Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Rizky Perdana

Internist-Infectious Disease Consultant, Fellow Indonesian Society of Internal Medicine (FINASIM), Infection Preventive Controller Officer (IPCO)

Bakteri Resisten Antibiotika dalam Daging

OPINI | 06 July 2011 | 06:54 Dibaca: 783   Komentar: 12   2

1309935100824236000

Ada laporan dari luar negeri tentang daging yang dijual di toko bahan makanan, ternyata mengandung bakteri yang sudah resisten dengan obat antibiotika. Bakteri itu adalah Staphylococcus aureus . Peneliti tersebut telah menemukan bahwa setengah dari bakteri tersebut telah resisten terhadap beberapa tipe antibiotika. Saya tidak tahu apakah di Indonesia sudah dilakukan penelitian terhadap sampel daging yang di jual di toko bahan makanan juga mengandung bakteri yang sudah resisten dengan antibotika atau tidak.

Studi tersebut menyatakan, daging yang dijual masih aman untuk dikonsumsi namun konsumen harus hati hati dalam proses pengolahan terutama dalam memasak bahan hewani tersebut.

Riset dilakukan oleh Translational Genomics Research Institute (TGRI) yang berbasis di Arizona dengan menguji 136 sampel daging dari 26 toko daging di Illinois, Florida, California,Arizona, dan Washington DC.

Kepala riset Dr. Lance Price mengatakan bakteri Staphylococcus aureus (S. Aures) ditemukan dalam level yang cukup tinggi. Price mengatakan bakteri S. Aures menyebabkan berbagai infeksi di Amerika setiap tahunnya yang menimbulkan kematian lebih tinggi dari HIV. Infeksi bervariasi mulai dari kulit hingga infeksi pernafasan seperti pneumonia.

FDA telah mencermati hasil penelitian ini juga studi-studi lain terkait dan telah bekerja sama dengan dengan US Agriculture Departement and Centers for Disease Control and Prevention mengenai penyebab dan efeknya.

Price mengatakan penemuan penting dari studi tersebut bukanlah kadar bakteri dalam daging, melainkan bagaimana jasad renik tersebut semakin resisten terhadap antibiotik yang digunakan oleh petani dalam memelihara ternaknya.

Studi menemukan bahwa 96% daging yang ditemukan mengandung bakteri, bakteri tersebut telah resisten paling tidak terhadap satu jenis antibiotik dan 52% resisten terhadap tiga (MDR,Multipel Drug Resistant)atau lebih banyak antibiotik (PanResistant).

Menurut Price, resistensi menjadi alasan untuk menangani daging mentah dan hasil peternakan yang masuk ke dapur. “Bakteri dapat di usir dengan dimasak, namun masalahnya ketika bahan mentah dibawa ke dapur akan terkontaminasi dengan bakteri”.

Mencuci tangan (hand hygiene) dan tempat yang terkena sebelum dan mengolah daging mentah (Disinfectants) dan menjauhkan dari makanan lain merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran bakteri.

Dari berbagai jenis daging yang mengandung bakteri resisten antibiotik seperti kalkun, babi, sapi dan ayam.

Dampaknya pada komunitas manusia adalah meningkatnya insiden penyakit infeksi yang diakibatkan ulah bakteri resisten antibiotik tersebut. Misalnya penyakit Infeksi MRSA (Methicilin Resistant Staphylococcus aureus) terutama tipe CA-MRSA atau Community Acquired-MRSA. Contoh penyakit CA-MRSA itu yang sering kita ketemukan baik di komunitas maupun hospital adalah CAP (Community Acquired Pneumonia), Endocarditis MRSA dan SSTI (Skin nad Soft Tissue Infections). Komplikasi MRSA itu sendiri adalah bakteremia yang dapat menyebabkan keracunan kuman (Sepsis). Angka kematian dari Sepsis itu sendiri 50% bila tidak cepat diberikan pertolongan. Sedangkan pertolongan yang harus segera diberikan pada sepsis adalah pemberian antibiotika secepat mungkin. Namun masalahnya adalah bahwa hampir semua antibiotika sudah mengalami resistensi terhadap mikroba Staphylococcus aureus.

Kembali pada masalah daging yang mengandung mikroba Staphylococcus aureus yang sudah mengalami resisten dengan hampir semua antibiotika, tidak bisa diremehkan. Suatu saat apabila kita biarkan saja bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita akan mengalami Kasus Endemi atau mewabahnya MRSA di Indonesia seperti mewabahnya bakteri E. Coli di jerman yang telah menyebabkan 60 orang yang meninggal.

Melalui tulisan ini saya mengetuk Tim Riset IPB yang telah menemukan bakteri Enterobacter Sakazaki pada beberapa produk susu, juga diharapkan dapat melakukan penelitian terhadap sampel daging yang beredar maupun yang belum beredar apakah ada bakteri yang mengandung Staphylococcus aureus dalam daging tersebut tentunya di Indonesia (?)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 3 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 3 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 5 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 7 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: