Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Citra Taslim

seorang anak manusia dalam pencarian jati diri, ingin selalu bersemangat dalam sesulit keadaan.

Hidup Rukun Bersama Spasmofilia

HL | 15 December 2011 | 19:38 Dibaca: 6632   Komentar: 28   4

13239349481298960228

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Sedikit sharing soal penyakit yang namany spasmofilia. Saya merupakan penderita spasmofilia grade 3. Nah, pas tau agak kaget dan shock. Namany tidak begitu lazim kita dengar. Semoga sharing ini bisa menambah wawasan bagi yang belum tahu atau mendengar mengenai spasmofilia & menjadi acuan untuk hidup lebih baik.

Awalnya saya menolak untuk di periksa ke dokter syaraf, saya tidak percaya kalau saya mengalami gangguan syaraf motorik. Selama 8 bulan terakhir saya di diagnosa menderita tipes (tubex tf positif 6). Awalnya saya mengira ketika mengalami vertigo berat hanya bagian gejala tipes. Tapi makin lama gejala yang di rasakan semakin bervariatif dan beragam dan sangat mengganggu aktifitas.

Sedikit kutipan tentang apa itu spasmofilia.

“Spasmofilia merupakan suatu kondisi di mana persarafan motor menunjukkan sensitivitas yang tidak normal terhadap stimulasi/rangsangan elektrik ataupun mekanik sehingga penderita mengalami kecenderungan untuk mengalami kram dan kejang pada otot-ototnya.

Gejala lain yang termasuk dalam sindrom spasmofilia adalah rasa lelah berlebihan, kekakuan atau kedutan otot, kram otot, keluhan pada saluran pencernaan dan juga alergi.

Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan elektrolit di dalam darah antara lain karena kekurangan kalsium (hipokalsemia) atau kekurangan magnesium yang dapat terkait dengan hiperventilasi, hipoparatiroidism, rakhitis, uremia atau kondisi lain. Selain itu juga terjadi ketidakseimbangan mineral kalium.

13239310441336185884Pasien dengan spasmofilia biasanya akan merasa kesulitan untuk memulai aktivitas di pagi hari dan sebaliknya merasa sangat aktif pada malam hari, sering merasakan kekakuan otot dan kedutan otot pada tangan dan kaki, kram otot dapat terjadi juga di tempat lain seperti pada lambung, punggung dan leher. Seringkali pasien dengan spasmofilia juga memiliki gejala psikologis berupa rasa cemas dan takut berlebihan.

Rasa sesak di dada merupakan keluhan lain yang cukup sering dirasakan pasien dan cukup mengganggu. Hal ini terjadi karena kejang otot-otot saluran pencernaan bagian atas. Bila terjadi kejang-kejang pada otot-otot saluran pencernaan bagian bawah terkadang dapat menyebabkan rasa mual dan muntah.”
(sumber)

“Untuk mendiagnosis spasmofilia biasanya dilakukan tes spasmofilia dengan menggunakan alat elektromiografi (EMG). Pada tes ini akan dilihat gelombang dari sel-sel otot yang biasanya mengalami kram atau kejang.”

Nah, untuk tes di atas saya pernah melaluinya.
prosedur awal untuk mengetahui seseorang terkena spasmofilia sebenarnya mudah. saat kia berkunjung ke dokter syaraf, Dokter akan mengarahkan kita untuk membuka mulut kemudian di berikan ketukan pada area tertentu di pipi.

Orang dengan spasmofilia akan menunjukkan kedutan di mata dan bibirnya. setelah itu dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan tes elektrolit darah dan EMG.

Tes darah akan menunjukkan jenis spasmofilia yang kita derita. spasmofilia ini ada yang di picu karena ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh. Contohnya untuk penderita spasmofilia yang di picu karena ketidakseimbangan kadar kalsium harus menjalani terapi kalsium setiap harinya. semakin padat aktifitasnya, maka asupan kalsium yang di butuhkan akan semakin banyak.

Namun, ada juga yang menderita spasmofilia karena beban psikis yang berlebihan. nah, saya termasuk jenis yang ini. jadi, membebani diri dengan beban yang berlebihan terus menerus bisa memicu timbulnya penyakit seperti ini. untuk itu di perlukan keseimbangan antara beban tugas, refreshing, dan istirahat.

Dari hasil cek darah, keseimbangan elektrolit dalam tubuh saya normal, namun hasil tes EMG menunjukkan hasil (+++) positif 3. jadilah saya masuk menjadi penderita spasmofilia.

Apapun penyebabnya, baik ketidakseimbangan elektrolit ataupun psikis, efek yang di timbulkan penyakit ini sama saja.
jadi selagi bisa menjaga tubuh dengan baik, lakukan agar terhindar dari penyakit ini.

Tidak ada orang yang menginginkan bertahun-tahun mengkonsumsi obat terus menerus.

Pemicu tercepat penyakit ini adalah stres/ capek, saat penderita penyakit ini stres/ capek maka respon saraf motoriknya akan langsung dirasakan di bagian tubuh tertentu, dan tidak di ragukan lagi sakitnya.

Saat saya stres/ capek gejala yang di respon oleh tubuh saya berbeda-beda. mulai dari vertigo berat sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur, di lanjutkan dengan mual dan keringat dingin di sekujur tubuh, dan badan terasa sangat lemas.

Kadang kala juga nyeri di leher,pundak,& mata. Di lain waktu gigi terasa mau copot, dan nyeri di sepanjang gigi dan gusi. atau jari tangan bergerak sendiri di ikuti nyeri atau kesemutan di sepanjang tangan yang mengakibatkan gangguan dalam memegang benda2 tertentu. ini yang sering saya alami akibatnya saya sering menjatuhkan benda2 yang saya pegang. dan masih banyak efek lain yang bisa di timbulkan, biasanya efeknya berbeda pada masing-masing individu.

Di samping itu penyakit ini juga menyebabkan gangguan pada short memory. Kadang kala untuk mengingat kejadian kemarin otak saya tidak bisa meresponnya secara utuh, hanya teringat sepotong-sepotong saja. bahkan untuk kejadian beberapa menit yang lalu kadang tiba2 hilang begitu saja.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Tindakan pencegahan bagi penderita spasmofilia tergantung dari pemicunya. bila pemicunya ketidakseimbangan elektrolit, maka harus mengkonsumsi obat atau suplemen tertentu sesuai dengan jenis elektrolit yang di butuhkan. Tapi dalam menjalani proses ini harus benar-benar sabar menerima semua, karena konsumsi obat/ suplemen elektrolit tertentu harus di lakukan secara rutin dalam rentang waktu yang relatif lama, tergantung dari grade yang terdiagnosa. kuncinya “tidak ada kata bosan untuk perubahan yang lebih baik, menuju kesembuhan”

Namun, bila pemicunya psikis benar2 harus menjaga agar tidak stres capek sama sekali. stres/capek sama dengan mengaktifasi kesakitan untuk diri sendiri.

Ayo, sama sama menjaga diri.

Buat yang sudah terkena spasmofilia, jangan bersedih ya. spasmofilia bukan akhir dari segalanya. kalau kita sudah bisa memahami dan tau batasan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, maka kita dapat hidup bersama spasmofilia dengan cara yang lebih baik.

Hidup rukun bersama spasmofilia.

^o^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 5 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 5 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 6 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 6 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Penyelamatan Sang Ayah Terhadap Anaknya yang …

Saepullah Abu Zaza | 8 jam lalu

Jokowi dalam Perspektif Filsuf Sosialis …

Ari Dwi Kasiyanto | 8 jam lalu

Geliat Predator Seks di Medsos …

Muhammad Armand | 8 jam lalu

Doa dan Air Mata Seorang Ibu Menyelamatkan …

Roy Soselisa | 8 jam lalu

Akankah Aku Menang? …

Aisditaniar Rahmawa... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: