Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Posma Siahaan

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Anak Anda Tersedak Buah Rambutan?

REP | 20 December 2011 | 13:07 Dibaca: 2968   Komentar: 30   6

Kejadian anak 2 tahun di Desa Nganjuk, Jawa Timur yang tertelan buah rambutan dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 15 Desember 2011 lalu, adalah berita yang sangat memilukan. Di sini terdapat unsur kelalaian orang tua, tetapi memang terjadi akibat pengetahuan yang kurang terhadap keamanan besar-kecilnya ukuran makanan bagi anak kecil serta cara mengatasi bila ada sumbatan saluran napas.

Kejadian ini dulu juga pernah terjadi pada orang dewasa yang tersedak  biji durian atau pun anak-anak yang tertelan uang logam.

Sebenarnya pencegahan lebih penting, yaitu menghindarkan anak-anak balita dari benda atau makanan yang berpeluang menyumbat saluran nafasnya, namun jika toh masih tersumbat juga maka waktu kita menolongnya hanya 10-15 menit dan setelah itu kemungkinan besar otak sudah mengalami kematian karena tidak tersedia oksigen dalam jangka waktu kritisnya dan jaringannya mati secara luas.

Ciri-ciri anak-anak yang tersumbat saluran nafasnya antara lain: Tiba-tiba terdiam, mukanya terlihat panik dan seperti tercekik, suara nafas mengi atau berisik seperti mendengkur, bibirnya bisa biru, batuk-batuk yang kurang kuat, bisa-bisa kehilangan kesadaran.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat saluran napas:

1. Back blow, memukul-mukul punggung si anak, supaya tekanan dada meninggi dan menekan benda asing supaya keluar.Ilustrasinya kira-kira begini:

13243399961670427931

taken from Mr. Gugel

2. Chest trust, menekan dada kuat ke arah kepala. Tujuannya biar tekanan yang meninggi di dada mampu melemparkan benda asing keluar dari saluran nafas. Ilustrasinya kira-kira begini:

1324318722927911005

from gugel

3. Abdominal trust, ini dilakukan untuk anak-anak lebih tua. Caranya kedua tangan dilipat di depan penderita, lalu ditekan kuat-kuat. Ilustrasinya seperti ini:

13243189191843717583

from gugel

Lalu bagaimana kalau ke 3 cara tadi gagal?

13243239632062912012Apa boleh buatlah,  kita harus membuat lubang darurat di tenggorokan penderita supaya melalui lubang itu udara dapat masuk. Bila tidak memiliki benda-benda yang biasa dilakukan untuk trakeostomi (membuat lobang di tenggorokan), maka carilah benda-benda lain yang ada lubang di tengahnya.

Lubang dibuat di tulang rawan tenggorokan ( trachea) yang agak bawah, pokoknya lebih bawah dari lokasi sumbatannya.

Kalau di rumah sakit, biasanya ditusukkan dahulu iv-line ukuran besar, lalu disalurkan oksigen ke iv-line itu, namun kalau di rumah, mungkin pena yang bisa dibuang isinya dengan bentuk tabung, bisa dipertimbangkan.

Berusaha mencungkil biji/makanan yang terlihat dari mulut harus hati-hati karena kalau tidak terjangkau malah jari kita bisa mendorong benda yang menyumbat itu tambah dalam ke tenggorokan.

Demikianlah sedikit ulasan cara mengatasi bila anak tertelan biji rambutan, biji durian, koin logam atau benda asing lainnya.

Semoga bermanfaat!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Unimog Promosi Gratis …

Agus Japloens | | 22 August 2014 | 01:11

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | | 22 August 2014 | 01:14

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 3 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 7 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 7 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: