Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Wandi Teaches

Mengelola Kursus bahasa Inggris dan Matematika, Sangat suka membaca dan menulis. Suka mengamati kehidupan sehari-hari selengkapnya

Menjaga Kesehatan

OPINI | 27 October 2011 | 15:01 Dibaca: 205   Komentar: 2   1

Saya kagum pada beberapa teman saya yang sangat tekun dan strict menjaga kesehatan tubuhnya.

Menghindari makan kacang agar jerawat di wajahnya tidak semakin merajalela. Gosok gigi sebelum tidur agar gusi dan gigi tetap sehat dan bersih. Cuci muka menggunakan facial foam agar wajah tetap bersih dan segar. Membatasi makan makanan berlemak untuk mencegah kolestrol. Rajin makan buah agar tubuh tetap sehat dan segar. Tidur lebih awal agar bangun lebih awal tentunya membuat tubuh lebih segar dan fit beraktifitas. Rutin mengikuti fitness agar stamina kuat tetap terjaga. Mengikuti olahraga badminton dan tenis meja secara rutin agar tumbuh tampil prima dalam aktifitas lainnya. Berusaha makan sebelum pukul 19.00 WIB setiap malamnya dengan alasan yang saya masih kurang pahami. Tidak mau lagi makan makanan berat jika sudah makan malam untuk menghindari overweigh. Dan seabrek kebiasaan baik lainnya.

Saya mengamati banyak teman-teman saya mampu melakukan kebiasaan tadi dengan sangat luarbiasa baik bahkan mendapatkan nilai A+ dari saya.

Selama 2 tahun yang lalu (2009-2010), setidaknya selama 100 hari setiap tahunnya saya selalu diganggu batuk yang sangat tidak berperikemanusiaan. Betapa tidak. Profesi saya sebagai seorang  pengajar sangat terganggu ketika menjelaskan materi pada siswa.

Untuk membantu mengatasinya saya sangat sering mengosumsi perment mint dan pedas. Walau tidak menyembuhkan setidaknya itu bisa membantu mengurangi tingkat frekuensi batuk saya.  Setidaknya ketika mengajar.

Saya salah total. Saya lelah memotong ranting dan cabang pohon. Memang berhasil mengurangi tingkat kerindangan pohon tersebut tapi tidak betul-betul mematikan pohon tersebut. Seharusnya saya mencabut pohon tersebut hingga ke akarnya sehingga tidak tumbuh lagi.

Seharusnya saya berusaha mencari akar masalah batuk saya tersebut. Tidak sebatas mengurangi tingkat keganasannya. Bukankah itu jauh lebih baik? Saya menyesal tidak bertindak tegas mengatasi masalah kesehatan.

Efek Samping yang Dahsyat

Konsekuensi terlalu sering mengonsumsi perment mint dan pedas adalah salah satu gigi saya jadi rapuh. Kemudian patah dan berlubang. Akhirnya sakit gigi yang dahsyat pun menghantui setiap hari. Saking kesalnya pada suatu dini hari saya menulis beberapa kalimat pelampiasan perasaan saya yang sedang sakit gigi. Saya berbicara pada gigi saya seolah-olah mereka mengerti apa yang sedang saya rasakan.

Saya sangat menyesal membuka jalan bagi kalian.

Saya tidak ada niat mengundang kalian singgah di kehidupan saya.

Kehadiran kalian benar-benar membuat saya tersiksa.

Saya sulit konsentrasi karena gangguan kalian.

Hampir setiap malam kalian menggangu saya.

Kalian benar-benar tidak bersahabat.

Perjuangan saya harus semakin gigih melawan setiap siasatmu.

Saya harus meneliti apa yang menjadi kesukaanmu.

Sekalipun itu kesukaan saya juga tapi saya akan tahan selera

demi mematikan kekuatan kalian.

Ingin rasanya mencabut rumah kalian.

Tapi tunggu waktu yang tepat.

Aduh! Mengapa engkau menggigit begitu keras.

Pengen rasanya berteriak kesakitan.

Tapi saya kuatir sekeliling saya akan terganggu.

Mereka tidur begitu nyenyak.

Saya cemburu tapi saya tidak ingin menggangu mereka.

Saya ingin belajar.

Please dech! Tolong jangan ganggu saya lagi.

Saya tidak ingin tidur sebelum saya membaca.

Tapi hadir mu di malam yang sunyi senyap ini benar-benar menyita perhatianku.

Jika ketemu penakhlukmu nanti saya akan minta dia mencabut rumahmu.

Enyahlah dari dekatku! Menjauhlah engkau penggangu hidupku!

Saya akan berjuang melakukan beragam cara untuk memunahkanmu dari hidupku.

Goodbye!

Setelah mengalami betapa sakitnya sakit gigi saya mulai ditegur untuk menghargai kesehatan. Dan ketika sehat-sehat saja saya harus akui bahwa saya juga termasuk orang yang kurang bersyukur atas kesehatan yang Tuhan berikan. Dan ketika sakit gigi saat ini saya semakin menyadari bahwa saya juga telah berdosa ketika tidak serius menjaga kesehatan.

Sakit gigi nampaknya sepele. Tapi bagi saya penyakit ini adalah salah satu penyakit yang sangat menyakitkan. Suatu ketika, ketika sakit gigi saya kumat, saya masih sempatkan berseloroh pada istri saya. “Kayaknya sakit gigi lebih sakit dari melahirkan ya?”. Parahnya lagi, sakit gigi adalah sebuah penyakit yang sangat menyakitkan tanpa ada orang yang berniat untuk mengunjungi Anda. Kasihan kan?

Above all, mulai saat ini saya akan belajar untuk mengikuti kebiasaan orang-orang yang saya sampaikan tadi perihal bagaimana memelihara kesehatan.

Therefore, Jagalah kesehatan GIGI anda sebelum gigi Anda menjadi SETERU KEJAM bagi Anda!

www.wanditambunan.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 9 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 10 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 11 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: