Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Frank Roose

Pemimpin Umum Salah Satu Majalah, Direktur Eksekutif Alumando, Sekretaris DPP AMKI,Sekretaris DPP KPK.

“Patah Tulang dan Pengobatannya”

OPINI | 18 November 2011 | 14:39 Dibaca: 13795   Komentar: 16   3

”Pengalaman yang pernah patah akibat kecelakaan”

Patah tulang akibat kecelakaan dapat terjadi kapan saja dimana saja dan kepada siapa saja.

Aku pernah mengalami nya dan butuh 15 bulan baru bisa jalan kembali.

Ada dua alternatif yang akan dihadapi oleh para penderita patah tulang yang pertama akkan ditawarkan berbagai macam cara yaitupengobatan non medis dan pengobatan medis.

Saya akan melihat dari apa yang saya tempuh.

Fungsi dari pengobatan patah tulang adalah untuk memastikan tulang yang menyambung akan sembuh pada posisi yang benar, tidak bengkok dan dapat berfungsi dengan baik.

Pada dasarnya penyembuhan patah tulang ditentukan oleh faktor penderita, faktor sekitar patah tulang dan ada tidaknya penyulit.

Faktor penderita contohnya kesehatan penderita, gizi dan umur.

Faktor sekitar patah tulang karena adanya pembuluh darah di daerah yang patah, adanya kontak atau menempelnya bagian tulang yang patah.

Sedang faktor penyulit seperti penyakit lain yang diderita (kencing manis, gangguan pembuluh darah), luka terbuka, infeksi dan lainnya.

Bila ketiga faktor di atas mendukung, maka tulang dapat menyambung tanpa pengobatan apa pun.

Pada prinsipnya tulang yang patah punya kemampuan untuk menyambung kembali dengan sendirinya, seperti luka pada kulit yang kemudian akan menutup dan sembuh. Jadi sebenarnya bila didiamkan saja, tulang pasti akan menyambung kembali dengan sendirinya.

Masalahnya adalah bagaimana agar proses penyambungan tulang tersebut arahnya benar sehingga pada waktu tulang telah menyambung maka bentuk, panjang, dan kedudukan tulang bisa seperti semula. Maka prinsip penyembuhan patah tulang adalah mengembalikan posisi tulang yang patah ke posisi yang benar dan mempertahankan agar tulang tidak berubah posisi selama dalam masa penyembuhan.

Jadi bila penanganan patah tulang kurang tepat maka akan timbul berbagai komplikasi seperti tulangnya menjadi lebih pendek atau tulang menjadi bengkok. Bahkan bila pertolongan pertamanya tidak tepat, pembuluh darah dan syarafnya dapat terjepit, yang dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih berat.

***

Secara garis besar terdapat dua jenis patah tulang, yaitu patah tulang tertutup dan terbuka (disertai luka). Jika patah tulangnya disertai luka terbuka, maka harus dilakukan operasi pembersihan dan diberikan antibiotik, karena jika tidak maka tulang dapat terinfeksi. Hal ini juga dapat menyebabkan kaki atau tangan yang patah harus diamputasi, bahkan bila infeksinya menyebar ke seluruh tubuh dapat mengakibatkan kematian.

Bila lama tidak digunakan, maka otot-otot sekitar tulang yang patah tersebut akan melisut sehingga kaki akan tampak lebih kecil.

Bagaimana proses pembedahannya?

pertama-tama tuh tulang yang patah akan dibedah(tentu dalam keadaan dibius) kemudian akan disambung kembali. Biasanya akan dipasang pen (semacam besi) antara kedua patahan tulang.

Beberapa hari setelah operasi biasanya pasien sudah dapat berjalan dengan bantuan kruk. Pada tahap awal, kaki yang patah tidak boleh menapak dulu, setelah itu dapat menapak sebagian dengan hanya boleh menahan sebagian berat badan, setelah sembuh total, maka dapat menapak penuh tanpa bantuan kruk. Seterusnya harus tetap kontrol dan akan dilakukan pemeriksaan rontgen ulang.

Lamanya tergantung dari usia juga, makin muda usia tulang makin mudah tumbuh dan menyambung kembali.

Untuk mempercepat penyembuhan tulang dianjurkan makan makanan yang banyak mengandung calcium seperti susu, ikan, keju, yoghurt dll yang bisa diganti dengan pemberian tablet calcium.

Hal terpenting pula adalah latihan otot dan latihan gerak sendi, sehingga diharapkan sendi dan tulang bisa berfungsi seperti sebelum trauma.

Semoga Bermanfaat,

Donald Sendow

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 4 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 6 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 7 jam lalu

Ijasah Bon A dan B Suatu Kenyataan di Era …

Abebah Adi | 7 jam lalu

Hati-Hati, Ini 3 Modus Penipuan Gaya Baru …

Dian Halle Wallahe | 7 jam lalu

Peduli Pelanggan? Mutlak Penting Bagi Pelaku …

Uli Arta Simanjunta... | 7 jam lalu

Lamaran Pekerjaan Ditolak? Apa yang Salah? …

Marlistya Citraning... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: