Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Lina_achien

berusaha mengisi hidup dengan hal-hal yang bermanfaat

Cuci Darah, Mengapa Harus Takut?

OPINI | 11 July 2011 | 20:12 Dibaca: 6102   Komentar: 4   0

Cuci darah ( hemodialisa) sering jadi momok yang menakutkan bagi pasien. Banyak pasien yang seharusnya menjalani cuci darah, tapi menolak. Cuci darah merupakan satu tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien penderita gagal ginjal.

Nampaknya ada beberapa hal yang menyebabkab orang takut cuci darah:

  1. Ketidaktahuan  seperti apa prosedur cuci darah. Mendengar namanya saja sudah seram, “cuci darah”
  2. Menganggap orang yang cuci darah umurnya tidak panjang.
  3. Masalah biaya. Cuci darah memang cukup mahal. Dan umumnya pasien gagal ginjal kronik akan membutuhkan cuci darah sepanjang hidupnya. Bahkan frekwensinya bisa rutin 2x seminggu dengan biaya 1x sekitar 700 ribu. Bayangkan kalau 1 bulan, 1 tahun, berapa biayanya.

Ketidaktahuan pasien bagaimana proses cuci darah ini biasanya bisa di atasi dengan menyuruh pasien/keluarganya melihat langsung ke ruangan Hemodialisa. Pasien-pasien yang sedang cuci darah, sama seperti pasien lainnya, dapat tidur santai, ngobrol-ngobrol dengan pasien lain, nonton TV, internetan dan sebagainya sambil darahnya di cuci. Prosedurnya tidak se seram yang di bayangkan. Mungkin namanya perlu diganti ya, cukup di sebut hemodialisa saja biar pasien tidak takut mendengarnya.

Pasien cuci darah umurnya tidak panjang? Soal umur kita tidak bisa ikut campur. Itu sudah ketetapanNya. Dokter ataupun tindakan medis bukanlah untuk memperpanjang hidup pasien. Namun hanya membantu (dengan se izin Allah) meringankan keluhan-keluhan. Kalaupun pasien memang sudah datang ajalnya, diharapkan meninggalnya dengan berkualitas, tidak dalam kondisi sakit yang tak tertahankan. Secara statistik, angka harapan hidup penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah jauh lebih tinggi dibanding tanpa cuci darah. Memang ada orang yang baru beberapa kali cuci darah, sudah meninggal. Atau 1 tahun cuci darah meninggal. Tapi banyak yang sudah bertahun-tahun bahkan lebih dari 20 tahun rutin cuci darah, kondisinya masih fit dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Masalah biaya. Kalau ini yang dipermasalahkan pasien, kita memang tidak bisa ikut campur. Biayanya memang mahal. Untuk kalangan menengah ke bawah ini memang sangat sulit. Yang sangat disayangkan adalah orang-orang yang mempunyai jaminan asuransi kesehatan (askes, jamkesmas, dan sebagainya) yang bisa menanggung biaya cuci darah, tapi menolak untuk cuci darah. Rugi sekali jika tidak menggunakan peluang dan fasilitas ini.

Semoga ini jadi bahan renungan untuk kita yang mempunyai keluarga, kerabat ataupun sahabat yang menderita gagal ginjal. Gagal ginjal bukanlah akhir dari segalanya.

Salam semangat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: