Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Panji Hadisoemarto

Nama saya Panji. Lahir di Bandung tahun 1979. Sedang belajar tentang kesehatan masyarakat global di selengkapnya

HIV Tidak Menyebabkan AIDS?

OPINI | 09 January 2012 | 15:14 Dibaca: 499   Komentar: 1   0

Memang selalu ramai kalau membumbui cerita virus dengan sedikit cerita konspirasi. Kali ini, tertuduh dalang konspirasi adalah para ilmuwan sendiri yang dituding oleh Bryan Fischer telah ‘mempromosikan’ HIV sebagai penyebab AIDS semata-mata untuk mendapatkan dana penelitian (Kompas).

Siapakah Bryan Fischer?

Di dalam berita yang sama, disebutkan bahwa Fischer adalah Direktur ‘Analisis Isu’ dari American Family Association,  sekaligus pembawa acara radio untuk ‘Focal Point’. Surat-surat kabar online luar negeri yang merilis berita yang sama lebih eksplisit menyebut Fischer sebagai seorang ekstrimis Kristen yang getol mempromosikan isu anti-gay.

Paling tidak sedikit latar belakang di atas cukup untuk memberikan keterangan tentang landasan moral dari pernyataan Fischer dan saya tidak akan berdebat mengenai pilihan moral tersebut. Tapi adakah landasan ilmiahnya?

Adalah Peter Duesberg, seorang profesor biokimia dan biofisika dari University of California at Berkeley, beserta koleganya yang menerbitkan sebuah artikel di Italian Journal of Anatomy and Embryology yang terbit di akhir tahun lalu yang mengatakan bahwa tidak ada cukup bukti kalau HIV adalah penyebab AIDS.

Beberapa argumen yang disampaikan oleh Duesberg dkk. di dalam artikelyang  berjudul ‘AIDS since 1984: No evidence for a new, viral epidemic - not even in Africa’  adalah sebagai berikut:

1. Perjalanan epidemi HIV/AIDS tidak memberkan gambaran ‘bell-shaped’ (dengan memberi contoh epidemi influenza) sehingga bertentangan dengan ‘germ theory’.

2. Prediksi-prediksi mengenai penyebaran HIV (yang dibuat 10-20 tahun lalu) tidak terbukti.

3. Pertumbuhan penduduk di Afrika Selatan dan Uganda tetap tinggi walaupun estimasi jumlah kasus  HIV dan AIDS di negara-negara tersebut sangat tinggi.

Di akhir artikelnya, Duesberg dkk. mengajukan bahwa HIV mungkin adalah ‘passenger virus’ yang sebenarnya tidak bertanggung jawab atas terjadinya AIDS, walaupun Dueberg dkk menyebutkan bahwa penyebab pasti AIDS masih belum diketahui. Mereka juga menyatakan kalau obat antiretrovirus kemungkinan membawa lebih banyak bahaya ketimbang manfaat.

Sebelumnya, Dueberg pertama kali mengajukan ‘dissenting opinion’ mengenai hubungan kausal HIV dengan AIDS di tahun 1988 dan dengan menerbitkan beberapa artikel dan sebuah buku di tahun-tahun berikutnya. Atas artikelnya di jurnal ‘Medical Hypotheses’, Duesberg pernah dituduh melakukan pelanggaran etika karena memilih-milih argumen (’cherry-picking’) untuk menunjang tulisannya serta mengirimkan artikel tersebut ke jurnal yang tidak memiliki prosedur ‘peer review’. Walaupun Duesberg dibebaskan dari tuduhan tersebut, artikel tersebut ditarik dari peredaran untuk selama-lamanya.

Artikel terbarunya, menurut saya, memiliki banyak kelemahan. Pertama, pola penyebaran epidemik HIV yang ditularkan melalui kontak erat (misal: hubungan seksual atau jarum suntik) tentu tidak  bisa dibandingkan dengan penyebaran influenza, terutama influenza pandemik, yang ditularkan melalui udara. Perjalanan penyakit influenza (yang menimbulkan kekebalan yang protektif) pun sangat berbeda dengan perjalanan penyakit HIV (yang menimbulkan kekebalan namun tidak protektif).

Kedua, pertumbuhan penduduk yang pesat bisa dijelaskan dengan rumus sederhana: pertambahan jumlah penduduk=jumlah kelahiran - jumlah kematian +(-) jumlah migrasi. Tentunya jumlah penduduk akan terus bertambah selama jumlah kelahiran tetap lebih tinggi dari jumlah kematian. Analisis seharusnya lebih diarahkan ke pola kematian berdasarkan umur, jenis kelamin, dan karakteristik demografi lain seperti urban/rural, tingkat pendidikan dan ras/etnis.

Ketiga, nampaknya dalam mengemukakan pendapatnya, Duesberg telah mengabaikan temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa HIV menyebabkan AIDS. Lebih penting lagi, nampaknya Duesberg telah mengabaikan banyaknya penderita HIV yang terselamatkan oleh pengobatan antiretroviral.

6 bulan pasca terapi antiretroviral

6 bulan pasca terapi antiretroviral

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: