah Indonesia sehat masih belum terpenuhi dan kemudian diperbaharui menjadi Indonesia Sehat 2015.

Ada lima puluh indicator yang terangkum dalam beberapa garis besar diantaranya penurunan angka kematian, penurunan angka kesakitan, peningkatan status gizi, perbaikan sanitasi dasar, perilaku hidup bersih dan sehat, penyebaran tenaga kesehatan yang mencakup aksesabilitas pelayanan kesehatan. Untuk memenuhi inidikator-indikator tersebut tentunya Kementrian Kesehatan telah menyusun berbagai staregi. Termasuk salah satunya Desa Siaga.

Desa siaga adalah kondisi dimana suatu desa dianggap mampu dan mau untuk mengetahui dan mengatasi permasalah kesehatan di wilayahnya sehingga diharapkan kondisi-kondisi kesehatan yang ada dapat tertanggulangi. Logikanya, jika unit terkecil dalam pemerintahan dapat berdaya dan mandiri secara kesehatan otomatis bagian yang lebih besar dari unit tersebutpun akan mandiri dan berdaya. Dalam pelaksanaannya, pemerintah desa bekerjasama dengan lintas sector dan lintas program yang ada di wilayah kecamatan tersebut. Unit Pelayanan Terpadu tersebut hanya berfungsi sebagai fasilitator, pelaksanaanya sepenuhnya tergantung dari pemerintahan desa.

Dengan desa siaga, diharapkan kesadaran masyarakat dapat terbangun. Masyarakat mampu menyadari bahwa pencegahan jauh lebih murah dibandingkan pengobatan. Basis dari kegiatan Desa Siaga adalah pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

Tentulah ini tidak mudah. Membangun kesadaran masyarakat dan lalu membuat mereka berdaya dan akhirnya mandiri tentunya butuh proses yang tidak sebentar dan dana yang tidak sedikit. Bayangkan berapa ratus juta atau bahkan berapa milyar dana APBN dan APBD yang harus dikeluarkan untuk membiayai tenaga kesehatan, kader kesehatan dan aparatur desa pelatihan Desa Siaga. Hal tersebut tentulah akan terbayar tunai jika Desa Siaga dapat dilaksanakan secara optimal, maka  Indonesia Sehat 2015 bukanlah keniscayaan.

Permasalahan yang sering timbul adalah ketika kesadaran tersebut belum atau tidak terbangun. Sebagian pemerintah desa atau kecamatan masih menganggap Desa Siaga adalah program sakempyangan sekedar untuk meningkatkan ADD. Mereka merasa cukup sampai dengan terbentuknya Forum Kesehatan Desa, memiliki Poskesdes serta memiliki plang pemberitahuan bahwa disini telah berdiri Desa Siaga X, Kecamatan Y, Kabupaten Z. Namun secara teknis pelaksanaannya mati suri. Hidup enggan matipun segan.

Miris memang mengetahui konsidi tersebut. Dari data diatas kertas bahwa suatu kabupaten telah memiliki sekian persen Desa Siaga mohon tolong di evaluasi ke lapangan, berapa persen yang memang telah berjalan dengan sebenar-benarnya berjalan. Ini kelemahan sisitem evaluasi kita. Merasa cukup dengan laporan pada selembar kertas.

Saudaraku yang budiman, Desa Siaga sejatinya adalah program yang begitu indah. Program ini selain membuat kita pintar dan berdaya dia juga membangun kembali nilai-nilai gotong royong yang telah lama terhempas bersama raibnya pelajaran PMP. Di dalam Desa Siaga ada system asuransi kesehatan yang diatnggung bersama dengan tajuk dana sehat. Setiap penduduk di desa tersebut mengumpulkan iuaran yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mereka. Dikelola oleh FKD (Forum Kesehatan Desa) untuk pembiayayan kesehatan termasuk membantu meringkan beban tetangga kita yang terkena musibah. Uang dari dana sehat tidak hanya untuk pembiayaan kesehatan, tapi juga dapat untuk modal UKM yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di desa tersebut. Oh, merdu sekali bukan terdengarnya, saudaraku. Saya membayangkan tidak aka nada lagi masyarakat yang rebutan uang BLT atau apapun sekarang namanya.

Berjalan atau tidaknya Desa Siaga tidak ditangan pemerintah, tapi di tangan saya dan anda selaku warga desa. Yang tidak memiliki Desa jangan khawatir, mulailah dengan RT siaga, RW Siaga dan Kelurahan Siaga. Mari bersama kita jadika Desa SIaga sebagai jembatan menuju Indonesia Sehat 2015.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Hasil Drawing AFC U-19: Masuk Group Neraka, …

Ethan Hunt | 2 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: