Back to Kompasiana
Artikel

Medis

Fandi Sido

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido

Air Ber-oksigen Tak Berdampak pada Kebugaran

REP | 12 April 2011 | 13:37 Dibaca: 1799   Komentar: 13   3

Ilustrasi (buzberry.com)

Ilustrasi (buzberry.com)

Semakin banyaknya produk air kemasan botol dengan metode menggunakan klaim kelebihan air beroksigen dibandingkan dengan air mineral biasa nampaknya mengalami masalah klarifikasi bidang fisiologi. Pada 2010 lalu, beberapa ahli kesehatan menerbitkan hasil penelitiannya yang mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kandungan air yang berisi oksigen dibandingkan dengan air biasa, terutama terkait dampaknya bagi kebugaran peminumnya.

Dr. Howard G. Knuttgen, Ph.D., seorang profesor Kinesiologi dari Pennsylvania State University menggambarkan “air beroksigen” sebagai tipuan murni tanpa landasan ilmu fisiologi sama sekali.

“Sebagian besar oksigen dalam air akan terlepas ke atmosfer ketika Anda membuka tutup botol. Oksigen tambahan akan diserap ke dalam sel-sel di dinding usus. Semua ini akan terjadi sebelum oksigen sampai ke darah, bahkan belum menyentuh otot.” kata Knuttgen seperti ditulis thefactsaboutfitness.com.

Sebelas orang dewasa (umur antara 20-35) diminta untuk melakukan latihan dengan sepeda statis pada dua hari tertentu yang berjarak waktu 3 hari. Lima menit sebelum latihan, mereka diminta meminum salah satu, air oksigen atau air biasa. Berdasarkan instrumen pengukuran tertentu, tidak ditunjukkan perbedaan kualitas latihan antara orang-orang yang meminum air beroksigen dengan yang meminum air biasa.

Jurnal penelitian tersebut menulis:

“Udara adalah 20,9 oksigen, dan seorang manusia normal dalam satu tarikan napas yang menyerap sekitar 500 mL, sekitar 100 mL adalah oksigen. Jadi, setiap hirupan udara melalui satu tarikan napas mengandung lebih banyak oksigen daripada sebotol air beroksigen. Misalkan hemoglobin sudah mengikat oksigen bahkan saat bernapas, dan hanya sebagian kecil dari oksigen tersebut menyebar ke bagian plasma, jadi tidak mengejutkan jika air beroksigen tidak meningkatkan kinerja tubuh.”

Para peneliti di University of Wiscounsin melaporkan hasil yang hampir sama.

Dua belas mahasiswa diminta untuk meminum sekitar 500 mL “super-oxygenated water” Aqua Rush atau air biasa. Mereka kemudian diminta untuk melakukan latihan di atas treadmill selama beberapa waktu tertentu. Hasilnya sama, yaitu tidak nampak perbedaan gejala-gejala kebugaran tubuh mereka saat sedang latihan, atau saat beristirahat setelahnya.

“Sekali dikonsumsi, air diserap ke dalam aliran darah melewati saluran usus. Besar kemungkinan bahwa sel-sel pada usus tersebut menggunakan oksigen tambahan.” kata penulis hasil riset tersebut. “Bahkan jika oksegen diserap, maka diserapnya mengarah ke darah di pembuluh vena, di mana dari sana akan kembali ke paru-paru guna siklus pernapasan, bukan ke otot-otot aktif.”

Berbagai penelitian tersebut mengungkapkan satu kesimpulan yang sama, bahwa oksigen utama dalam produk air beroksigen sejatinya sudah terlepas ke udara saat tutup kemasan dibuka oleh konsumen. Singkatnya, sangat kecil (kalaupun ada) bukti yang relevan bisa menunjukkan bahwa air beroksigen memberikan pengaruh signifikan terhadap kebugaran peminumnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Beda Banget Nasib Rinni dan Aris …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: