Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Andika

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Salah Obat Dokter, Siapa Tanggung Jawab?

REP | 03 November 2011 | 04:45 Dibaca: 670   Komentar: 9   0

13202954241844189554

salah makan obat resep dokter di malaysia - foto dok utusan malaysia 2010

Pagi tadi saya berobat ke klinik umum, karena beberapa hari ini mata kiri gatal gatal dan agak bengkak sedikit, mungkin bintitan kata kebanyakan orang,

baru tadi pagi saya sempat ke dokter. Dokter yang perempuan itu tanya sudah berapa hari seperti ini. Saya katakan kurang lebihnya tiga hari, saya memang belum sempat kedokter karena seperti biasa saya tunggu dulu melihat apakah gatal gatal di sekitar mata kiri itu perlu kedokter atau tidak.

Karena gatal gatal disekitar mata kiri itu  tidak berhenti saya cek ke dokter.  Hasil pemeriksan dokter dijelaskan ada virus yang perlu diobati dan perlu makan obat anti biotik yang harus dihabiskan. Obat salepnya dioleskan malam saja ya pak, sebelum tidur jelas dokter, obat lainya yang dua macam termasuk anti biotik diminum sampai habis.

Saya ambil obat di apotik klinik itu, ……….tidak lama obat sudah siap. Seperti biasa saya selalu tanya tanya soal obat yang diberikan, ini obat apa dan dimakan kapan, hanya untuk meyakinkan, karena sering ada petugas apotik yang dengan senang hati menjelaskan kepada si-pengambil obat, tetapi banyak juga yang hanya diberikan begitu saja tanpa penjelasan apa apa.

Obat yang ini untuk sakit mata dan yang ini anti biotik  diminum sampai habis, dijelaskannya stelah ditanya. Kalau yang ini salep ya?…..saya tanya karena tampak obat tetes mata. Bukan pak ini obat tetes mata………..benar obat tetes mata diberikan dokter saya tanya?……..ya pak benar jelasnya…ini resep dokternya. Ya sudah saya bawa obat itu……….cuma masih kepikiran juga…….jangan jangan obatnya salah …… karena dokter tadi pesan pakai salepnya malam saja sebelum tidur.

Sudah jauh  meninggalkan apotik, saya masih penasaran…kalau salah obat mau menyalahkan siapa?..………….paling tidak kita sendiri korbannya.

Pernah kejadian juga pada musim haji tahun 2010 lalu,  saya antar teman berobat demam, obat yang diberikan oleh poliklinik pelayanan haji di kota Mekah itu sesuai resep dokter.  Teman yang saya antar itu saya minta dia cek lagi apakah obat yang diberikan sudah benar. Masya Allah ternyata benar saja ada kesalahan, obat itu untuk pasien lain diberikan karena petugas apotik tidak bisa membaca dengan jelas nama pasien.

baca inihttp://luar-negeri.kompasiana.com/2011/02/09/hati-hati-salah-makan-obat-dokter/

Petugas apotik itu memberikan begitu obat ke teman saya yang sakit demam tanpa penjelasan,………stelah diperiksa ternyata selain salah bukan untuk teman saya karena namanya lain,  satu diantara obat itu kaplet berdosis 5000 ( lima ribu miligram ) yang seumur umur saya baru tahu jika ada obat 5000 mg.

Setelah obat itu dikembalikan, petugas apotik minta maaf …………alasannya tidak bisa jelas membaca tulisan dokter…………..sebegitunyakah………..bayangkan jika pasiennya ( maaf ) yang orang kampung tidak bisa membaca lancar, percaya saja kepada dokter dan petugas apotik itu, kemudina obat dengan dosis 5000 mg itu termakan olehnya.

Kemabali ke obat mata tadi, ……..saya kembali lagi e apotik, ………maaf mbak, coba cek sekali lagi apakah benar obat mata yang diberikan dokter obat tetes mata, bukannya salep?………….si mbak petugas apotik cek lagi ke resep yang diberikan dokter,……….. ya pak oabat tetes mata, …………tunggu saya ceknya lagi ke dokter ya pak……………….si mbak satunya lagi temannya langsung telpon dokter yang memberikan obat……...entah apa yang mereka bicarakan,…………….hasilnya, ternyata benar dokter memberikan salep bukan obat tetes mata.…………mbak petugas mencoret  salah satu tulisan resep dokter dan menuliskannya kembali……………kemudian memberikan salep mata.

Jika saja obat dokter yang salah berikan itu sempat digunaka pasien dan menyebabkan sesuatu penyakit lain yang mungkin saja membahayakan pasien karena soalan seperti tadi …………siapa yang paling bertanggung jawab atas hal ini?………………..bisa bantu?……………apakah ini masuk kategori mal praktek, terkadang hal hal macam beginian kurang diperdulikan dampaknya.

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: